NATA NAWA KHAIRANY hampir berusia enam bulan. Ngocehnya makin sering dan suaranya kenceng. Ia sedang semangat-semangatnya memasukkan semua benda ke mulutnya yang belum bergigi itu. Boneka atau jari-jari menjadi langganan untuk diklamodi, bahkan kakinya pun tak luput, dijejalkan pula ke mulutnya.

Senyum-senyum Nawa bikin gemas kami semua. Sehingga seisi rumah atau guru-guru TK di sebelah rumah selalu berupaya bikin ia tersenyum.

“Brrrrrrr…Brrrrrr…pek-epek-epek” itu cara eyang kungnya agar cucu pertamanya merespon dengan senyuman.

“Nawa, halo Nawa. Assalamu ‘laikum Nawa, Selamat pagi Nawa” begitu kami biasa memanggilnya, tapi ia belum bisa nengok. Belum nyadar bahwa Nawa namanya. Ia sudah bisa duduk, kalau didudukkan, itu pun masih sempoyongan. Keahlian yang sering ia pertontonkan (dengan tidak sadar) pada orang-orang di sekitarnya hanya tengkurap, dan ngoceh.

Rambut, berat badan, panjang kaki, tatapan mata, respon pada suara dan gerak, semuanya menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan.

Kalau aku, atau siapa saja, mengangkat tangan sambil bertakbir, dia perhatikan. Pasti dia tidak paham maknanya, tapi kami senang Nawa memperhatikannya. Dia juga melihat gerakan mulutku jika baca al-Fatihah atau salawat, atau nyanyi cicak-cika di dinding.

Tanggal 16 bulan ini, Nawa ulang bulan yang keenam. Setelah menginjak enam bulan ini, ia akan makan selain ASI. Ia dan ibunya lulus menjalani ASI eksklusif. Ini tentu membahagiakan kami.

Sewaktu baru lahir, kami semua cemas karena ASI belum keluar hingga usia Nawa lewat 3×24 jam. Yumna kekeh menunggu hingga empat jam lagi (waktu subuh), sementara mertuaku sudah membelikan madu dan air zamzam, dan saya disuruh membujuk Yumna agar menyerah,tidak lagi nunggu ASI.

Malam terakhir batas menunggu ASI, aku mencoba merayu, sebelumnya sudah dirayu juga, dan suster-suster sudah menawarkan berkali-kali susu formula beberap saat setelah lahir. Mereka memang mau gampang, dan tentu saja karena dapat untung dari pabrik susu formula.

Pelan-pelan aku bicara, tapi belum selesai, dia langsung memotong rayuanku dengan menangis, ”Kalau Kamu berhenti mendukungku, aku tidak punya teman lagi.”

Dan, Maha Suci Allah, ASI keluar waktu jelang Subuh. Yumna gembira. Dia dan aku keluar airmata. Terharu. Nawa yang nangis diam, air matanya terhenti, karena susu yang sudah ditunggu itu keluar, setelah puasa tiga hari tiga malam, setelah bibirnya kering.

Alhamdulillah, sejak itu, ASI keluar lancar. Rasa syukur tak henti-henti diungkapkan, dengan selalu bercerita panjang lebar jika ada orang yang bertanya.

Setelah Yumna mulai kerja, Nawa pun minum ASI yang sudah distock di freezer. Begitu juga ketika Yumna pergi empat hari ke London akhir bulan lalu, Nawa selalu minum ASI. Dan selama pergi, tak ada yang dia ceritakan, kecuali ASI untuk Nawa. Sewaktu saya jemput dia di bandara, pesannya cuma satu, bawa es batu, untuk menjaga ASI agar tetap segar.

Kini, masa ASI EKSKULUSIF hampir selesai. Nawa akan mulai makan, tanggal 16 nanti. Rasanya kami sudah tidak sabar. Nawa sendiri mulai meraih-raih gelas atau krupuk yang aku pegang.

Setelah enam bulan, setelah Nawa mulai makan bubur, atau ngemut tempe, nyruput teh, atau merasakan sayur asem, kami sudah tidak khawatir dengan stock susu. Tapi kami masih sangat berharap, ASI masih keluar hingga usia Nawa dua tahun. Mohon doanya ya. Terima kash semua. I love you all…

Tambun-Bekasi, 12 Oktober 2011