image0214 Saya lahir di Cirebon, 22 Maret 1979.  Setelah akil-baligh, saya meninggalkan kampung halaman (1996), Mulyasari Losari Cireon, saya menuju Yogyakarta, tepatnya di Pondok Pesantren Krapyak, untuk ngangsu kaweruh. Di sana saya hanya bisa menyelesaikan pendidikan menengah atas (Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan), tahun 2000. Sebelum ke Krapyak, sempat juga saya mencicipi Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso Mojo Kediri. Hanya dua bulan saya di sana.

Dari Krapyak saya loncat ke Pondok Pesntren Nurul Ummah Kotagede, kira-kira 8 km ke timur dari Krpayak. Dari sana juga saya bolak-balik ke Kotagede-Sapen untuk kuliah di Fak. Syari’ah IAIN Sukijo. Saya lulus dari Madrasah Diniyah Nurul Ummah tahun 2004. Di sela-sela saya ngaji dan kuliah, saya aktif di Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta, kira-kira antara tahun 2000-2006, kalau aktif tercatat sebagai staf tahun 2003. Sebelum menyelesaikan kuliah (2007), akhir 2006 saya meluncur ke Jakarta, saya nyantri di PP Lakpesdam NU. Hingga hari ini saya masih di lembaga yang berdiri setahun setelah Gus Dur terpilih menjadi ketua PBNU di Situbondo, 1984.

Saya tergolong orang yang meminati banyak hal: ngaji, ngobrol, tongkrong, movies, menulis, art, traveling, sport, dll. Saking banyaknya minat yang pernah saya hadapi, sampai sekarang saya belum bisa fokus pada sesuatu hal, termasuk kepada seseorang.

Tentang Nama dan Diri

Nama. Sebetulnya nama saya hanya Hamzah. Nama Sahal yang ada dibelakang adalah nama ayah. Saya melekatkannya setelah ia meninggal (Ramadhan, 1995). Sebetulnya saya juga ingin membubuhi nama ibu saya, Jamroh (menuju ke Rahmatullah pada Ramadhan, 2000), tapi terasa tidak lazim. Jadi, nama itu cukup saya patri di hati, biar tetap suci juga.

Diri. Tentang saya, ada teman yang berkomentar, “Hamzah itu tukang perang.” Dia beralasan, “Baca saja sejarah sahabat Nabi, di sana Kau akan menemui Hamzah, yang juga paman Nabi SAW, selalu menenteng pedang kemana pun dia pergi. Bahkan saking doyannya berperang, dia dijuluki Singa Padang Pasir.”

“Tapi tidak,” kata temanku yang lain, “Hamzah itu intelektual dan Penulis atau setidak-tidaknya bercita-cita menjadi intelektual dan penulis. kan nama belakangnya Sahal. Jangan lupa, Sahal bin Abdullah at-Tustury itu penulis tafsir sufi yang fenomenal.”

Bulu kuduk saya berdiri mendengar perdebatan nonfiksi dari dua senior di salah satu pojok di Jogjakarta pada sore hari. Kerap sekali saya memikirkan perdebatan dua temanku yang sekarang tak saling menyapa itu. Saya terpancing. Pikiran saya hanya terbelah enjadi dua, “Tukang perang atau tukang memikirkan tuhan?” dari perdebatan itu, saya merasa rahmat tuhan cadi menciut. “Saya harus melampaui perdebatab dikotomis seperti itu,” pikirku pada suatu hari.

Hasilnya, pada suatu hari saya memberontak, “Kawan, terima kasih telah peduli mendiskusikanku. Tapi tak usahlah jauh-jauh, jadi pusing kepalaku. Pikirkanlah juga diri Kalian sendiri, kenapa sekarang tidak lagi bertegur sapah secara utuh dan sungguh-sungguh!”[]