hati saya selalu girang bila ada kawan yang bertanya, “siapa nama pendampingmu?” makin girang hatiku bila ada pertanyaan lanjutan semisal, “di mana atau bagaimana kamu ketemu dengan dia?” tapi, pertanyaan yang saya tunggu-tunggu adalah, “kenapa kamu selalu menyebut istrimu dengan nama, tidak dengan ‘istriku’ seperti yang sudah dilakukan kebanyakan orang, dan menjadi tradisi?”

hingga kini, pertanyaan itu tidak muncul. kebanyakan orang, sudah lumrah, dan sudah menjadi tradisi, menyebut perempuan atau lelaki yang sudah menjadi suami atau istri dengan sebutan “kepemilikan”; “istriku”, “suamiku”. tidak menyebut namanya.

selintas, menyebut “istriku” atau “suamiku”, sama dengan orang menyebut

yumna

yumna

sepedaku, pulpenku, mobilku, gado-gadoku, rumahku, celanaku, dan sesuatu yang bisa dimiliki dengan sempurna. kepemilikan sempurna itu artinya bisa dimakan, dijual, dipinjam, disodakohkan, dicuekin. pokoknya bisa di-apa-apain sesuai selera. tidak berpikir bermanfaat ataupun tidak. menurut saya, kelumrahan atau tradisi macam ini memiliki sejumlah problem.

problem pertama adalah problem relasi. sebutan “istriku” dan “suamiku” sama saja dengan menghilangkan bahwa istri dan suami juga dimiliki orang lain (tapi bila di ruang privat, panggilan kepemilikan tampaknya malah asyik: sayangku, cintaku, istriku, suamiku, dan sebagainya). perempuan yang atau laki-laki yang anda nikahi itu juga masih dimiliki orang tuanya, kakak-adiknya, paman dan tantenya, dan dalam artian tertentu teman-temannya juga memiliki suami atau istri and. ini sebabnya, kita tidak berani, misalnya, bertanya begini pada mertua, “bu, istri saya ke mana?” atau ketika mertua anda bertanya sesuatu, anda pasti tidak akan menjawab misalnya, “istri saya sedang senam”. begitu juga mertua atau kakak ipar anda tidak akan gampang menyebut “anakku” atau “adikku” di depan anda. ini artinya seseorang itu tidak bisa dimonopoli oleh orang tertentu berdasarkan statusnya. artinya juga bahwa seseorang itu punya hak otonom atas dirinya. nah, masih beranikah menyebut perempuan atau lelaki yang anda nikai dengan “istriku”, “suamiku”, di depan orang lain.

Kedua, problem nama. istri anda atau suami anda itu punya nama. kenapa tidak disebut saja namanya? apa maksud anda menyebut “istriku” dan “suamiku” di depan orang?

insya allah, bila anda sebut nama istri dan suami anda, lawan bicara akan tahu bahwa nama itu adalah istri atau suami anda. tapi sebaliknya, ketika disebut “istriku” atau “suamiku”, lawan bicara anda tidak otomatis tahu nama istri dan suami anda. lagian, nyari nama itu tidak gampang lho. butuh nyari, baca ini dan itu, tanya sana tanya sini, butuh pertimbangan dan argumentasi. juga, biasanya, memberi nama itu pakai upacara, yang berarti berbiaya. mulai sekarang, sebutlah dengan nama…

problem yang ketiga, narsisime. problem ini interpretasi saja, atau perasaan saja. rasa-rasanya narsis, jika ada orang menyebut-nyebut, “istriku”, “suamiku” di depan orang, apalagi bila terlalu sering.

sebutlah namanya saja. macam apapun, bahasa apapun, dikutip dari manapun, nama perempuan atau lelaki yang kini bersama anda terus, memiliki makna, sesuatu yang diharapkan. Insya allah yang disebut senang. apalagi ketika disebut dengan penuh cinta. ah, rasanya aduhai, mak serrr gitu…

contoh, “athiaa..”

kramat raya, akhir Juli ‘10