Jakarta, NU Online

KH Shihab Ahmad Syakir dari Lasem Rembang, Jawa Tengah, mengatakan kitab al-Hikam itu kitab orang tua. “Istilae wong niku, al-Hikam niku kitabe wong tuo,” ujar Gus Shihab, panggilan cucu KH Ma’shum Lasem, di Jakarta belum lama ini.

Sebutan al-Hikam sebagai kitab orang tua dimaksudkan untuk mengatakan, kitab tersebut diperuntukkan pada orang-orang yang sudah tinggi ilmunya dan terjaga tingkah lakunya.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Jakarta, NU Online

Al-marhum KH Abdurahman Wahid, dalam sebuah kesempatan acara bernama Kongkow Bareng Gus Dur di Utan Kayu-Jakarta, membantah bahwa Nahdlatul Ulama itu memiliki tradisi liberal. Istilah Nahdlah, kata Gus Dur, pada nama Nahdlatul Ulama tidak berhubungan dengan gerakan liberal di Timur Tengah.

“Nahdlah pada nama Nahdlatul Ulama terilhami sebuah kalimat dari kitab al-Hikam,” begitu kira-kira keterangan Gus Dur.

Baca entri selengkapnya »

NATA NAWA KHAIRANY hampir berusia enam bulan. Ngocehnya makin sering dan suaranya kenceng. Ia sedang semangat-semangatnya memasukkan semua benda ke mulutnya yang belum bergigi itu. Boneka atau jari-jari menjadi langganan untuk diklamodi, bahkan kakinya pun tak luput, dijejalkan pula ke mulutnya.

Senyum-senyum Nawa bikin gemas kami semua. Sehingga seisi rumah atau guru-guru TK di sebelah rumah selalu berupaya bikin ia tersenyum.

“Brrrrrrr…Brrrrrr…pek-epek-epek” itu cara eyang kungnya agar cucu pertamanya merespon dengan senyuman.

“Nawa, halo Nawa. Assalamu ‘laikum Nawa, Selamat pagi Nawa” begitu kami biasa memanggilnya, tapi ia belum bisa nengok. Belum nyadar bahwa Nawa namanya. Ia sudah bisa duduk, kalau didudukkan, itu pun masih sempoyongan. Keahlian yang sering ia pertontonkan (dengan tidak sadar) pada orang-orang di sekitarnya hanya tengkurap, dan ngoceh.

Rambut, berat badan, panjang kaki, tatapan mata, respon pada suara dan gerak, semuanya menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan.

Baca entri selengkapnya »

Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga santri. Lingkungan dan komunitas tempat saya tinggal juga santri. Saya menempuh pendidikan dasar di sekolah yang semua murid dan gurunya bertradisi santri, dan nama sekolahnya saja berbahasa Arab, namanya Madrasah Ibtidaiyah As-Suniyyah. Otomatis, sebagian besar mata pelajaran berisi tentang Islam.

Masih banyak lagi contoh identitas kultural bahwa saya adalah bagian dari kerumunan, komunitas, atau jama’ah santri. Identitas-identitas kesantrian itu menempel dan menandai saya dengan amat kuat, dari kulit hingga otak, dari yang sadar hingga bawah sadar. Kehidupan sosial-budaya di desa saya nyaris mutlak homogen, 100% penduduk desa santri, teman bermain santri, warung-warung santri, semuanya Islam. Islamnya, Islam santri. Santrinya, santri yang tradisinya berkiblat pada Nahdlatul Ulama.

Baca entri selengkapnya »

KH. A. Wahid Hasyim di koran Asia Raya (11 Mei 1945) melontar pertanyaan, “Bagaimana caranya menempatkan agama di Indonesia merdeka, dengan tidak mengendorkan persatuan bangsa yang sangat dibutuhkan di waktu ini?”

hati saya selalu girang bila ada kawan yang bertanya, “siapa nama pendampingmu?” makin girang hatiku bila ada pertanyaan lanjutan semisal, “di mana atau bagaimana kamu ketemu dengan dia?” tapi, pertanyaan yang saya tunggu-tunggu adalah, “kenapa kamu selalu menyebut istrimu dengan nama, tidak dengan ‘istriku’ seperti yang sudah dilakukan kebanyakan orang, dan menjadi tradisi?”

hingga kini, pertanyaan itu tidak muncul. kebanyakan orang, sudah lumrah, dan sudah menjadi tradisi, menyebut perempuan atau lelaki yang sudah menjadi suami atau istri dengan sebutan “kepemilikan”; “istriku”, “suamiku”. tidak menyebut namanya.

Baca entri selengkapnya »

“Silahkan duduk, di luar atau di dalam, terserah. Kita nunggu supir.”

Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Pak Said sambil membuka pintu. Dia yang masih bersarung, kaos lengan pendek dan kopyah putih, lantas masuk ke dalam. Langkahnya tidak bunyi. Sementara saya mengambil duduk di ruang tamu.

Hari itu, Rabu, 9-9-2009, Jakarta tidak begitu panas. Awan tipis memayungi kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Cuaca seperti ini yang ditunggu umat Islam yang sedang berpuasa. Tapi jalanan Jakarta tetap dengan kekhasannya, macet, berasap, dan bising. Taksi yang saya tumpangi dari kawasan Tebet menuju Mampang Prapatan, yang berjarak tidak lebih dari dua kilo meter, membutuhkan waktu dua puluh menit. Padahal cuma melewati satu lampu merah, di persilangan Tugu Pancoran.

Baca entri selengkapnya »

Minggu, 14 Juni 2009

Konflik pada dasarnya adalah sesuatu yang normal dan manusiawi. Konflik akan selalu ada di mana manusia memijakkan kakinya. Tugas kita adalah bagaimana caranya agar konflik itu tidak berubah menjadi gerakan yang destruktif yang mengacaukan sistem sosial. Karena sekali konflik tidak bisa dikelola dengan baik, maka selama itu pula tatanan sosial di masyarakat akan terganggu dan bahkan terguncang. Hamzah Sahal (HS), kontributor http://www.pondokpesantren.net mewawancarai KH. Dian Nafi’ (DN) pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan Makamhaji Sukoharjo untuk mengkaji persoalan konflik dan posisi umat Islam secara lebih mendalam.

HS: Kiai, Anda dikenal luas sebagai “Kiai Juru Damai”. Bagaimana ceritanya?

DN: Si Mbah Kiai Umar (Pendiri PP Al-Muayyad, Mangkuyudan Laweyan Surakarta, dan juga Paman dari KH. Dian Nafi’) adalah sosok yang memberi kepada saya banyak inspirasi. Pada akhir 80-an, almarhum Pak Fahmi D. Saifuddin pernah bercerita, ketika saya menjadi peserta pendidikan kader ulama NU yang dilaksanakan PP Lakpesdam NU, kepada saya dawuh kiai Umar tentang pentingnya arti mensyukuri anugerah kemerdekaan.

Baca entri selengkapnya »

Adalah selembar kaos oblong putih yang mengenalkan saya dengan Guru Gus Dur, atau KH. Abdurrahman Wahid, atau nama kecilnya Abdurahman Ad-Dakhil, yang berarti Abdurahman Sang Penakluk. Pada punggung kaos oblong itu ada tulisan merah yang mencolok: ABG. Di bawah tiga huruf tersebut ada kalimat berbunyi ‘Asal Bersama Gus Dur’.

Kaos tersebut adalah buah tangan paman saya dari Muktamar NU di Tasikmalaya, 1994. Pada waktu itu saya kelas dua SMP. Saya belum paham betul apa konteks ‘ABG’ terseut. Tapi saya merasa bangga memakainya, sama bangganya tatkala saya mengenakan kaos kesebelan Brazil bertuliskan Bebeto.

Baca entri selengkapnya »

Jumat, 8 Januari 2010 12:03

Jakarta, NU Online
Bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), 2009 adalah ‘amul huzni atau tahun kesedihan. Pada tahun itu NU kehilangan dua tokohnya, H M. Said Budairy dan KH Abdurahman Wahid. Said Budairy wafat pada 30 Nopember 2009. Sementara tidak lama berselang Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009.

Demikian dikatakan aktivis PP Lakpesdam NU Hamzah Sahal dalam peringatan empat puluh hari H M. Said Budairy di Wiswa Syahidah, komplek Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (7/1) tadi malam.

Baca entri selengkapnya »