You are currently browsing the category archive for the ‘Uncategorized’ category.

SUDAH menjadi kelaziman, tiap akhir tahun, pemerintah dari semua level dan semua departemen atau kementerian menurunkan iklan atau semacam laporan . Iklan tersebut dipasang di jalanan melalui baliho, koran atau majalah, media elektronik, hingga seminar-seminar.

Akhir tahun kali ini, saya tertarik dengan iklan Kementerian Agama RI yang diturunkan, paling tidak, di sebuah majalah terbitan Jakarta, minggu ketiga November. Iklan mereka berbentuk dua judul tulisan dilengkapi dengan dua buah foto. Dalam kesempatan ini, saya ingin memberikan catatan pendek untuk iklan kementerian yang menterinya berasal dari partai politik itu.

Baca entri selengkapnya »

Jakarta, NU Online

Rois Syuriah PBNU KH Abdul Muchit Muzadi menilai Rancangan Undang-Undang (RUU) Kerukunan Umat Beragama (KUB) sangat riskan karena menyiratkan intervensi negara terhadap sebuah kehidupan agama.

“Intervensi itu sangat dikhawatirkan, karena akan memicu munculnya persoalan baru ketika negara harus melakukan intervensi yang mengakibatkan kehidupan beragama menjadi kerdil,” katanya di Jember, Jumat.

Baca entri selengkapnya »

Kediri, NU Online

mbah kozinMushola itu kecil. Untuk sembahyang, mushola bercat putih itu tak bisa menampung lebih dari 50 orang. Lokasinya di kompleks Pesantren  Mahir ar-Riyadh, kampung Ringin Agung, Kencong-Kediri, Jawa Timur.

Tapi, di mushola kecil itulah, tinggal seorang kiai berumur 80 tahun. Kiai itu sehat, jelas bicaranya, dan pendengarannya masih bisa menangkap suara dengan baik. “Khozin, KH M. Khozin,” namanya, biasa dipanggila Mbah Khozin.

Ia melakukan aktivitas sehari-harinya di mushola: sembahyang, tidur, ngaji, wiridan, bersantai hingga terima tamu. Dikatakan para santrinya, di mushola itu pula Mbah Khozin bersholawat 25.000 kali sehari.

Rumah Mbah Khozin yang persis ada di samping mushola, hanya digunakan untuk ganti baju, makan, bertemu istrinya dan 4 anaknya. Mobil Nissan Cedric keluaran tahun 2000 pun jarang disentuh.  “Jarang sekali beliau keluar. Mobilnya ndak pindah-pindah, di sebelah utara rumah,” kata Zainul Abidin, santri Pesantren Mahir ar-Riyadh.

Ketika mushola sepi, Mbah Khozin hanya ditemani kitab-kitab yang menumpuk di atas meja. Sampul kitab-kitab itu lusuh dan pudar warnanya, tapi bersih, rapi, dan ada pulpen serta kertas oret-oretan.

Baca entri selengkapnya »

Rembang, NU Online

Selepas Taraweh, aula Pesantren Raudhotut Tholibin, Rembang, Jawa tengah, penuh. Ruangan-ruangan di sekitar aula juga dipadati para santri, termasuk di emperan dekat kamar mandi. Sebagian santri duduk di halaman pesantren beralaskan terpal atau sajadah. Serambi rumah almarhum KH Cholil Bisri juga dipenuhi para santri.

Malam itu, para santri sedang pengikuti ‘Pasaran’, istilah di pesantren untuk ngaji khusus di bulan Ramadhan. Mereka semua pegang kitab. Al-Hikam namanya.

Peserta pengajian bukan saja santri yang sehari-hari ngaji di situ, tapi juga orang umum yang datang dari luar pesantren, bahkan dari luar kota. Mereka datang dengan sepeda motor, ada juga sepeda ontel.

Baca entri selengkapnya »

Jakarta, NU Online

Al-marhum KH Abdurahman Wahid, dalam sebuah kesempatan acara bernama Kongkow Bareng Gus Dur di Utan Kayu-Jakarta, membantah bahwa Nahdlatul Ulama itu memiliki tradisi liberal. Istilah Nahdlah, kata Gus Dur, pada nama Nahdlatul Ulama tidak berhubungan dengan gerakan liberal di Timur Tengah.

“Nahdlah pada nama Nahdlatul Ulama terilhami sebuah kalimat dari kitab al-Hikam,” begitu kira-kira keterangan Gus Dur.

Baca entri selengkapnya »

NATA NAWA KHAIRANY hampir berusia enam bulan. Ngocehnya makin sering dan suaranya kenceng. Ia sedang semangat-semangatnya memasukkan semua benda ke mulutnya yang belum bergigi itu. Boneka atau jari-jari menjadi langganan untuk diklamodi, bahkan kakinya pun tak luput, dijejalkan pula ke mulutnya.

Senyum-senyum Nawa bikin gemas kami semua. Sehingga seisi rumah atau guru-guru TK di sebelah rumah selalu berupaya bikin ia tersenyum.

“Brrrrrrr…Brrrrrr…pek-epek-epek” itu cara eyang kungnya agar cucu pertamanya merespon dengan senyuman.

“Nawa, halo Nawa. Assalamu ‘laikum Nawa, Selamat pagi Nawa” begitu kami biasa memanggilnya, tapi ia belum bisa nengok. Belum nyadar bahwa Nawa namanya. Ia sudah bisa duduk, kalau didudukkan, itu pun masih sempoyongan. Keahlian yang sering ia pertontonkan (dengan tidak sadar) pada orang-orang di sekitarnya hanya tengkurap, dan ngoceh.

Rambut, berat badan, panjang kaki, tatapan mata, respon pada suara dan gerak, semuanya menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan.

Baca entri selengkapnya »

M. Said kecilDi lingkungan aktivis Nahdlatul Ulama (NU), H.M. Said Budairy bukanlah nama asing. Bersama Abdurahman Wahid, Fahmdi D. Saefuddin, Mahbub Djuanadi dan lain-lain, namanya populer sebagai salah seorang penggerak ‘Khittah NU 1926’ pada Muktamar NU di Situbondo, Jawa Timur, 1984.

Tapi sebetulnya, sebagai aktivis NU, nama H.M. Said Budairy sudah muncar sejak akhir tahun 1950-an. Ia ikut aktif mendirikan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Awal tahun 1960-an, ikut berjuang mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dan dialah orang yang mendesain lambang organisasi kemahasiswaan di lingkungan NU tersebut.

Senin, 30 Nopember 2009, saya dikabari bahwa pukul 11.05, hari itu, ia telah menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sebetulnya saya tidak begitu kaget dengan berita ini. Sebab, saya tahu sejak bulan Puasa kemarin, kesehatan Pak Said –begitu saya memanggilnya– mulai menurun. Wajahnya sudah tidak segar, bicaranya mulai pelan, dan gerakan tubuhnya mulai melambat.

Baca entri selengkapnya »

Saya tergelitik membaca artikel Saudara Saidiman berjudul Tasydid di rubrik Bahasa Tempo, edisi 8-14 September 2008. Dalam membaca tulisan Arab, tanda baca tasydid memang dibaca dengan tekanan tertentu, karena memang tasydid secara bahasa berarti keras atau berat. Misalkan gabungan tiga huruf: hamzah, lam-alif: illa, yang menghasilkan makna “kecuali”. Lam pada tiga huruf tersebut di-tasydid. Hamzah yang dibaca kasroh, bertemu dengan lam tasydid yang dibaca fathah, serta alif yang mati, bila dibaca secara utuh menghasilkan bunyi double “L” (lam): illa. Double “L” tersebut dibaca dengan cara menjejakkan lidah pada bagian langit-langit mulut, dan berhenti sejenak. Lam ber-tasydid dalam Ilmu Tawjid disebut idhgham bi la ghunna. Contoh, wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin, kami tidak mengutusmu kecuali untuk sekalian alam.

Bandingkan dengan membaca gabungan dari hamzah, lam dan ya bengkok: ila, yang dalam bahasa Indonesia menghasilkan arti “ke”. Lam di sini dilafadkan biasa saja, lidahnya memenang menyentuh langit-langit mulut, tapi hanya lewat (tanpa berhenti) dan tidak dijejakkan. Contoh, ana adzhabu ila al-madrasah, saya sedang/akan pergi ke sekolah.

Baca entri selengkapnya »

www.nu.or.id

Senin, 26 November 2007 10:33

Jakarta, NU Online
Seminar Nasional tentang implementasi syariat Islam di Indonesia yang diselenggarakan oleh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di Jakarta, Ahad (25/11) tadi malam berlangsung menegangkan. Para anggota MMI berteriak “Allahu akbar” dan tidak segan-segan menghentikan pembicaraan peserta seminar jika dianggap tidak sesuai.

Seminar itu diadakan oleh Lajnah Pimpinan Wilayah MMI DKI Jakarta dan lembaga kajian Islam Al Manar dan dihadiri langsung oleh pemimpin utama MMI Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Pembicara lainnya yang diundang adalah Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj (Kang Said).

Seminar bertajuk “Implementasi Nilai Syari’at Islam dalam masyarakat dan Negara Menuju Indonesia yang Religius, Adil dan Sejahtera” itu sudah dibuka dengan suasana tegang. Moderator Hamzah Zahal baru mengucapkan beberapa kata langsung diintrupsi oleh para anggota MMI. Hamzah memberikan pengantar seputar perkembangan opini tentang Islam akhir-akhir ini, tentang dua topologi besar Islam yang muncul yakni liberalis dan fundamentalis.

Kontan moderator diintrupsi dan diminta untuk tidak ikut berbicara dalam seminar itu. “Itu pembagiannya orang kafir,” kata anggota MMI. Ismail Yusanto akhirnya mendapat giliran berbicara pertama setelah sebelumnya Abu Bakar Ba’asyir telah menyempaikan pemikirannya saat memberikan sambutan pengantar seminar.

Menurut Ba’asyir, mengamalkan syariat Islam harus didukung dengan kekuasaan, dalam hal ini kekuasaan pemerintahan Islam. Pluralisme, misalnya, kata Ba’asyir, baru bisa dipraktikkan secara adil dalam pemerintahan Islam.

“Jadi kesimpulan seminar ini adalah implementasi Islam dalam bangsa dan negara wajib hukumnya,” kata Ba’asyir saat membuka seminar. “Kalau tidak saya kuatir nanti kena hukum murtad,” katanya.

Senada dengan Abu Bajar Ba’asyir, Ismail Yusanto mengatakan, dakwah Islamiyah yang dilakukan selama ini kurang berhasil karena tidak ditopang oleh negara Isam. “Hanya dengan kekuasaan dan kekuatan dahwah Islam itu bisa berhasil,” katanya.
 
Dikatakannya, dakwah pada saat tertentu perlu dengan kekerasan dan kekuatan senjata. “Tergantung pada saat apa dan kepada siapa,” katanya.

Sementara itu Kang Said yang mendapat kesempatan berbicara terakhir menurunkan ketegangan dengan bercerita seputar cara dakwah Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Menurutnya, dakwah yang dilakukan dengan kekerasan selalu tidak berhasil.

“Wali Songo mengganti cara dakwah 180 derajat, tidak dengan kekerasan tapi bil hikmah wal mauidzatul hasanah wal mujadalah billati hiya ahsan. Akhirnya Islam dapat tersebar dengan baik,” kata Kang Said sembari bercerita dengan sangat apik tentang teknik para penyebar Islam lainnya di Indonesia.

Namun suasana di ruang pertemuan Hotel Accacia Jakarta itu kembali seperti semula ketika seorang penanya bernama Abu Jibril memprotes cara Kang Said menyampaikan materi. “Cerita Pak Said malah menidurkan kita, padahal Rasul tidak malah membikin kita tidur, tapi malah bangkit,” katanya disambut teriakan “Allahu akbar” dari para anggota MMI.

Suasana semakin menegang ketika peserta lainnya, Luthfi A Tamimi, direktur majalah Sabili, salah satu Majalah yang dikenal menyuarakan aspirasi kelompok Islam yang berdakwah dengan keras, meminta Ismail Yusanto secara tegas mengumumkan nama pemimpin utama atau khalifah yang menjadi memimpin pemerintahan Islam atau khilafah islamiyah yang dikampanyekan HTI.

“Kita tidak ada khalifah hanya amir,” kata Ismail dan langsung dibantah oleh Lutfi bahwa khalifah dan amir itu sama saja. Ia menyebutkan bahwa para khalifah diberi gelar amirul mukminin.

Para anggota MMI yang merasa rikuh meminta Lutfi untuk menghentikan pembicaraan. “Jangan ngotot!” kata anggota MMI sambil berdiri dan menodongkan telunjuk.

Diskusi diakhiri pada pukul 22.05 meski saat itu Kang Said belum selesai menjelaskan konsep jihad menurut NU. Moderator bergegas menutup seminar karena saat mencoba menyimpulkan bahwa ada pendapat yang berbeda, dia langsung diprotes anggota MMI. “Islam itu hanya satu,” kata mereka. (nam)

awalnya aku ingin mencatat
tentangmu
seperti zaid tsabit mencatat
kabar-kabar langit yang suci
tapi aku takut
aku takut kau menjadi sebongkah batu
seperti catatan zaid tabit

alas tebet, 8 desember 2006