Adalah selembar kaos oblong putih yang mengenalkan saya dengan Guru Gus Dur, atau KH. Abdurrahman Wahid, atau nama kecilnya Abdurahman Ad-Dakhil, yang berarti Abdurahman Sang Penakluk. Pada punggung kaos oblong itu ada tulisan merah yang mencolok: ABG. Di bawah tiga huruf tersebut ada kalimat berbunyi ‘Asal Bersama Gus Dur’.

Kaos tersebut adalah buah tangan paman saya dari Muktamar NU di Tasikmalaya, 1994. Pada waktu itu saya kelas dua SMP. Saya belum paham betul apa konteks ‘ABG’ terseut. Tapi saya merasa bangga memakainya, sama bangganya tatkala saya mengenakan kaos kesebelan Brazil bertuliskan Bebeto.

Belakangan saya tahu, Muktamar NU di Tasikmalaya adalah muktamar paling bersejarah di era Orde Baru. Dalam muktamar itulah, terlihat dengan jelas kelaliman Orde Baru terhadap orgnisasi terbesar negeri ini. Kelaliman itu terepresentasikan dengan sebuah adegan: para pengawal Soeharto menghalangi Guru Gus Dur untuk bersalaman dengan bosnya. Adegan tersebut terjadi saat Soeharto hendak menabuh bedug sebagai tanda Muktamar NU ke-29 dibuka. Itu artinya puncak acara, semua orang terfokus ke sana. Ini tentu aneh bin ajaib, karena Guru Gus Durlah tuan rumah utama hajatan itu. Karena Guru Gus Dur Ketua Umum PBNU. Dan tentu, Guru Gus Durlah yang mengundang Soeharto. Kok bisa diusir di rumah sendiri?

Ya, semua peserta muktamar, para pengamat dalam dan luar negeri, membaca adegan tersebut sebagai isyarat yang terang benderang bahwa Soeharto tidak ingin Guru Gus Dur menjadi ketuan PBNU lagi. Inilah puncak kelaliman rezim Orde Baru pada NU, dan secara khusus pada Guru Gus Dur. Tapi warga NU tegar, bismillah, tekad melawan dengan penguasa lalim dengan menjadikan kembali Guru Gus Dur sebagai ketua PBNU yang ketiga kalinya. Guru Gus Dur pun terpilih secara dramatis.

Saya melihat sosok Guru Gus Dur secara fisik, kali pertamanya di sebuah pondok pesantren di kecamatan Sindang Laut, Cirebon, Jawa Barat. Saya tidak inget tahun berapa. Tapi saya inget, bersama dua puluhan orang, saya menuju ke lokasi pesantren dengan menaiki mobil bak terbuka dari Losari, menempuh perjalanan dua puluhan kilo meter, malam hari. Dan saya masih inget, Guru Gus Dur berceramah dalam rangka peresmian pengurus cabang NU kabupaten Cirebon. Yang saya masih inget lagi adalah, Guru Gus Dur menyampaikan bahwa dirinya dan keluarganya biasa berbeda dalam banyak hal. Lantas Guru Gus Dur mencontohkan keluarganya berbeda dalam memilih partai politik, ada yang di PPP, Golkar, dan PDI. Ulasannya sederhana, hingga saya masih ingat masih sampai sekarang.

Di pondok pesantren Krapyak Jogjakarta, sekitar tahun 1997, untuk kali keduanya saya kembali mendengarkan ceramah Guru Gus Dur. Dalam kesempatan itu, salah satu inti sari yang disampaikan Guru Gus Dur adalah tafsir dari surat alfath ayat 29. Yang penggalannya berbunyi asyiddau ‘alal kuffar, artinya keras terhadap kaum kafir.

Kata Guru Gus Dur, Nabi Muhammad hanya keras kepada kafir Quraisy yang tidak mengakui adanya Tuhan, yang mengolok-olok, menyerang, dan mengusir dirinya secara fisik. “Orang-orang Kristen, Katholik, Hindu, Budha, penganut kepercayaan, dan lainnya, harus dihormati dan kita harus bekerja sama, berlomba-lomba dalam kebaikan dengan mereka. Karena mereka percaya adanya Tuhan dan tidak menyarang kita,” begitu kira-kira cuplikan ceramah Guru Gus Dur.

Pada waktu itu, Guru Gus Dur menyebut beberapa nama yang tidak suka karena dirinya cukup dekat dengan kalangan agamawan lain. Guru Gus Dur pun menyebut mereka harus belajar ngaji lagi. Dan bergemuruhlah tepuk tangan pengunjung pengajian mendukung Guru Gus Dur.

Pada kesempatan itulah, kali pertama saya senyum-senyum, prihatin sekaligus dan geleng-geleng kepala. Guru Gus Dur bilang bahwa dirinya tahu jumlah orang yang hadir dalam acara itu, meski kedua matanya samar-samar saja melihat. “Anda semua yang hadir di sini kira-kira berjumlah tiga ribuan. Saya bisa memperkirakan dari suara Anda ketika menjawab salam dan bersalawat,” begitu kata Guru Gus Dur tanpa beban.

Pada hakikatnya, Guru Gus Dur menyampaikan kabar bahwa matanya tidak dapat lagi melihat dengan sempurna. Guru Gus Dur bukan sedang melontarkan tebakan jumlah peserta pengajian. Selain Guru Gus Dur, saya belum pernah melihat tokoh mengejek dirinya sendiri dengan enteng di depan massanya.

Tidak ada yang rumit dari ceramah Guru Gus Dur. Semuanya disampaikan dengan lugas, sederhana dan ringan, tak terkecuali mempu mengejek tubuhnya sendiri. Semua orang paham, termasuk saya yang santri pemula di Krapyak. Gemuruh tepuk tangan adalah tanda bahwa audien menerima dengan baik isi pembicaraan Guru Dus Dur.

Yah, semua orang tahu, Guru Gus Dur bukanlah ilmuan yang bicara mendakik-dakik dan njlimet, meski buku-buku, kitab-kitab, yang dibaca berat-berat. Guru Gus Dur seorang pembaca literatur-literatur berkualitas dari aneka macam disiplin ilmu sejak remaja, hingga matanya rusak. Semua orang menyaksikan Guru Gus Dur adalah orang yang menguasai dengan baik bahasa Arab, Inggris, dan Prancis, tapi ia tidak genit, bicara kebarat-baratan atau kearab-araban. Guru Gus Dur seperlunya saja menggunakan bahasa atau istilah asing.

Kesederhanaan Guru Gus Dur juga terlihat dalam aneka macam tulisannya. Guru Gus Dur menulis segala macam topik, di antaranya adalah bola, agama, pertanian, pesantren, kebudayaan, kesenian, film, musik, politik, ekonomi, hingga persoalan-persoalan pelik di luar negeri. Sebagai generasi yang datang belakangan, saya terlambat mengikuti tulisan-tulisannya yang terhampar di pelbagai media cetak yang sudah beredar sejak era 70-an. Saya lebih banyak membaca tulisan-tulisan Guru Gus Dur yang sudah dibukukan. Di antara buku utamanya adalah Kiai Nyentrik Membela Pemerintah, Menggerakkan Tradisi Pesantren, Prisma Pemikiran Gus Dur, Tuhan Tidak Perlu Dibela, Islam Pribumi, Melawan dengan Lelucon, Islamku Islam Anda Islam Kita, Islam Kosmopolitan. Tulisan-tulisan Guru Gus Dur berkualitas, enak dibaca, mudah dipahami, bahkan lucu. Dan yang lebih penting lagi, hingga kini, buah pena Guru Gus Dur masih relevan.

Sebagai seorang muslim yang sangat paham dengan literatur keislman, Guru Gus Dur tidak mudah menyitir Al-Qur’an ataupun hadits. Untuk mendukung segala argumennya, Guru Gus Dur tidak pernah repot mencari dalil-dalil tertulis. Kalau tidak ada dalil Al-Qur’an ataupun hadits, Guru Gus Dur akan terus terang menyampaikannya. Dan Guru Gus Dur pasti akan berani menyampaikan argumentasi dan logikanya dengan menyakinkan. Bahkan tidak peduli bila dinilai bertentangan dengan logika common sense, bahkan tafsir Al-Qur’an. Guru Gus dur tidak peduli dengan tuduhan serius dan pelik macam antek Yahudi hingga pindah agama. Guru Gus Dur menanggapi semuanya dengan sebuah kalimat sederhana, “Gitu aja kok repot!”

Ketika saya pindah ke Jakarta, saya sering menjumpai Guru Gus Dur di aneka macam acara, di Utan Kayu, di kantor PBNU, di Ciganjur, di kantor The Wahid Institute, dan lain-lain. Yang tersirat ketika melihat wajahnya, pakaiannya, alas kakinya, kopyahnya, makanannya, adalah satu: kesederhanaan!

Tanggal 4 Agustus 2009 lalu, saya datang ke Ciganjur, Jakarta Selatan. Pada hari itu Guru Gus Dur ulang tahun yang ke-69. Saya datang bersama beberapa aktivis NU, ada Rumadi, Ahmad Baso, Nur Kholik Ridwan, Alamsyah M. Dja’far, Nurun Nisa, dan lain-lain. Kami datang malam, sekitar pukul delapan. Kata ibu Shinta -istri- Guru Gus Dur sudah tidur. Kami hanya mengobrol sama Ibu Shinta sebentar sambil menyantap nasi kuning.

Dua hari setelah itu, saya ketemu dengan Rumadi di kantor Wahid Insititute –lembaga yang diinisiasi Guru Gus Dur untuk menebar toleransi dan perdamaian-. Dia bertanya pada saya,” Hamzah, Kamu tahu gak siapa yang tidur di belakangmu, di lantai depan TV 14 inchi?” “Ndak Tahu, Mas. Paling kerabat Guru Gus Dur dari Jombang atau siapa gitu,” jawab saya.

“Itu Gus Dur,” kata Rumadi. Kami semua geleng-geleng kepala dan mengelus dada. Guru Gus Dur tidur hanya beralaskan selembar karpet tipis, satu bantal dan bantal guling yang didekapnya, padahal dalam keadaan sakit. Pada waktu itu kami ngobrol biasa, senda gurau ngalor-ngidul. Rumadi pun mengaku baru tahu setelah perjalanan pulang. Itulah kebiasaan tidur Guru Gus Dur: sangat sederhana.

Rabu petang, 30 Desember 2009, Guru Gus Dur menghembuskan nafas terakhir di RSCM, Jakarta Pusat. Keesokan harinya, Guru Gus Dur dimakamkan di pekuburan sederhana, di tanah datar, di pesantren peninggalan kakeknya, Tebuireng Jombang.

Selamat jalan Wahai Kesederhanaan!