Selasa, 18 Agustus 2009 | 03:58 WIB

Jakarta, Kompas – Jurnal ilmiah belum menjadi wadah utama para dosen dan peneliti untuk memublikasikan hasil penelitian dan pemikiran-pemikiran mereka. Dosen lebih suka menulis untuk bahan seminar atau artikel di media massa yang lebih mudah penggarapannya.

Seperti diungkapkan dosen Planologi Universitas Trisakti, Jakarta, sekaligus Ketua Bidang Kajian dan Perencanaan Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia, Yayat Supriatna, Jumat (14/8), menulis di jurnal ilmiah harus berdasarkan riset atau kajian. Secara umum, kenyataannya, dana riset terbatas. Sebagian riset biasanya merupakan proyek kerja sama peneliti di perguruan tinggi dengan berbagai instansi. ”Penulisan hasil riset proyek tersebut masih harus dimodifikasi untuk dapat termuat di jurnal ilmiah,” ujarnya.

Di sisi lain riset membutuhkan waktu penyusunan dan dana penelitian yang tidak sedikit. Di tengah minimnya kesejahteraan para pengajar, kerja ilmiah dan publikasi tersebut menjadi terkesampingkan. Pemikiran-pemikiran akademisi akhirnya lebih banyak disalurkan lewat seminar yang menempatkan mereka sebagai pakar. Sebagian dosen dan peneliti juga menyampaikan gagasan dan pemikirannya lewat artikel di media massa.

”Begitu terjadi banjir, misalnya, yang muncul kemudian ’banjir’ seminar dan terhenti di situ tanpa implementasi dan pemanfaatan hasil riset sesungguhnya,” ujarnya.

Tambahan penghasilan

Tidak dapat dimungkiri, kerja penelitian proyek, menjadi pembicara dalam seminar, dan menjadi penulis di media memberikan tambahan penghasilan yang sangat dibutuhkan para pengajar di perguruan tinggi. Tidak sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk peningkatan keilmuan mereka.

Hal senada diungkapkan dosen sekaligus pengamat filsafat dan politik pendidikan, Mohammad Abduhzen. Ketua Departemen Litbang Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tersebut mengatakan, publikasi ilmiah berbasis riset membutuhkan biaya besar. ”Pemikiran akhirnya lebih banyak dituangkan dalam bentuk artikel,” ujar Abduhzen.

Secara umum, Abduhzen berpendapat, penghargaan terhadap karya ilmiah di Tanah Air masih sangat rendah. Kultur akademik belum tumbuh dan belum membudaya di kalangan para akademisi. (INE/ELN)