London – Ketika beberapa waktu lalu petinggi Gereja Anglikan mengajukan permintaan kepada pemerintah agar melarang penyelenggara sepakbola Inggris untuk tidak lagi memainkan pertandingan pada hari Minggu Paskah maupun hari besar keagamaan lain, tiba-tiba saja pengertian sepakbola adalah agama di Inggris ini seperti mendapat pemaknaan yang sesungguhnya.

Munculnya permintaan dari para petinggi keagamaan Anglikan menimbulkan pertanyaan: jangan-jangan mereka memang menganggap sepakbola telah benar menjadi agama tersendiri? Bukan sekadar itu, tetapi juga jangan-jangan menganggap sepakbola telah secara langsung menganggu eksistensi Gereja Anglikan?


Permintaan itu juga diikuti dengan seruan agar klub-klub Inggris, termasuk penggemar bola, mengingat kembali akar kekristenan mereka. Libur kegamaan adalah waktu bagi umat untuk kembali merenungi nilai-nilai keagamaan, kembali ke gereja? Bukankah klub-klub Inggris kebanyakan memang berawal dari komunitas gereja sebelum sepakbola meledak menjadi kegiatan sosial dan kemudian komersial?

22-03-liga-inggris
Sebetulnya ketika banyak orang menganggap sepakbola sebagai sebuah agama, tidaklah lalu pernyataan ini menjadikan sepakbola sebagai agama. Tetapi lebih untuk sekadar menunjuk perilaku ritus-sosiologis penggemar bola yang tak beda jauh dengan penganut agama.

Ketaatan untuk mendatangi stadion atau setidaknya menonton siaran langsung pertandingan, bersedekah walau imbalannya bukan janji sorga tetapi mungkin kaos dan tiket musiman, membahas segala sesuatu pernik peristiwa sepakbola layaknya menelaah kitab suci, dan dengan tekun mencari dan percaya munculnya mesiah-mesiah dalam wujud pemain maupun manajer, dan masih banyak lagi.

Yang jelas sepakbola memang menjadi fokus rutinitas kehidupan dengan segala eksesnya, baik yang bersifat material dan sosial (maupupun — berlebihan mungkin — spiritual).

Keprihatinan petinggi gereja Anglikan sebetulnya bisa dimaklumi. Cobalah tengok jadwal persepakbolaan Inggris ini. Kapan masa tersibuk dalam kalender tahunan sepakbola Inggris? Jawabnya selalu seputar libur Natal dan Paskah.

Libur Natal dan Paskah jelas pada awalnya diberlakukan untuk memberi kesempatan kepada umat untuk mengonsentrasikan diri merayakan pada dua peristiwa kegamaan paling penting di Inggris ini. Menyegarkan kembali diri pada nilai paling dasar kehadiran Kristus di dunia.

Tetapi kita tahu itu tak berlaku untuk ummat sepakbola Inggris yang notabene juga umat Anglikan. Dua minggu libur Natal oleh para administrator sepakbola Inggris secara sengaja diatur menjadi sebuah jejalan jadwal sepakbola yang tanpa kendat.

Di dua minggu Natal inilah bukannya orang berbicara tentang nilai-nilai dasar kekristenan tetapi malah seringkali dijadikan ukuran apakah kejuaraan akan dimenangi, atau lepas sama sekali. Periode Natal bukannya berbicara tentang kelahiran Kristus tetapi tentang kelahiran peluang menjuarai liga atau ancaman degradasi.

Paskah? Sama saja. Jadwal pertandingan padat total. Umat sepakbola tidak berbicara tentang kebangkitan Kristus tetapi mengenai apakah klub yang sepertinya telah terkubur impiannya untuk menjuarai liga ataupun terperam di zona degradasi bisa bangkit kembali.

Petinggi gereja khawatir bukan hanya bahwa hari libur kegamaan terkooptasi oleh sepakbola tetapi bahkan sepakbola mulai menggunakan analogi keagamaan untuk memaknai kalender kompetisi mereka.

Tetapi berlebihankah kekhawatiran ini? Tak tahulah.
===
Liza Arifin – detiksport, Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London.