Asrori S. Karni 01 Desember jam 0:31
Hamzah, bagaimana interaksimu terakhir dengan Pak Said? Apa kesaksan terakhirmu pada Pak Said?

Aku terakhir kontak via telepon pas mau berangkat ke China, pertengahan Oktober lalu, dan seperti biasa, beliau berkelakar, “jangan makan babi lho.”

Usai lebaran, saya belum pernah ketemu. Setiap mau ditengok, entah ke rumah atau ke rumah sakit, beliau selalu menolak halus, dan mengatakan, kesehatannnya sudah membaik.

——————-

Dear Mas Asrori,

saya terakhir ketemu almarhum tanggal 17 Okt. Saya ke sana silaturahim saja, karena kesehatan Pak Said sudah menurun drastis. Beliau sudah bolak-balik memeriksakan kesehatannya di RS Islam Cempaka Putih atau ke dokter pribadi. Tapi ya ‘dasar’ Pak Said, bilangnya biasa-biasa saja. “Periksa rutin,” katanya.

Seminggu sebelum itu saya datang habis magrib menemuinya untuk wawancara. Ia kelihatan seger mungkin karena baju yang dikenakan berwana putih, mungkin juga kesehatannya memang sedang membaik. Tapi baru 25 menit wawancara, darah Pak Said keluar hidung. Wawancara saya hentikan. Tapi ya ‘dasar’ Pak Said, bilangnya hanya mimisen biasa. “Mungkin karena udara panas,” katanya.

Saya yakin itu berkaitan dengan kesehatannya yang terus menurut, bukan mimisen biasa. Malam itu, meski wajah tampak segar, tapi bicaranya sang pelan dan gerakannya lamban.

Minggu terakhir Oktober almarhum telepon saya. Pak Said menanyakan tulisan saya, juga menanyakan kabar saya, yang memang seminggu tidak berkirim SMS. Setelah bicara sebentar, saya dikasih bicara dengan Syahrizal, menantunya yang dosen-dokter itu, Ketua LPK NU. Syahrizal mengajakku ketemuan.

Dua hari setelah itu saya ketemu Syahrizal dan istrinya di warung kopi deket Pancoran. Kami bicara kesehatan Pak Said. Mereka bilang bahwa secara medis, umur Pak Said tidak akan lebih dari enam bulan lagi. Tapi di tengah kesehatan yang menurun itulah, Pak Said ingin kesehatannya pulih kembali. Keinginan ini berbeda ketika awal-awal dia sakit. “Cueknya minta ampun,” kata Emila.

Dalam kondisi seperti itu, sebenarnya Syahrizal mengizinkan saya untuk wawancara barang 30 menit tiap hari. Beberapa kali saya kontak via sms dan telepon. Responnya cukup lama. Saya tidak tega untuk meneruskannya. Tapi Pak Said merespon dengan cepat 4 kali email saya lewat BB. Saya konfirmasi beberapa data, dari soal nama ibunya, hingga MUI.

Tgl 4 Nop Pak Said email. Beliau minta dua halaman tulisan pertama dan dua halaman terakhir dari tulisan saya. Saya kirim hari itu juga. Besoknya Pak Said kirim email. Isinya membetulkan tulisan saya, “Tidak ada ‘TIM 24’. Adanya ‘Majlis 24’.”

Setelah email itu tidak ada kontak darinya. Sekali saya SMS dan telepon. Tapi tidak ada respon. Waktu Idul Adha kemarin saya ingin mengontaknya lagi, sekedar tanya kesehatan dan ucapan hari raya haji. Tapi ora kelakon. Saya lupa.

Pak Said di rumah sakit tidak ada yang tahu. Dan ternyata bukan hanya saya yang tidak diberi kabar. Mas Arief Mudatsir yang senior dan ketua IKA-PMII juga tidak tahu.

Ya itulah Pak Said, diam untuk urusan pribadinya. Saya inget betul beliau protes keras ketika saya sebarkan ke beberapa kawan bahwa dirinya sedang sakit.

Terakhir denger kabarnya ya kemarin itu. Mas Syahrizal berkirim SMS, “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah, hm said budairy jam 11.05. Dimakamkan jam 16.00. brgkt dr jl mampang prapatan II no 74. alamat pemakaman Midday BB 55 no. 7 San Diego Hills.”

La-hul-fatihah…..

Salam,
Hamzah