Eka Tjipta Foundation mengumumkan enam orang penerima beasiswa liputan panjang, dari liputan soal burung “trulek Jawa” hingga nasib seorang bocah, kakinya dilindas kereta api akibat penganiayaan bapak sendiri. Masukan enam peserta ini dinilai paling menjanjikan dari total 15 proposal yang masuk.

“Ketika kami membahas semua proposal, saya tak sangka rapat ini berubah menjadi diskusi mendalam dan bermutu. Kami sangat senang bisa mendapatkan proposal-proposal yang kuat. Semua mengesankan. Namun kami toh akhirnya harus menciptakan kriteria dan memilih,” kata San Gunawan, direktur eksekutif Eka Tjipta Foundation.

San Gunawan ikut dalam rapat seleksi bersama Andreas Harsono, Charles Wiriawan dan Fahri Salam. Penjurian didasarkan pada kompetensi pelamar, kelengkapan proposal serta time frame dan biaya.

Keenam orang ini adalah peserta dari kursus narasi Eka Tjipta Foundation di Jakarta. Menurut G. Sulistiyanto, Ketua Umum Eka Tjipta Foundation, kursus ini diadakan atas masukan dari beberapa tokoh masyarakat agar Eka Tjipta Foundation membantu para profesional organisasi kemasyarakat maupun organisasi non-pemerintah belajar menulis. Kursus diampu oleh tiga wartawan: Andreas Harsono, Anugerah Perkasa dan Fahri Salam.

Elisabeth Repelita Kuswijayanti (ETF II) hendak meliput operasi menangkap pembalak liar tahun lalu di daerah hutan Cigugur, Ciamis, dekat Tasikmalaya. Tata hendak menulis soal operasi itu, termasuk penangkapan beberapa aktivis Serikat Petani Pasundan. Ada tuduhan polisi menganiaya para tersangka.

Much. Darisman (ETF III) hendak meliput sengketa antara warga Kampung Glinseng dan PT Indah Kiat Pulp & Paper di daerah Serang. Ini ekor dari sengketa tanah warga seluas 1.2 hektar yang terletak di kawasan Indah Kiat.

Irma Dana (ETF I) akan meliput burung “trulek Jawa” (vanelus macropterus). Keberadaan trulek Jawa paling akhir dicatat pada tahun 1940, zaman Hindia Belanda, di delta Sungai Citarum. Irma hendak meneliti laporan masyarakat Lumajang, sekitar tiga jam dari Surabaya, soal kemungkinan munculnya “trulek Jawa” di sawah-sawah sekitar Lumajang. Burung ini sudah dianggap punah.

Rahmi Fitria (ETF II) hendak bercerita soal nasib seorang bocah, Endy Tegar Kurniadinata, umur 3.5 tahun, yang dianiaya ayahnya sendiri. Caranya, kaki kanan Tegar dilindaskan kereta api di desa Robahan, Madiun. Kaki Tegar buntung. Ayahnya dipenjara. Rahmi hendak pergi ke Madiun dan melakukan liputan soal tragedi ini.

Hamzah Sahal (ETF II) menulis profile M. Said Budairy, seorang wartawan-cum-aktivis Nahdlatul Ulama. Budairy pribadi unik. Dia wartawan sekaligus aktivis Muslim. Budairy ikut mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia maupun Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia NU.

Indra Poernomo (ETF III) akan melakukan upaya investigasi perdagangan satwa liar di Jakarta. Dia ingin tahu bagaimana bisnis ini digerakkan? Bagaimana operasi-operasi melawan bisnis ini selalu gagal? Siapa aktor bisnis ilegal ini? Apa hubungannya dengan bisnis narkotika dan obat keras?

G. Sulistiyanto mengucapkan selamat kepada para penerima beasiswa. “Ini proyek pemberian beasiswa liputan pertama kali dari Eka Tjipta Foundation. Bila pilot project ini dianggap berhasil, kami hendak mengembangkan dan memperluasnya,” kata Sulistiyanto.

Peserta bisa menawarkan naskah ini untuk diterbitkan di media mana pun, termasuk media milik organisasi mereka masing-masing. Eka Tjipta Foundation memiliki hak memakai naskah-naskah karya peserta untuk keperluan penerbitan ETF.

Eka Tjipta Foundation adalah organisasi amal milik pengusaha Eka Tjipta Widjaja serta anak-anak dan cucu-cucunya. Ia bergerak di bidang pendidikan dan lingkungan hidup. Keluarga ini adalah pemegang saham utama kelompok Sinar Mas. Ketua badan pengurus yayasan adalah G. Sulistiyanto.

Anugerah Perkasa wartawan harian Bisnis Indonesia. Andreas Harsono seorang wartawan, blogger, periset, periset, kini juga ketua Yayasan Pantau, di Jakarta. Charles Wiriawan adalah manajer program pendidikan Eka Tjipta Foundation. Fahri Salam seorang wartawan freelance, berafiliasi pada Yayasan Pantau. (http://www.ekatjiptafoundation.org/index.php?id=45)