Selasa, 11 Agustus 2009 | 03:35 WIB

Sampul Jurnal Tashwirul Afkar edisi 20

Sampul Jurnal Tashwirul Afkar edisi 20. Di Komas, sampul ini tak ada.

Jakarta, Kompas – Tradisi menulis karya ilmiah dan memublikasikannya di jurnal ilmiah berakreditasi nasional maupun internasional belum sepenuhnya terbentuk di kalangan pengajar di perguruan tinggi. Masih banyak kendala untuk kegiatan tersebut, terutama motivasi yang rendah.

Dr Swastiko Priyambodo dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, Senin (10/8), motivasi menulis dan memasukkannya ke jurnal ilmiah masih rendah dan sistem yang ada belum mendorong ke arah itu.

”Memublikasikan karya ilmiah ke jurnal membutuhkan usaha keras dan cukup rumit. Karya harus ada unsur kebaruan dan orisionalitasnya,” ujarnya. Selain itu, karya-karya yang masuk akan diseleksi ketat dan dinilai kelayakannya oleh para pakar di berbagai bidang keilmuan.

Belum lagi untuk masuk ke jurnal ilmiah harus mengeluarkan dana. Sebagai contoh, untuk jurnal internasional berakreditasi internasional per lembar sekitar 50-100 dollar Amerika Serikat. Adapun jurnal berakreditasi nasional sekitar Rp 500.000 per sepuluh lembar. Biaya tersebut dapat bervariasi.

Sementara itu, sistem yang membentuk atau ”memaksa” dosen untuk memublikasikan karya ilmiahnya di jurnal ilmiah belum ada. Dia mencontohkan, di perguruan tinggi di sejumlah negara, antara lain Jepang, terdapat keharusan bagi para mahasiswa program doktor untuk publikasi jurnal ilmiah minimal dua kali sebagai syarat untuk sidang doktor.

”Di Eropa, seperti di Jerman, para pembimbing mahasiswa program pascasarjana selalu mendorong mahasiswanya untuk mengirimkan karya ke jurnal ilmiah,” ujarnya.

Di Institut Pertanian Bogor, menurut Swastiko, sudah dimulai berbagai dorongan memasukkan karya ilmiah bagi para mahasiswa program doktor. ”Minimal ke jurnal berskala nasional,” ujarnya.

Kenaikan pangkat

Hal senada diungkapkan pengajar di Universitas Negeri Jakarta, Lodi Paat. Dukungan dari perguruan tinggi agar para pengajar menulis di jurnal ilmiah antara lain dengan adanya keharusan menulis dan meneliti sebagai syarat kenaikan pangkat.

”Para dosen sudah melakukan. Tetapi kualitasnya masih bisa dipertanyakan. Jurnal ilmiah di Indonesia juga tidak banyak. Persoalan lainnya, tidak semua pengajar terbiasa menulis. Apalagi, infrastruktur pendukung, seperti perpustakaan dengan koleksi memadai sebagian juga masih minim. Membaca dan menulis itu saling terkait,” ungkapnya.

Di sela-sela acara simposium penelitian pendidikan pekan lalu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengungkapkan, pemerintah akan memberikan bantuan untuk pengembangan jurnal ilmiah.

Untuk jurnal ilmiah yang belum terakreditasi secara nasional akan dibantu Rp 50 juta per tahun. Adapun jurnal yang telah berakreditasi nasional, sebagian terpilih mendapatkan bantuan Rp 150 juta per tahun guna mengembangkan diri sehingga mampu menembus akreditasi internasional. (INE: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/11/03355765/motivasi..menulis.karya.masih.minim)