You are currently browsing the category archive for the ‘ngeledek’ category.

“Kang, tolong pohon Kristen di samping masjid itu ditebang?” pinta Kiai Bakar pada seorang santri.

Santri yang disuruh bingung, tengok kanan tengok kiri. “Pohon Kristen? Apa maksudnya? Lagian itu pohon kesayangan Kiai Ahmad. Beliau sendiri yang nanem tiga tahun lalu,” gumam santri dalam hati.

Baca entri selengkapnya »

hati saya selalu girang bila ada kawan yang bertanya, “siapa nama pendampingmu?” makin girang hatiku bila ada pertanyaan lanjutan semisal, “di mana atau bagaimana kamu ketemu dengan dia?” tapi, pertanyaan yang saya tunggu-tunggu adalah, “kenapa kamu selalu menyebut istrimu dengan nama, tidak dengan ‘istriku’ seperti yang sudah dilakukan kebanyakan orang, dan menjadi tradisi?”

hingga kini, pertanyaan itu tidak muncul. kebanyakan orang, sudah lumrah, dan sudah menjadi tradisi, menyebut perempuan atau lelaki yang sudah menjadi suami atau istri dengan sebutan “kepemilikan”; “istriku”, “suamiku”. tidak menyebut namanya.

Baca entri selengkapnya »

Menanggapi kematian tujuh perambah hutan, diserang harimau,

Fitriani Ulinda -wartawan mingguan Medan Jambi-

berseloroh dengan tajam:

“Illegal logging di Jambi tidak bisa diberantas,

kecuali oleh harimau! Sederhana,

karena harimau tidak bisa disogok.”


sumatran-tiger

Guruku sewaktu SMP, guru kesenian yang nyentrik. Dan saking nyentriknya, kadang tampak kasar. Suatu siang, ia pernah memberi kabar tentang perbedaan manusia dan anjing kepada kami, 35 siswa-siswi kelas 2.

“Anak-anakku,” kata guruku di sela-sela pelajaran meniup harmonika, “Tahukah kalian apa salah satu perbedaan kita (manusia) dengan anjing?”

Baca entri selengkapnya »

ayyuhal haadiruunal kiram... ittaqullah..hatta tuqatih

ayyuhal haadiruunal kiram... ittaqullah..haqqa tuqatih

Ahmad :

“Berapa kali kau mendengarkan ceramah agama hari ini?”

Arif :

“Tujuh kali.”

Baca entri selengkapnya »

Dalam sebuah diskusi bertema kesetaraan jender, seorang perempuan muda yang feminis menyampaikan pendapatnya dengan berapi-api:

“Dalam semua wilayah, baik publik ataupun domestik, relasi laki-laki dengan perempuan punya hak yang sama untuk menjadi subyek. Dan kalau laki-laki serta pempuannya sadar gender, tidak ada istilah obyek dalam membangun relasi atau mitra. Termasuk di dalamnya relasi istri-suami.”

Baca entri selengkapnya »

Selepas ngaji, Ahmad dan Zaed tampak asyik ngborol di serambi masjid.

Ahmad: “Ente kok keningnya hitam she? Kenapa?”
Zaed: “Ini namanya atsarus sujud, Mat. Atsarus sujud bisa tampak kalo solatnya maksimal.”
Ahmad: “Maksdumu?”

Baca entri selengkapnya »

Diceritakan, ada tiga orang kiai menetap dalam satu desa di Jawa. Kiai Mahmud, Kiai Ahmad, dan Kiai Muhammad. Mereka masih saudara, tunggal buyut. Ketiganya memiliki pesantren yang letaknya tidak berjauhan. Meskipun saudara, dan sama-sama NU, ketiganya tampak bersaing dan tidak pernah sama berfatwa, baik fatwa agama, politik, dan kehidupan social lainnya. Pendeknya, mereka selalu berbeda satu dengan lainnya.

Baca entri selengkapnya »

Operasi pencangkokan hati Pak Dahlan Iskan, bos Jawa Pos, berhasil. Tetapi dalam masa penyembuhan ia sempat dihantui rasa was-was, meragukan apabila ia berdiri nanti, apakah hati barunya itu tidak akan jatuh? Apakah “las-lasan” organ baru itu ke tubuhnya cukup kuat ? Rasa kuatir itu ia sms-kan ke pelbagai sahabat.

Baca entri selengkapnya »

Akhun: “Hai, Bat, gimana kabarmu?”
Sahabat: “Baik. saya baru kemaren datang dari rumah.”
Akhun:“Oh ya? Gimana kabar bapakmu?”

Baca entri selengkapnya »