Alwi Shihab –sahabat Gus Dur sejak lama– pernah bercerita tentang Tidur Gus Dur.

Suatu malam, Alwi Shibah mendapati Gus Dur Tidur di lantai. Lantas Alwi membangunkan Gus Dur.

“Gus, bangun, bangun. Tidur di atas saja…”

“Enak di bawah, Mas.”

“Lho, ini hotel sudah kita bayar mahal, masa tidur di lantai?”

“Kalau saya ingin tidur di bawah gimana?”

“Gus, eman-eman hak kita tidur di kasur empuk ini ditinggalkan begitu saja.”

“Jangan ter

Alwi Shihab diam. Lantas melanjutkan tidurnya di atas kasur hotel yang empuk dan hangat. Gus Dur pun melanjutkan tidurnya di lantai.

Greg Barton –penulis bigorafi Gus Dur—juga mendokumentasikan bagaimana tidur Gus Dur.

1998 Jakarta Genting. Lautan manusia memenuhi jalan-jalan utama, ada pembakaran di mana-mana, pendeknya, semua orang sepertinya dapat berbuat apa saja di ibu kota negera.

Dini hari pada masa-masa itu, kira-kira pukul dua, Letnan Jendral Prabowo –Pangkostrad– meluncur bersama para pengawalnya ke Ciganjur. Tidak lain, yang dituju adalah rumah kediaman Gus Dur.

Greg bercerita, Prabowo bersimpuh, menangis sesenggukan, lalu pela-pelan memijat telapak kaki Gus Dur. Prabowo memang, kata Greg, pandai memijat. Prabowo melaporkan situasi yang sedang melanda Jakarta.

Greg juga bercerita bahwa ranjang yang dipakai Gus Dur hanyalah sebuah amben kecil yang cuma dilapisi kasur tipis.

Tanggal 4 Agustus 2009 lalu, saya datang ke Ciganjur, Jakarta Selatan. Pada hari itu Gus Dur ulang tahun yang ke-69. Saya datang bersama beberapa aktivis NU, ada Rumadi, Ahmad Baso, Nur Kholik Ridwan, Alamsyah M. Dja’far, Nurun Nisa, dan lain-lain. Kami datang malam, sekitar pukul delapan. Kata ibu Shinta -istri-  Gus Dur sudah tidur. Kami hanya mengobrol sama Ibu Shinta sebentar sambil menyantap nasi kuning.

Dua hari setelah itu, saya ketemu dengan Rumadi di kantor Wahid Insititute –lembaga yang diinisiasi Gus Dur untuk menebar toleransi dan perdamaian-. Dia bertanya pada saya,” Hamzah, Kamu tahu gak siapa yang tidur di belakangmu, di lantai depan TV 14 inchi?” “Ndak Tahu, Mas. Paling kerabat Gus Dur dari Jombang atau siapa gitu,” jawab saya.

“Itu Gus Dur,” kata Rumadi. Kami semua geleng-geleng kepala dan mengelus dada. Gus Dur tidur hanya beralaskan selembar karpet tipis, satu bantal dan bantal guling yang didekapnya, padahal dalam keadaan sakit serius. Pada waktu itu kami ngobrol biasa, senda gurau ngalor-ngidul. Rumadi pun mengaku baru tahu setelah perjalanan pulang. Itulah kebiasaan tidur Gus Dur: sangat sederhana.

Selamat tidur, Gus!