“Silahkan duduk, di luar atau di dalam, terserah. Kita nunggu supir.”

Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Pak Said sambil membuka pintu. Dia yang masih bersarung, kaos lengan pendek dan kopyah putih, lantas masuk ke dalam. Langkahnya tidak bunyi. Sementara saya mengambil duduk di ruang tamu.

Hari itu, Rabu, 9-9-2009, Jakarta tidak begitu panas. Awan tipis memayungi kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Cuaca seperti ini yang ditunggu umat Islam yang sedang berpuasa. Tapi jalanan Jakarta tetap dengan kekhasannya, macet, berasap, dan bising. Taksi yang saya tumpangi dari kawasan Tebet menuju Mampang Prapatan, yang berjarak tidak lebih dari dua kilo meter, membutuhkan waktu dua puluh menit. Padahal cuma melewati satu lampu merah, di persilangan Tugu Pancoran.


Sekitar sepuluhan menit saya duduk di sana, terlihat sedan biru berhenti persis di depan garasi rumah yang hampir mepet dengan jalan. Dari mobil, dua orang laki-laki keluar.

“Kong, Pak Ahmad sudah siap,” teriak Alif, cucu Pak Said. Ahmad adalah supir yang sengaja diundang untuk menghantar Pak Said. Hari itu Pak Said sedang sakit, tidak bisa menyupir sendiri.

Alif kemudian menghampiri Pak Ahmad. Lalu mengasihkan kontak mobil, “Engkong sedang ganti pakean. Dipanasin dulu.”

Mobil tidak bisa distater. Sudah berkali-kali tetapi tidak bisa juga. Akhirnya diputuskan untuk didorong. Pak said mengendalikan kemudi. Sementara saya, Ahmad, dan Alif mendorong keluar, dari garasi ke jalan. Kami dorong pelan-pelan.

“Braakk!”

Bemper depan sisi sebelah kiri menabrak pot bunga plastik tetangga depan rumah. Pot pecah. Bemper lecet-lecet, tanah merah menempel. Rupanya Pak Said kurang sigap memutar setir ke kanan.

Lalu mobil didorong mundur, masuk garasi lagi. Dua pemuda segera bantu dorong. Dua sepeda motor dan sebuah mobil terhalang lewat. Mereka menunggu beberapa saat.

Setelah jalan sepi. Kami bersiap-siap mengelurkan mobil lagi. Pak said masih duduk di belakang kemudi. Saya lihat kali ini lebih siap untuk memutar seterinya ke kanan. Pelan-pelan kami mendorongnya.
Mobil sudah keluar dari garasi, mengarah ke timur. Kami berempat siap-siap mendorong lebih kenceng.

“Satu, dua, tiga…” teriak Ahmad kasih aba-aba. Kami mendorong lebih kenceng. Mobil mulai tersendat karena gigi sudah dimasukkan.

“Dut…dut…dut…ngeeerrrr…..”

Kurang lebih dua puluh meter dari rumah mobil sudah menyala. Suara mesin terdengar keras. Knalpot mengeluarkan asap. Tak lama Pak Said keluar. Pak Ahmad menggantikannya. Sementara saya kembali ke rumah untuk mengambil tas.

Sejurus kemudian, kami sudah di dalam mobil. Pak Ahmad mengemudi. saya di sisi kanan. Pak Said duduk di belakang sebelah kiri, saya duduk disebelahnya. Ia menyandarkan tubuhnya. Peci dilepas. Tangan kirinya digantungkan. Kemeja putih lengan pendek tikak berhasil menampakkan kesegaran wajahnya. Kami diam. Mobil meluncur pelan-pelan.

“Pak Ahmad, kita ke Mampang delapan ya. Di sana ada bengkel langganan saya.” Pak Ahmad diam saja, tapi mobil meluncur sesuai rute yang Pak Said inginkan.

“Mobil ini tahun sembilan tujuh. Sesekali mobil tidak bisa distater. Ini penyakitnya. Tapi nanti jalan lagi seperti biasa,” Pak Said menjawab pertanyaan saya.

Pukul 9.24 kami sudah tiba di Mampang delapan, di Bengkel “D99 Motor”. Bengkel kecil itu persis ada di muka jalan mampang prapatan delapan. Pak Said berbincang dengan petugas bengkel. Sejurus kemudian petugas bengkel membuka mesin mobil. Dengan alat yang saya tidak tahu namanya, dia mengecek aki, dan lain-lain. Problemnya ada di aki. Diangkatlah aki merek Yuasa. Pak Said memenuhi saran petugas bengkel untuk mengganti aki lamanya dengan aki kering bermerek Global Batree, seharga delapan ratus lima puluh rupiah.

PUKUL 10.06 KAMI MENINGGALKAN BENGKEL. Putar balik menuju utara. “Pak Ahmad, kita menuju ke Kemayoran, ke Glodog, dan yang terakhir ke MUI di jalan Proklamasi,” kata Pak Said.

“Sekarang Kamu boleh tanya,” kata Pak Said sambil melepas kopyah hitamnya. Tangan kirinya digantungkan.

Saya langsung nyerocos. Mula-mula saya tanya kesehatannya. Ini penting karena sudah dua kali ia membatalkan janjian wawancara karena mengaku tidak vit.

Saya tanya kenapa di sekitar mata kanan berwarna hitam. Persis seperti make up Semar dan empat kawannya dalam certa Punakawan. Bedanya jika Semar putih sedangkan Pak Said hitam dan tidak terlalu melebar.

”Dua hari lalu, waktu hendak sahur, saya jatuh terserimpet sarung,” kata Pak Said.
Tapi rupanya, Pak Said bukan tipe orang yang mudah mengeluh. Dokter sudah menyarankan untuk tidak puasa dulu. Tapi ia tetap puasa. Ketika Pak Said membatalkan wawancara untuk yang kedua kalinya, saya berinisiatif telepon beberapa orang. Tujuan saya supaya orang-orang itu menasehatinya untuk tidak berpuasa, karena nasihat dokter sudah tidak mempan. Pikirku, mungkin saja dinasehati teman-temanya manut.

Tapi apa yang terjadi?

Dia bertanya dengan nada protes via SMS, Selasa, 8-9-2009 malam, pukul 22.39, “Besok kamu ikut saya, 09.00 dari mampang. Saya ada sopir jadi kamu bisa wawancara sepuasnya. Kok aku sakit diinformasikan ke mana2?”

Saya seneng besok bisa mewawancarainya lagi. Tapi saya agak bingung dapat SMS macam itu malam-malam.

“Maaf bila saya lancang Pak. Tapi tak ada maksud lain kecuali kami mencintai Pak Said. Bsk saya smp mampang sebelum jam 9. Terima kasih,” jawab saya sekenanya saja.

Mobil melaju dengan lambat. Jalan Mampang Prapatan masih padat hingga ke Kuningan. Tapi saya terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Kadang Pak Said lancar menjawab dan penuh semangat. Tapi seringkali tersendat-sendat dan berat. Mungkin karena dia mengingat-ingat peristiwa yang sudah berlalu tiga puluh hingga empat puluhan tahun. Sesekali diselingi batuk. Tapi, Pak Said tidak pernah menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia tidak peduli mobil berhenti karena jalanan mampet. Ia tampak fokus menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Suaranya masih jelas. Bicaranya runtut. Kalimatnya tertata. Recorderku dipegangnya. Ia tampak seperti orang yang sedang bercerita di depan banyak orang.

Kami sampai Kemayoran pukul 11.03. Setelah melewati kolong, mobil putar balik. Tak lama kemudian mobil masuk halaman di jalan Angkasa 18 BB. “CANON, digital camera service center,” begitu tulisan tertera di muka gedung yang tidak terlalu besar.

“Saya mau beli batre kamera,” ucap Pak said sambil bangkit dari jok. Saya mengikutinya.
Karena tidak ngantri, kami langsung menuju meja yang kosong. Costumer service menyapa dengan manis.

“Saya mau beli batre kamera,” kata Pak Said.

Tapi, kamera lupa dibawa, perbincangan dengan petugas jadi agak lama. Pak Said meminta gambar kamera untuk menunjukkan model kamera yang dimilikinya, tapi tidak tersedia. Pak said sempat meminta petugas mengeluarkan beberapa model batre. Petugas memenuhi permintaan Pak Said. Tiga model batre dijejer di atas etalase yang juga berfungsi sebagai meja. Tapi Pak Said ragu, yang mana harus dipilih.

Akhirnya Pak Said telepon rumah.

”Bu, tolong ambilkan kamera bapak. Terus dibacakan merk dan serinya,” kata Paka Said yang menggunakan ponsel komunikator model N90.

Kakek-kakek yang satu ini tidak gaptek-gaptek amat, apalagi untuk urusan komunikasi, ia tidak ketinggalan. Ia aktif menggunakan jejaring sosial Fesbuk. Pak Said tergolong cepat membalas email-email yang masuk. Beberapa email saya direspon via BlackBerry, tapi saya belum pernah melihat Pak Said menenteng alat komunikasi mutakhir itu. Pak Said memiliki blog dengan alamat www.saidbudairy.blogspot.c

om, tapi jarang di-up date. Ini judul blognya:

MANULA
Inilah Caraku Mensyukuri Usia Lanjut

”Sisa usia yang mudah-mudahan masih agak banyak, melalui blog ini ingin bisa bermanfaat dengan bertukar pengalaman, informasi, kelakar, dan apa sajalah. Jika berkenan ingin sekali disapa yang muda-muda,” tulis Pak Said mengakhiri kolom profilnya.

Kembali ke telepon Pak Said. Saya lihat ia mulai bicara. Tampaknya istri Pak Said — Hayatun Nufus– yang menerima. Tangan Pak Said menyenggol-nyenggol tangan saya, memberi isyat untuk mencatat. Pak Said mulai menirukan suara di ujung telepon sana. Dan saya mencatatnya, “Digital Ixus 400.”
Setelah dipastikan memilih batre, Pak Said beli dua buah. Satunya seharga tiga ratus tiga puluh dua ribu, belum termasuk sepuluh persen PPn. Pak Said mengelurkan kartu dari dompetnya, lalu menyodorkan ke petugas.

PUKUL 11.45 KAMI MENUJU PASAR GLODOG. Saya masih melontarkan beberapa pertanyaan. Tapi sifatnya ngobrol-ngobrol saja, ringan-ringan saja. Topiknya pun gonti-ganti sekenanya.

“Pak Said suka memotret?”

“Biasa-biasa saja. Syahrizal yang maniak pegang kamera. Dan harga kameranya jutaan.”

“Pak Said suka memotret apa?”
“Pemandangan dan keluarga.”

Ketika kami menyusuri jalan Gajah Mada yang padat, saya bertanya, “Apa Pak Said sering lewat jalan Gajah Mada?”

Dia menjawab, “Dulu sering. Berangkat sore pulang malam.”
“Sering nglayap juga ini orang,” saya berucap dalam hati.

Saya penasaran. Maklum, jalan Gajah Mada dan kawasan Jakarta Kota adalah pusat hiburan malam. Tapi ternyata, Pak Said melewati jalan Gajah Mada bukan untuk menghibur diri. Tapi karena untuk menuju jalan Asem K –kantor harian Pelita– ia harus melewati jalan Gajah Mada.

Ketika mobil melewati gedung bertuliskan POS KOTA yang ada di sisi kira, Pak Said bilang, “Pos Kootaa…”

“Pak Said kenal Harmoko?”
“Kenal baik. Waktu belum jadi orang, Harmoko dan Zulharman pernah datang ke rumah saya.

“Untuk apa?” tanya saya lagi.

“Saya sih mengira dia datang begitu saja, ngobrol-ngobrol gitu. Tapi belakangan saya tahu, mereka datang karena ingin diangkat menjadi Pengurus Pusat PWI. Waktu itu mereka pengurus DKI. Waktu itu PWI mau kongres.”

Zulharman Said, lahir di Bukittinggi tanggal 14 Desember 1933, adalah salah seorang tokoh di surat kabar KAMI. Dia juga mantan ketua umum PWI (1983-1988) mengantikan Harmoko yang diangkat menjadi Menteri Penerangan RI.

Tentang Harmoko, ingatan kita tentunya masih segar. Harmoko adalah Menteri Penerangan yang terkenal dengan pernyataan “menurut petunjuk bapak presiden”. Salah satu tugas Harmoko di masa rezim otoriter Orde Baru adalah mengumumkan “penyesuaian” harga-harga kebutuhan pokok, macam sembako, cabe kriting, bawang merah, tomat, wortel, kentang, dan kawan-kawannya. Hari ini keduanya masih hidup. Nama Haromoko, oleh para aktivis, sering diplesetkan menjadi “hari-hari omong kosong”.

Pukul 11.45 kami sampai Glodog. Pak Said hendak cari obat Cina. Dia kasih tahu saya nama obat itu, tapi suaranya lirih, sedangkan pasar ramai, jadi telinga saya hanya menangkap kata ‘efce-efce’.

Kami menyusuri lorong-lorong yang padat dan panas. Muka Pak Said sering mendongak ke atas. Mungkin mencari tulisan toko obat atau apotik.

Kami masuk ke toko obat “Ben Seng”.

“Ada efce?”
“”Gak ada.”

Kami keluar dari Ben Sen. Berjalan lagi ke arah timur. Pak Said tidak masuk ke tiap toko obat. Kami masuk toko obat “Bintang 99”. Di sana obat yang dimaksud juga tidak ditemukan. Pak Said jalan cukup lamban. Tiga kali saya melihat dia agak sempoyongan. Tiga kali juga saya memegang tangannya. Kami berjalan hingga ujung keramaian. Saya melihat beberapa papan yang mengumumkan toko obat A pindah ke lokasi M, toko obat B pindah ke lokasi N, dan lain-lian.

Kami kembali lagi ke arah semula. Kemudian masuk ke toko obat Ever Green. Di sana, obat yang diinginkan juga tidak ada. Perjalanan dilanjutkan. Kami lewati Beberapa ruko yang menjajakan aneka jajanan dan pernak-pernik khas Tiong Hua. Belum jauh melangkah, kami berhenti di depan toko obat “Rakyat Senang”. Lantas masuk. Di situ rupanya ada obat yang diinginkan. Pelayan toko menyodorkan sebuah kotak warna kuning bertuliskan AHFC. “Ooooh…lengkapnya AHFC. Bukan efce,” kataku dalam hati.

Tapi obat itu tidak dibeli. “Murah di Blok M,” kata Pak Said memberi alasan. ”AHFC dapat membantu fungsi hati,” lanjut Pak Said.

Udara panas. Dari pasar Glodog, kami meluncur ke Majlis Ulama Indonesia (MUI). Kali ini saya membiarkan Pak Said duduk leluasa di belakang, sedangkan saya duduk di sebelah Pak Ahmad. Dia tertidur hingga sampai kantor MUI di jalan Proklamasi.

KAMI SAMPAI DI MUI PUKUL 13.05. Satpam membukakan pintu mobil. Sebelum keluar, Pak Said mengenakan kopyah hitamnya. Kami langsung menuju ruang rapat di lantai tiga. Di sana sudah tiga orang. Dua perempuan dan seorang laki-laki.

Di MUI Pak Said memimpin rapat. Agendanya presentasi hasil pemantauan program Ramadhan di televisi-televisi. Agenda rapat kedua merancang diskusi publik kerjasama Depkominfo dengan MUI.

Peserta rapat siang itu hanya enam orang. Tapi di tengah rapat, salah seorang dari mereka pamit. Yang pamit hanya presentasi saja sebentar. Lalu pergi.

Perjalanan dari Kemayoran ke Glodok, Pak Said bercerita bahwa anggota Komisi informasi dan komunikasi (Infokom) ada tiga belas orang, empat belas bila ditambah dirinya. Dari tiga belas, hanya delapan yang aktif. Dua orang sudah meninggal, dua tidak aktif. Dan seorang lagi antara aktif dan tidak, dia tidak peduli.

”Kalau ada rapat, gak tau konsentrasi dia ke mana?” Kata Pak Said.

Komisi Infokom terbentuk tahun 2005. Pak Said menjadi ketua pertama dalam komisi ini. Jabatan ini akan diemban hingga 2010. Dan dia juga yang mengusulkan komisi ini ada. Pak Said aktif di MUI sejak tahun 1995. Kedudukan pertamanya Wakil Sekretaris Komisi Ekonomi, hingga 2005. Pada tahun 1999-2002 Pak Said mewakili MUI menjadi anggota Lembaga Sensor Film (LSF) yang semula bernama Badan Sensor Film (BSF).

Rapat selesai pukul 14.59. Pak Said menutupnya dengan bacaan hamdalah. Saya sebetulnya ingin menulis proses rapat tersebut. Tapi saya belum ada izin apakah bisa dipublikasikan.

Usai rapat. Mereka ngobrol-ngobrol santai. Pak Said jadi perhatian. Seorang perempuan manis, Hidayati, 45-an tahun, menanyakan mata kanan Pak Said yang hitam. Dengan atraktif, Pak Said menceritakan.

”Saya jatuh kesrimpet sarung,” kata Pak Said. Dia membuat adegan bagaimana posisi jatuh dengan menundukkan mukanya ke meja, hingga mata kanannya menempel.

Asrori S Karni, anggota Infokom yang lain,tertawa terbahak-bahak. Lalu meluncurlah ledekannya, ”Wah, kalau tidak untuk mencari perhatian Bu Hidayati, Pak Said tidak akan mempraktikkan sampai seperti itu.” Mendengar ledekan itu, seisi ruangan tertawa, termasuk saya.

Saya tidak menyangka, Pak Said merespon positif ledekan Asori. Sejurus kemudian, Pak Said membuka kacamatanya. Dia memutar-mutar jari telunjuknya pada mata yang lebam-lebam itu, sembari berkata, ”Ini kalau dielus-elus Bu Hidayati segera sembuh.” Saya menahan lontaran ke mereka, ”Genit juga kakek dari delapan cucu ini.”

Tak lama peserta rapat bubar.

”Pak, Suami saya nggak bisa jemput. Saya numpang Pak Said ya?” kata Hidayati.
”Ayok,” jawab Pak Said.

Saya keluar mendampingi Pak Said. Sesampai di lift, saya disuruh keluar lagi untuk memanggil perempuan yang tadi digodain.

Hari itu Hidayati memakai long dress warna merah marun, tampak anggun. Warna lipstiknya tampak serasi. Dia agak tinggi. Mukanya putih dan mudah bicara.

Sesampai di halaman parkir, saya pamit ke Pak Said.

”Pak, saya ada buka bersama di TIM.”
”Oh gitu. Ya sudah. Terima kasih sudah menemani.”
”Sama-sama Pak. Terima kasih pula sudah diberi kesempatan muter-muter seharian.”
”Oke, hati-hati. Wawancara berikutnya saya kabari lagi.