Minggu, 14 Juni 2009

Konflik pada dasarnya adalah sesuatu yang normal dan manusiawi. Konflik akan selalu ada di mana manusia memijakkan kakinya. Tugas kita adalah bagaimana caranya agar konflik itu tidak berubah menjadi gerakan yang destruktif yang mengacaukan sistem sosial. Karena sekali konflik tidak bisa dikelola dengan baik, maka selama itu pula tatanan sosial di masyarakat akan terganggu dan bahkan terguncang. Hamzah Sahal (HS), kontributor http://www.pondokpesantren.net mewawancarai KH. Dian Nafi’ (DN) pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan Makamhaji Sukoharjo untuk mengkaji persoalan konflik dan posisi umat Islam secara lebih mendalam.

HS: Kiai, Anda dikenal luas sebagai “Kiai Juru Damai”. Bagaimana ceritanya?

DN: Si Mbah Kiai Umar (Pendiri PP Al-Muayyad, Mangkuyudan Laweyan Surakarta, dan juga Paman dari KH. Dian Nafi’) adalah sosok yang memberi kepada saya banyak inspirasi. Pada akhir 80-an, almarhum Pak Fahmi D. Saifuddin pernah bercerita, ketika saya menjadi peserta pendidikan kader ulama NU yang dilaksanakan PP Lakpesdam NU, kepada saya dawuh kiai Umar tentang pentingnya arti mensyukuri anugerah kemerdekaan.


HS: Apa yang dikatakan Kiai Umar?

DN: Yang beliau katakan pada waktu itu mensyukuri anugerah kemerdekaan dengan berbuat adil. Waktu itu konteksnya sedang membicarakan kelompok-kelompok yang memberontak kepada NKRI. Terlepas dari kita tak setuju dengan sikap memberontak, mereka yang memberontak adalah sedang mengekspresikan protes terhadap penguasa yang tidak adil. Begitu juga konflik-konflik yang lain, termasuk di Ambon, Aceh, Papua, dll. Pemberontakan atau konflik-konflik di negara-negara bekas jajahan dan bekas penguasa yang otoriter macam negeri kita ini adalah peristiwa wajar. Kecuali kekerasannya lho…. Konflik NKRI dengan PKI, misalnya, itu wajar, tapi kekerasannya tidak wajar. Saya teringat Kiai Umar itu ketika Ambon memanas.

HS: Jadi inspirasi menjadi aktifis perdamaian dari pesantren?

DN: Tentu.

HS: Apa yang paling terkesan dari Kiai Umar?

Kiai Umar itu seorang guru yang “tertarik” dengan santrinya yang nakal. Beliau selalu mewanti-wanti untuk tidak sembarangan mengeluarkan santri yang nakal. Jangan dikeluarkan kecuali dhorurot. Itu yang selalu dikatakannya. Konflik santri harus diselesaikan di dalam pesantren.

M. Dian Nafi’ lahir di Sragen pada 4 April 1964. Ia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya, K.H. Ahmad Djisam Abdul Mannan, merintis Pesantren An-Najah, Gondang, Sragen, Jawa Tengah, yang kini diasuh kakak iparnya. Sementara kakeknya, K.H. Abdul Mannan, adalah pendiri Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, salah satu pesantren Al-Quran yang terkenal di Solo.

Pertemuannya dengan beberapa tokoh rekonsiliasi kemudian membawanya bergabung dalam Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA), Tim Pemberdayaan Masyarakat Pasca-Konflik (TPMPK) Maluku Utara, dan lembaga-lembaga lainnya seperti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjahmada, Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Yogyakarta, Pusat Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi dan Perdamaian (PPRP) Jakarta, Crisis Centre Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Common Ground Indonesia, dan sebagainya.

Pertemuan dan pendidikan yang diikuti di luar negeri adalah Disaster Management Training di Africa University, Mutare, Zimbabwe, yang dilakoninya tahun 2000, Education in Religion for Communitiy Consultation di Agia Napa, Siprus (2001), Asia Africa People Forum di Kolombo (2003), Indonesia Pesantren Program di Amherst, Massachusetts, USA (2003), dan Summer Peace Building Institute di Harrisonburg, Virginia, USA (2005).

Saat ini, Pak Dian –bagitu ia biasa dipanggil- mengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Sukoharjo, yang merupakan pengembangan dari Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta.

HS: Apa relevansi konflik santri dengan konflik di Ambon misalnya?

DN: Kalau salah memahami peristiwa-peristiwa konflik di daerah, maka efeknya nanti seperti seorang guru salah memahami kenakalan murid atau santrinya. Muridnya terlanjur dikeluarkan, padahal masalahnya belum selesai ditangani. Itu akan menimbulkan goncangan lebih parah bagi santri. Dan membuat lembaga pesantren tidak belajar dari masalah yang dihadapi santrinya sendiri. Ini apa artinya? Artinya, kita harus belajar mendudukkan persoalan dengan bijak dan teliti. Jika seseorang memandang konflik Ambon sebagai konflik agama, maka dia akan datang ke Ambon dengan membelah Islam dengan Kristen. Ini berbahaya sekali. Karena persoalannya bukan itu.

HS: Apa posisi anda dalam upaya menangani konflik di Ambon?

DN: Saya tergabung dalam Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA), kami berjumlah sebelas orang.

HS: Apa yang dikerjakan Tim tersebut?

DN: Kami belajar dan tinggal di sana selama empat bulan. Di sana kami betul-betul belajar tata budaya, struktur masyarakat, dan macam-macam. Pokoknya lebih dari mahasiswa melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Kami belajar sembari mendata desa yang konflik, berapa jumlah desa yang bertikai, lalu kami petakan. Kami mendata di titik manakah kebutuhan pokok sehari-hari terhambat, kami menemui tetua atau tokoh masyarakat, menghampiri forum-forum adat, agama, pergi ke pasar, tempat ibadah, dan lain-lain.

HS: Bisakan Anda bercerita kenapa masuk dalam Tim Independen Rekonsiliasi Ambon?

DN: Ya, itu kurang lebih karena saya dinilai berminat dan punya pandangan jembar (luas, red) terhadap persoalan konflik.

HS: Gerakan apa yang dinilai paling jitu untuk menyelesaikan konflik Ambon?

DN: Tim ini sebetulnya tidak membawa apa-apa dari luar. Kami tidak mengimport pengetahuan. Kami justru belajar dari masyarakat di sana bagaimana mereka mengelola konfliknya selama ini. Kami membongkar pengetahuan mereka yang selama ini tertimbun oleh banyak hal, misalnya oleh kepentingan sesaat, nafsu berkuasa, egoisme, dan lain-lain. Kami di sana hanya memetakan gejala-gejala saja, misalnya kami memetakan kelompok mana saja yang bisa segera rukun dan kami menemukan kaum perempuan punya kepekaan yang lebih untuk segera mengakhiri konflik. Mereka punya gerakan bernama Gerakan Perempuan Peduali (GPP). Mereka bergabung dari banyak unsur yang berbeda secara agama dan kebudyaan. Luar biasa kan?

HS: Apa yang luar biasa dari perempuan?

DN: Waduh, susah dilukiskan. Tapi begini, kesimpulan saya, perempuan punya naluri hidup secara bermartabat lebih tinggi ketimbang laki-laki. Mereka mampu mengorganisir diri menjadi kelompok yang positif. Mereke berkumpul seminggu sekali di tempat yang berbeda. Mereka membicarakan persoalan bagaimana mendapatkan sembako, distribusinya bagaimana, dan lain-lain. Di Maluku Utara, Kalimantan Tengah, Aceh, perempuan juga yang memiliki peran siginifikan untuk menangani konflik. Mungkin karena perempuan adalah korban yang menerima dampaknya secara berlipat-lipat.

HS: Apa yang bisa diambil pelajaran dari konflik?

DN: Konflik itu sesuatu yang manusiawi. Wajar terjadi. Ada dua kebiasaan terkait konflik pada masyarakat yang lama tertindas, yaitu menghadapi konflik dengan cara menghindar dan menghadapi dengan agresif atau dengan cara kekerasan. Ternyata ini bukan penyelesaian konflik. Negara kita tidak bubar karena kita mampu menghadapi konflik. Kalau kita tak kuat, kita negara ini sudah bubar pada tahun 1948 ketika ada pemberontakan di Madiun, atau peristiwa 1965. Konflik 1965 ini konflik serius, karena betul-betul menyangkut ideologi. Tapi berhasil dihadapi, meski belum memuaskan banyak pihak dan belum tuntas betul.

HS: Apa ilmu khusus dari pesantren yang implementatif buat menangai konflik?

DN: Secara spesifik belum saya temukan. Tapi saya banyak belajar dari forum-forum yang ada di pesantren. Misalnya forum musyawarah (belajar bersama). Di sana dibebaskan semua santri untuk berbicara apa saja. Dengan syarat bisa dipertanggungjawabkan, yaitu ada rujukan kitab kuningnya dan tidak boleh saling menegasikan antara satu pendapat dengan pendapat lain, dengan rambu-rambu kaidah fikih al-ijtihadu la yunqodhu bil ijtihad, sebuah ijithad tidak boleh dihapus dengan ijtihad. Dari sini perbedaan pendapat setajam apapun bebas diekspresikan. Ini asyikanya di pesantren, menerima macam-macam pendapat. Satu lagi, siapapun yang mempu memfasilitasi perbedaan dalam forum musyawarah, dia punya potensi untuk dapat mengelola konflik. Waktu di Ambon saya bertindak seperti moderator musyawarah (mufasil).

HS: Apa kesan khusus dari orang luar tentang Anda?

DN: Ketika saya di sana, ada tentara yang bertanya, “Bapak dari lembaga mana?” ketika saya menjawab dari pesantren, tentara tadi membentak, “Mau apa orang pesantren ke sini?” dan ternyata yang bertanya macam itu bukan saja tentara, tapi juga polisi, aktifis-aktifis juga melontarkan pertanyaan yang sama. Bagi saya, sebetulnya tak penting orang datang dari mana. Tapi yang penting adalah, orang ini matung apa seh? Nggenapi apa? berkontribusi apa? Tapi kebetulan, di kasus Ambon, orang pesantren dibutuhkan. Mereka butuh perspektif Islam yang damai, Islam yang melerai konflik, Islam yang memiliki solusi untuk semua kelompok, ya sederhananya ya seperti Nabi Muhammad SAW yang mampu membagi tugas untuk mengangkat Hajar Aswad. [ ]Sumber: http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index.php?option=com_content&task=view&id=295