Jumat, 8 Januari 2010 12:03

Jakarta, NU Online
Bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), 2009 adalah ‘amul huzni atau tahun kesedihan. Pada tahun itu NU kehilangan dua tokohnya, H M. Said Budairy dan KH Abdurahman Wahid. Said Budairy wafat pada 30 Nopember 2009. Sementara tidak lama berselang Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009.

Demikian dikatakan aktivis PP Lakpesdam NU Hamzah Sahal dalam peringatan empat puluh hari H M. Said Budairy di Wiswa Syahidah, komplek Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (7/1) tadi malam.

Acara yang diadakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia  (PMII) Cabang Ciputat juga menghadirkan Rais Syuriyah PBNU KH Chotibul Umam, Ketua PBNU Masykuri Abdillah, putra H M. Said Budairy Hisyam Said dan wartawan señor Asrori S Karni. Sementara Abi Setyo Nugroho sebagai moderator.

Said Budairy dan Gus Dur adalah dua di antara tokoh yang menggagas Khittah NU 1984 pada Muktamar NU di Situbondo, Jawa Timur. Kesamaan lain antara keduanya adalah kesederhanaan dalam hidup.

“Keduanya tidak ngoyo-woro dalam mencari kekayaan. Mereka ikhlas mengabdi pada NU,” kata Hamzah di hadapan ratusan aktvis PMII Ciputat.

Menurut Hamzah, Said Budairy bersama Mahbub Djunadi, Fahmi D. Saifuddin waktu itu adalah orang-orang yang tepat memposisikan Gus Dur di barisan terdepan NU setelah KH Idham Cholid.

“Guru Gus Dur adalah raja. Sedangkan H M. Said Budairy, Mahbub Djunaidi, Fahmi D. Saifuddin adalah orang-orang yang mempersiapkan Guru Gus Dur naik tahta,” kata Hamzah.

Para tokoh itu tidak selalu bersepakat dalam berpendapat. Said Budairy dan Gus Dur, misalnya, sering tidak sepaham dalam soal keagamaan. Sementara Mahbub dan Gus Dur sering berbantah argumen di tulisan-tulisan yang diterbitkan berbagai media massa.

”Namun alih-alih saling menafikan, mereka justru saling mempromosikan dengan bukti mereka sepakat untuk menempatkan Guru Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU di muktmar Situbondo,” katanya.

Sementara itu, khusus tentang Gus Dur, Ketua PBNU Prof Dr Masykuri Abdillah dalam kesempatan itu mengingatakan agar berbagai pihak tidak membatasi peran Gus Dur hanya pada soal pluralisme.

”Kita jangan terlena dengan sebuatan Gus Dur sebagai bapak pluralisme. Gus Dur itu juga sosok negarawan yang urusannya bukan hanya pluralisme. Selain itu makna pluralisme yang dimaksud di sini adalah pluralisme sosologis bukan teologis,” kata Masykuri.

Wartawan senior Asrori S Karni banyak menyampaikan kesan-kesannya tentang H M. Said Budairy. Menurutnya, Said Budairy adalah salah satu tokoh NU yang konsisten di bidang jurnalistik sejak ia muda hingga masa tuanya.

“Beliau juga seorang mencintai bekerjaannya. Beliau adalah orang tua yang mau ngemong anak muda. Beruntung NU punya Pak Said,” katanya.

Rais Syuriyah PBNU Prof Dr Chotibul Umam mengatakan, perjuangan H M. Said Budairy dan Gus Dur layak diteruskan oleh generasi muda, terutama dari kalangan Nahdliyin.

“Keduanya adalah tokoh yang patut dcontoh oleh generas muda negeri ini, bukan hanya NU. Keduanya ikhlas mendedikasikan diri,” katanya. (nam)