Namanya MANTO, nama Tionghoa Theng Jie Ie. Lahir 1955, tanggal 1 Maret di Surabaya. Setahun setelah Jacky Chen lahir di tahun 1954. Sejak kecil tidak punya cita-cita. Sebabnya ekonomi sulit. Ia lahir setelah21 tahun pernikahan kedua orang tuanya. Sehingga Jie ie berkembang setelah kedua orang tuanya terlalu tua.

Angka tahun 21 itu diabadikan menjadi nama “Jie Ie” yang berarti 21.

Sekarang ia sering ketawa sendiri di tengah malam. Juga siang ketika bengong. Sekelilingnya berkata dia gak waras.

Sudah 2 minggu aku tinggal bersama Jie ie di rumah seorang eksportirkan hias laut bernama Handoko Yudha Prawira alias Raden The Tong An. Tong An adalah keturunan “raja kecil” yang berkuasa di Kebumen. Silsilah keluarganya bertautan dengan keluarga “Kolopaking” . Novia Kolopaking jelas satu keluarga dengan Tong An, sekalipun tidak saling mengenal. Tetapi di pohon keluarga besar bangsawan Kolopaking, nama ayah Novia masuk daftar keturunan raja-raja Kolopaking, seperti RadenThe Tong An.
Jie Ie bilang ia pernah kursus bahasa Inggris dan Montir. Ia tidur di sofa usang berwarna merah di ruang tamu, dekat kolam anak ikan Moa dan kandang burung Bangau hitam. Open air, banyak nyamuk
dan bau adalah beberapa hal yang identik dengan “ranjang” Jie Ie.

Sore ini dia masih mencukur rambutnya yang tinggal sejumput di atas ubun-ubun. Sudah tiga hari ia menjadi pusat perhatian dan pembicaraan orang-orang di sekitar. Termasuk saya. Selama tiga hari ini dia tidak henti-hentinya berdiri di depan cermin toilet, mencukurrambutnya sendiri, dengan rapih. Alat cukurnya pun sederhana, hanyasisir dan silet. Saya tidak tahu bagaimana ia bisa mencukur sendirirambutnya dengan cara seperti itu.

Mata Jie Ie sering nyalang. Badannya kurus karena tidak punya soulmate. Hobinya cuma satu saat ini, main gadget handphone LG tipe KG 270.

Tiga hari yang lalu, sehabis mencukur rambut dan menonton film porno ia membuat kehebohan. Ia ribut dengan sepupunya, ko Andy, sahabat saya. Ia ngotot bahwa menjemur celana jeans di gantungan dan dipakai langsung di badan sama manjurnya.

Ia ngotot memakai celana jeans yang baru saja ia cuci dengan Rinso. Basah dan lembab. Kami heran. Ia mengajari saya bahwa pakaian yang baru dicuci sebaiknya langsung dikenakan, lebih bagus jika terkena AC Mobil. Keringnya lebih cepat daripada dijemur. Saya mengangguk tidak tau menjawab apa. Tapi saya memberanikan diri menyentuh celana jeansnya. Ya basah kuyup. Dan Jie Ie bangga telah menemukan metode mengeringkan pakaian dengan efektif.

Tapi Jie Ie tidak pernah merasa kesepian. “karena disini banyak teman,” kata Jie Ie sambil bermain handphone.

Kemarin ia bilang Indonesia masih dijajah secara teknologi oleh Amerika. Di pemilu tanggal 9 April kemarin, ia mencoblos Demokrat dan akan nyoblos SBY nanti di pilpres. Sebabnya, “Demokrat dan SBY adalah simbol reformasi” katanya. “Kalo pilih yang lain ya bukan reformasi,” sambungnya.

Anak-anak Papua asuhan Pak Handoko sering meledek Jie Ie. Tetapi kalau Jie Ie ngamuk, anak-anak Papua ini pasti jumpalitan. Dulu, Jie Ie pernah ngamuk. Pintu, lampu dan beberapa perabotan jadi korban. Sebabnya tidak diberi uang saku. Malam sebelumnya mabuk berat.

Jie Ie baru kapok setelah Bamin, seorang mantan preman yang pernah membunuh tiga orang preman kakap, memperingati agar tidak berulah. Bamin sekarang seorang penyembuh spiritual. Saya pernah merasakan kesaktian Bamin. Jempolnya bisa mengeluarkan hawa panas tinggi. Leher saya pernah merasakan panas jempol Bamin. Leher Tarso, pegawai Handoko, sampai gosong ditempel jempol Bamin. Saya tidak mampu merasionil kemampuan seorang Bamin.

Malam ini, Jie Ie menyilangkan kedua tangannya dibalik kepalanya yang sudah gundul. Terbaring di atas sofa kusamnya. Di depannya masih ada burung Bangau hitam. Matanya tertuju ke langit-langit. Entah apa yang dipikirkan Jie Ie. Tetapi yang pasti besok ia kembalikan merokok dan membuatkan kopi lagi. Mungkin ia lebih bahagia dibanding beberapa orang normal. (oleh Ken Ken)