BANYAK hal yang membuat Pengurus Cabang Lakpesdam NU Kota Ambon berbeda. Dua di antaranya adalah, pertama, posisi ketua dipangku oleh perempaun. Perempuan itu bernama Hilda Djulaida Rolobessy (36).

Kedua, kehidupan sosial Kota Ambon pernah mengalami konflik berdarah yang memakan banyak korban, dari harta hingga nyama dalam jumlah masif. Situasi ini mengharuskan PC Lakpesdam NU Kota Ambon beradaptasi secara radikal, dari keadaan damai ke situasi konflik. Hampir semua program dikondisikan dengan situasi sosial yang relevan pada saat itu, yaitu rekonsiliasi konflik.

Saat ini, Lakpesdam Kota Ambon memiliki 7 pengurus inti, 3 staf program, dan 3 voluntir. Lalu bagaimana mereka bekerja? Apa porblem-problem yang dihadapinya? Di tengah-tengah kesibukan mengikuti Rakernas, Hilda Djualaida Rolobessy yang seorang sarjana ekonomi,sempat menerima Hamzah Sahal untuk melakukan mawancara ini.


Kapan Lakpesdam di daerah Anda lahir?
Kami ada sejak tahun 1999.

Apa Program Lakpesdam Ambon?
Di awa-awal berdirinya, Lakpesdam Ambon, lebih banyak melakukan kajian-kajian di bidang sosial kemasyarakatan. Kemudaian melakukan pemerdayaan ekonomi. Tapi setelah kerusuhan Ambon meletus, kami fokus melakukan pendampingan pada kelompok rentan, khususnya di Kota Ambon.

Siapa kelompok rentan itu?
Kelompok perempuan, kelompok anak-anak, dan kelompok usaha ekonomi masyarakat.

Adakah usaha yang lebih responsif?
Pada tahun 2000, Lakpesdam Ambon terlibat dan bergabung dalam gerakan “Baku Bae” Maluku. Sejak itulah, Lakpesdam Ambon fokus pada aktivitas peace building, rekonsiliasi, dan seterusnya. Kami bekerja sama dengan Jaringan Masyarakat Cinta Perdamaian, pemerintah daerah, lembaga-lembaga atau kelompok yang memiliki misi sama, yaitu menciptakan Ambon damai. Damai itu jangan diartikan hanya nir kekerasan ya, tapi lebih dari itu. Misalnya keberlangsungan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain.

Apa program Lakpesdam Ambon pasca konflik?
Tahun 2004, Lakpesdam Ambon diberi kepercayaan untuk menjadi host pada program early warning system for conflict di Maluku. Kami berpatner dengan Yayasan TIFA dari Jakarta. Program ini sudah dijalankan selama empat tahun. Selesai pada awal tahun ini.

Apa yang dilakukan Lakpesdam Ambon untuk kaderisasi?
Atas nama Lakpesdam, saya selalu menjadi narasumber pada acara-acara ke-PMII-an di kampus-kampus negeri atau swasta. Dari komisariat hingga tingkat cabang. Saya biasa membawa materi gender, dan pasti saya fokuskan pada topik-topik perdamaian, early worning system dan sebagainya. Di berbagai kesempatan, Lakpesdam Ambon juga diundang untuk menjadi fasilitator early worning system oleh berbagai NGO, ormas, dan lain-lain. Di forum-forum kami juga banyak ketemu dengan orang-orang NU.

Apa yang sedang dilakukan Lakpesdam Ambon sekarang?
Sejak bulan September 2009 lalu, kami melakukan diskusi-diskusi kampung untuk kelompok perempuan. Topiknya pendidikan perempuan, kesehatan perempuan dan keluarga, serta pemberdayaan ekonomi perempuan. Kalau pendidikan berjalan, kesehatan terjamin, keluarga haromonis, ekonomi bergerak, berarti Ambon damai dalam artian yang positif, bukan hanya nir kekerasan.

Kenapa perempuan?
Seperti yang saya sebut di atas, perempuan adalah kelompok rentan. Perempuan itu penting, karena berelasi anak, pendidikan anak, dan macam-macam. Pe-rempuan itu tidak tahu menahu soal kekerasan di luar, tapi perempuan menjadi korban yang paling menderita. Itulah kenapa perempuan.

Bagaimana Lakpedam Ambon menjalankan program?
Kami selalu melakukan assesment serta identivikasi masalah, isu-isu streategis di masyarakat. Kenapa ‘selalu’? Karena dinamika masyarakat di Ambon berubah-ubah dengan cepat.

Fokus di isu perdamaian juga?
Betul. “Radar” yang kami jalankan adalah radar konflik. Hal ini kami tekankan karena Ambon harus damai terus. Kami, masyarakat ambon ingin damai, baku bae selamanya. Assesment ini selalu berkembang pada diskusi-diskusi, baik internal Lakpesdam ataupun pihak ekternal. Kami tidak boleh lengah dari topik-topik baru di Ambon, terlalu beresiko.

Lalu?
Kami juga melalukan fund rising, rekrutmen kader-kader untuk keberlang-sungan Lakpesdam. Kami jadikan mereka voluntir, lalu jadi anggota, dan seterusnya.

Bagaimana Lakpesdam Ambon menghadapi problem?
Mulanya adalah niat dan iktikad baik, yaitu komitmen, keperpihakan dan kepedulian pada masyarakat. inilah pondasi kami bekerja. Tentu kami mengeluh karena persoalan yang kami hadapi macam-macam, mulai soal situasi dan kondisi keorganisasi di NU, hingga soal minimnya pendanaan. Tapi, dengan niat dan komitmen, kami mampu menghadapinya.

Selain niat dan iktikad baik?
Tentu ada. Niat baik tidak cukup, Mas. Diskusi cukup membantu memecahkan masalah. Dan alhamdulillah, kami masih bisa berdiskusi dengan senior-senior di pengurus wilayah NU, GP Ansor, dan lembaga-lembaga. Diskusi sangat membantu untuk memecahkan persoalan dan terus menjaga semangat baik.

Apa problem yang masih mengganjal hingga kini?
Lakpesdam Ambon tidak punya badan hukum. Gimana ya, kami masih bingung. Lakpesdam kan bagian dari NU?

Bagaimana mengatasinya?
Selesai juga. karena ini hanya soal teknis. Kami menjelaskan kepada para patner kerja. Alhamdulillah akhirnya mereka bisa memahami juga. Tapi ke depan harus ada solusi yang permanen. Biar tidak berulang-ulang menjelaskan masalah-masalah yang sama.

Problem lain?
Uang. Hahahaha…….

Harapan Anda?

Kami ingin lebih intensif berkomunikasi dengan kawan-kawan NU, utamanya dengan PBNU. Tapi kami tidak tahu, jangan-jangan bertepuk sebelah tangan?[]