Rabu, http://www.antaranews.com, 29 Juli 2009 12:34 WIB | Artikel | Resensi Buku |

Jafar M. Sidik

Jakarta (ANTARA News) – Jika Anda jurnalis televisi atau fotografer yang terbiasa meliputi konflik, Anda mungkin tak asing dengan nama ikonik Martin Fletcher, jurnalis veteran yang kini menjadi Kepala Biro jaringan televisi NBC di Telbreaking-news Aviv.

Peraih lima penghargaan Emmy ini berbagi pengalaman jurnalistiknya dalam otobiografi renyah nan bermakna, “Breaking News; A Stunning and Memorable Account of Reporting from Some of the Most Dangerous Places in the World,” terbitan Thomas Dunne Books, Maret 2008.

Dalam lebih dari tiga dekade meliput perang, revolusi, dan bencana, Martin merintis karir dari seorang kamerawan hingga akhirnya menjadi produser dan wartawan perang kawakan yang dihormati dunia.

Mulanya, dia hanya pemuda yang menerjuni dunia kewartawanan agar bisa melihat dunia. “Saya bukan orang muda yang diutus untuk menyelamatkan dunia, sebaliknya yang saya buru adalah uang dan kesempatan berkeliling dunia,” katanya agak berseloroh.

Dia tak mempersiapkan diri menjadi wartawan perang, bahkan dia tak terlatih mengoperasikan kamera video. Tapi akhirnya dia selalu ada di tengah perang. “Saya adalah saksi kelahiran Hizbullah di wilayah pendudukan Israel di Lebanon Selatan pada 1982. Lima tahun kemudian, pada 1987, saya menyaksikan Sheikh Ahmad Yassin mendirikan Hamas.”

Kendati mengisahkan kengeriaan, nestapa, kematian dan kehancuran, Martin tak mendedah semua itu dengan dramatisasi atau narasi yang narsistis, malah dia menyisipinya dengan tuturan dan kisah-kisah konyol nan jenaka.

Satu hari pada 1967, ketika Arab dan Israel berperang, Martin masih hijau pengalaman, apalagi meliput perang. Wartawan top Inggris dari Sunday Times, Nicholas Tomalin, menasihatinya agar jangan jauh-jauh dari konvoi tentara. Ironisnya, justru mobil Nicholas yang dihantam roket anti tank Suriah, hanya lima menit setelah menasihati Martin.

Nyaris tak ada perang sejak 1960an hingga kini yang tak diliputnya, dari Siprus, Bosnia, Kosovo, Somalia, Rhodesia, Zaire, sampai Aghanistan. Dia berada di daerah konflik dan bencana, dari Rwanda, Sudan, sampai Kamboja. Dia pernah ditanya, “Mengapa kamu pergi ke Zaire? Di sana kan bahaya.” Dia menjawab, “Untuk itulah saya pergi.”

Kian tua, perspektif jurnalistiknya semakin matang dan melihat konflik lebih luas dari sekedar propaganda, tentara, senjata dan kehancuran. Adalah Irv Margolies, Kepala Biro NBC di London yang mengubahnya, “Orang tak peduli pada bangunan, pesawat atau senjata. Orang peduli pada orang.”

“Sejak itu, untuk pertamakali dalam hidupku, saya menjadi hanyut lebih dalam pada tragedi manusia di sekitar saya,” aku Martin.

Dia semakin hirau pada etika dan moral berita, termasuk saat menggali pendapat para pelaku kejahatan kemanusiaan dan panglima perang penindas rakyat.

Batinnya selalu bertanya, etiskah menyantap makanan yang dihidangkan pemimpin yang merampoki rakyatnya sendiri? Pantaskah mengambil gambar korban perang yang tengah meraung menangis, hanya dua meter darinya? Beranikah kita tetap kritis terhadap penindas rakyat padahal mereka sedang menentukan nasib hidup kita?

“Saya menjadi gampang tersentuh oleh orang-orang yang saya liput, menjadi lebih sensitif terhadap garis yang mesti saya seberangi untuk diberitakan,” katanya.

Dia pun menempatkan korban sebagai subyek, tidak lagi sebagai obyek. Katanya, tak ada yang lebih baik ketimbang membiarkan orang menceritakan kisahnya sendiri.

Maka, semakin dalamlah dia memotret orang-orang terpinggirkan, mereka yang disudutkan dan tak dikanalisasi media, mereka itu termasuk penjahat perang dan orang-orang dari gerakan perlawanan yang kadung disamakan dengan teroris. Itu dilakukannya karena dia merasa memikul tanggungjawab untuk mengajak manusia menghentikan kebencian dan penderitaan.

Namun ketika NBC mengeluarkan kebijakan, mengurangi TED (Time exposed to danger) atau mempersempit ruang publikasi bagi para perusak kemanusiaan, Martin mematuhinya. Sewaktu ditawari mewawancarai Abu Musab al-Zarkawi, teroris sadis yang dihargai 25 juta dolar AS, Martin menampik demi TED.

“Mereka akan menerbangkanku ke Baghdad, lalu mengantarkanku ke teroris Alqaeda di lapangan. Saya menolak secara halus.”

Kemudian Rwanda mengubah dirinya. Di situ, Martin mulai berani mencampakkan sensasi dan eksklusivitas liputan. Ketika kamerawannya melihat gambar “kuat” berupa gelimang mayat korban genosida sehingga dimintanya mobil berhenti agar bisa mengambil gambar, untuk pertama kali dalam karir jurnalistiknya Martin berkata, “Tidak, saya tak ingin melihatnya, jalan terus.”

Independen

Martin menyesali keterlambatannya di Rwanda, tapi dia lebih menyesali dunia yang lambat mencegah pembantaian ratusan ribu orang hanya gara-gara etnis. Dia lalu semakin fokus pada korban perang, apalagi sejak awal dia tak tertarik meliput raja atau presiden atau liputan-liputan seremonial.

“Saya jarang mewawancarai kepala negara atau bos perusahaan. Saya tak peduli apa yang jenderal-jenderal katakan. Tak seorang pun yang menjual cerita kepadaku, dan tak satu pun kebijakan yang mengubah pandanganku. Saya hanya peduli pada orang yang menjadi korban,” tulisnya.

Di otobiografinya ini, Martin menumpahkan rangkaian petualangan hidupnya yang mengekspos dilema-dilema yang dihadapi seorang jurnalis di wilayah konflik.

Dia mengupas teror bunuh diri, kelaparan, dan perang dari perspektif yang berbeda dari kebanyakan jurnalis. Dia tidak kagok berdekatan dengan tokoh-tokoh antagonis seperti panglima perang Somalia Mohammad Farrah Aidid atau para aktivis Palestina, termasuk para pemuda Brigade al-Aqsa. Tetapi dia juga tak pernah kehilangan pandangan jernih, kekritisan dan independensinya.

“Saya ngeri dengan kekerasan, simpati kepada korban, memahami peneror yang adalah juga korban yang terperangkap oleh lingkaran kebencian sejak mereka dilahirkan,” katanya merujuk aksi bom bunuh diri warga Palestina.

Dia lukiskan dilema itu lewat tuturan seorang ibu Israel, Nurit Peled-Elhanan, yang anaknya menjadi korban bom bunuh diri.

Ditelepon PM Israel Benjamin Netanyahu yang hendak berbelasungkawa, Nurit menampik. “Dia (Netanyahu) berpikir seperti teroris. Saya menyalahkannya karena membuat peneror bunuh diri terinspirasi oleh pandangan (politiknya).”

Semakin senja, Martin kian menolak eskpos dentuman meriam, salak senjata, atau derap langkah tentara sehingga ketika meliput Sudan dan Kosovo, dia begitu bergairah menggambarkan pada dunia betapa manusia di bagian lain menderita karena lapar, kebrutalan perang dan diabaikan.

Dia merasa sudah tugasnya memperlihatkan dan melaporkan pada dunia apa yang terjadi, sekaligus belajar dari situ. “Saya bukan polisi, saya tak mampu menawari jawaban, tapi saya bisa membantu korban menyampaikan apa yang menjadi pertanyaan mereka sampai mereka tahu dunia mempedulikan mereka.”

Untuk itu, dia videografikan habis-habisan Fida, bocah Sudan yang sekarat dan digendong ayahnya ke tenda pengungsi setelah berjalan sejauh 120 mil. Dia tampilkan Fida agar dunia tergugah pada derita Afrika. Pun ketika di Kosovo, dia close up Yehona, gadis cilik yang tercerabut dari keluarganya setelah kampungnya dibabat para pembunuh rasialis.

Martin juga kerap menjadi orang pertama yang mengekspos bukti kekejaman perang dan konflik bersenjata sehingga dunia tergugah.

Semakin tua, disamping semakin humoris dan gemar menertawai petualangan hidupnya yang gemar menantang maut, tidak berubah narsis, Martin kian dekat pada orang-orang yang dinistakan oleh dunia, oleh pemimpin, tatanan dan media massa.

Dia menjalani evolusi, dari seorang jurnalis petualang, menjadi guru yang melihat semua hal dari segala sudut.

Di akhir bagian bukunya, dia menulis, “Di dunia yang terobsesi selebritis, kemewahan, dan (kisah) sukses, saya fokus pada mereka yang terpinggirkan dan menjadi korban. Kini saya yakin bahwa kerjaku adalah juga berupa perjalanan mencapai penemuan, dalam mana saya berupaya memahami derita keluargaku sendiri dengan menjadi saksi dan menyelami penderitaan orang lain.”

Asal tahu saja, hampir seluruh keluarga kedua orangtua Martin musnah dihabisi Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua. (*)