Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga santri. Lingkungan dan komunitas tempat saya tinggal juga santri. Saya menempuh pendidikan dasar di sekolah yang semua murid dan gurunya bertradisi santri, dan nama sekolahnya saja berbahasa Arab, namanya Madrasah Ibtidaiyah As-Suniyyah. Otomatis, sebagian besar mata pelajaran berisi tentang Islam.

Masih banyak lagi contoh identitas kultural bahwa saya adalah bagian dari kerumunan, komunitas, atau jama’ah santri. Identitas-identitas kesantrian itu menempel dan menandai saya dengan amat kuat, dari kulit hingga otak, dari yang sadar hingga bawah sadar. Kehidupan sosial-budaya di desa saya nyaris mutlak homogen, 100% penduduk desa santri, teman bermain santri, warung-warung santri, semuanya Islam. Islamnya, Islam santri. Santrinya, santri yang tradisinya berkiblat pada Nahdlatul Ulama.

Situasi kultural macam itu, (mungkin) juga ideologis, hampir ‘tak tercampuri’ hingga saya memasuki masa akil balig. Perjumpaan saya dengan yang bukan santri, Tiong Hua misalnya, bukanlah berjumpaan yang sesungguhnya. Saya menjumpai mereka ketika ada transaksi ekonomi saja. Misalnya ketika beli pakaian, beli alat sekolah, beli bola. Selebihnya tidak.

Meski berjumpa, kami tidak saling mengenal. Otomatis, tidak ada keakraban, tidak ada rasa, tidak ada simpati, apalagi empati. Saya rasa, mereka, orang-orang Tiong Hua, juga mengalami hal yang sama.

Pengalaman saya ketemu mereka, hanyalah prasangka dan stereotipe. Dalam benak saya waktu itu, Tiong Hua adalah Kristen, makan babi, memlihara anjing, minum arak, lelakinya tidak sunat dan suka memakai kalung emas, tukang adu jago, pelit, pedagang, berjudi, celana pendek, bulu tangkis, kencing tidak cebok, dan lain-lain.

Ada gap di antara kami. Bahkan, situasi anarkhis kerap terjadi. Ada peristiwa-peristiwa yang masih saya ingat dengan baik. Misalnya, saya dan teman-teman suka melempari anjing-anjing mereka, meski berada di dalam pagar rumah. Peristiwa itu terjadi di malam hari, sepulang dari nonton bioskop atau dangdut. Atau ketika kami sedang bermain bola, lantas ada anjing lewat, kami, tanpa dikomando, membubarkan diri, lalu mengejar dan melempari anjing dengan batu.

Saya juga merasakan stereotip yang dilemparkan para orang dewasa kepada komunitas Tiong Hua. Misalnya, jika waktu Magrib datang, lalu saya masih bercelana pendek, pasti akan ada umpatan begini, “Kaya Cina saja, magrib-magrib belum pakai sarung!” Begitu juga ketika ada anak laki-laki yang tidak berani disunat, pasti akan langsung dengan komunitas Tiong Hua, atau ketika habis kencing tidak cebok.

Situasi macam inilah yang membuat orang mudah disulut, mudah disusupi untuk kepentingan-kepetingan orang yang tidak bertanggung jawab. Dan situasi macam inilah, yang membuat kerusuhan SARA pecah di Losari Cirebon pada Mei 1998.

Prasangka dan stereotipe, juga menjadi ‘kaca mata’ ketika saya memandang orang Islam yang tradisi keagamaannya lain dengan saya, yang santri Nahdlatul Ulama. Saya, ketika melihat ada orang sembahyang mengenakan celana –bukan sarung– dan tidak berkopyah, akan cepat menyangka orang tersebut Muhammadiyah. Atau ketika ada perempuan yang kerudungnya panjang menjutai hingga tangganya tertutupi, pasti akan dilabeli Muhammadiyah. Atau saya berpandangan, referensi agama orang Muhammadiyah adalah buku-buku berbahasa Indonesia, bukan kitab-kitab berbahasa Arab. Begitu pula perempuan yang tidak mau bersalaman dengan lali-laki, saya akan  mencapnya sebagai orang Muhammadiyah.

Sudah barang tentu, pengalaman saya di atas, bagi orang yang terbiasa dengan dinamika sosial-budaya yang heterogen, terasa janggal dan aneh. “Kok ada orang kaya begitu?” Pertanyaan sinikal macam itu mudah keluar dari orang-orang yang pengalaman sosialnya terbiasa dengan keberagaman.

Tapi begitulah fakta kehidupan saya, kehidupan yang homogen, kehidupan yang seragam, kehidupan yang menutup diri dengan fakta lain, bahwa ada aneka macam kehidupan di luar sana, di luar kehidupan pribadi dan kelompok.

Selepas dari sekolah dasar, saya melanjutkan pendidikannya di SMP umum, SMPN I Losari, Cirebon. Kaum santi di kampung saya, sekolah SMP umum, pada akhir 80-an hingga awal 90-an adalah sesuatu yang tidak lazim, untuk tidak mengatakan menyimpang. Sebab, di sana tidak akan ditemukan pelajaran Al-Qur’an dan Hadits, fikih, sejarah Islam, atau akhlak. Itu artinya, anak-anak sekolah di sana, akan distreotipekan sebagai kelompok yang tidak mengerti agama, atau dangkal pemahaman agamanya.

Di keluarga saya sendiri, hanya saya yang sekolah SMP, enam saudara kandung saya semuanya melanjutkan sekolah menengahnya di madrasah tsanawiyah, sekolah yang sarat dengan pelajaran agama. Keluarga mengizinkan saya sekolah di SMP bukan tanpa syarat.

“Kamu boleh sekolah di SMP. Tapi waktu ngajinya ditambah dua kali, setelah Isya dan setelah Subuh!” Begitu kira-kira kalimat yang sering dilontarkan keluarga saya begitu tahu anaknya bersikeras sekolah di SMP. Dan sejak itulah, sehari saya mengaji tiga kali, Magrib, Isya, dan Subuh.

Nah, di SMP umumlah saya bertemu dengan kultur yang berbeda. Pada mulanya canggung, aneh dan terasa asing. Misalnya, saya tidak habis mengerti, ada anak sudah akil balig kok tidak bisa baca Al-Qur’an. Atau ada rasa ogah-ogahan menjadi makmum kepada guru yang baca lafadz Allah saja tidak fasih. Di SMP-lah saya sekelas dengan komunitas Tiong Hua, atau Hoakiao, komunitas yang saya pandang sebelah mata.

Tapi, di SMP-lah, saya berjumpa dengan mereka. Betul-betul berjumpa, bukan saja kepentingan ekonomi. Perjumpaan, adalah momentum krusial bagi pribadi atau kelompok yang tertutup, seperti saya. Berjumpa dalam artian yang sesungguhnya, dibutuhkan keberanian. Orang-orang yang memiliki problem, akan repot diajak berjumpa.

Contoh kecil, orang atau kelompok yang berkonflik pasti susah untuk berjumpa. Atau seorang laki-laki dan perempuan yang tertutup, meski keduanya saling jatuh cinta, tidak gampang berjumpa. Mereka butuh keberanian. Kenapa?

Sebab, dalam berjumpa orang akan saling mengenal, ada dialog yang menuntut untuk saling memahami. Dalam perjumpaan yang sungguh-sungguh, ada rasa yang harus dibagi, ada hormat yang harus diberi, ada perbedaan yang harus dimengerti. Dalam perjumpaan (dituntut) ada pembaruan pikiran, pandangan, sikap dan tindakan.

Sejak itulah, saya tidak lagi melempari anjing-anjing. Saya juga tidak keberatan makmum kepada orang yang tidak fasih baca Al-Qur’annya. Atau saya paham mereka memang kerepotan melafalkan bahasa Arab, sembahyangnya pun jadi sah, karena sudah dari sononya begitu. Mereka bukan Arab, jadi wajar bila bacaan Al-Qur’annya tidak sempurna. Tuhan  mengampuni.

Sejak itu pulalah, saya mulai akrab dengan aneka ragam perbedaan. Kaca mata bernama prasangka dan stereotipe yang selama ini menempel, pelan-pelan tidak berfungsi, dan akhirnya saya lepaskan. Yang membantu banyak untuk memandang mereka dengan normal, dengan pandangan manusia yang semestinya, adalah perjumpaan, hari demi hari kami berjumpa. Keberanian untuk berjumpa, adalah modal utama menjadi manusia.