Tiba-tiba istri saya memeluk erat tangan saya sambil memperlihatkan wajah pucatnya. Ia mengaku ketakutan setelah mendengar beberapa orang meneriakkan takbir. Sebuah pemandangan ironi bagi saya. Betapa tidak, ia adalah seorang sarjana Islam, berjilbab dan sehari-hari mengerjakan shalat lima waktu, pengajian dan segudang aktivitas selayaknya muslimah lain. Tidak hanya itu. Ia juga berlatar belakang keluarga agamis bahkan tinggal di rumah yang satu pelataran dengan masjid, lantas merasa ngeri mendengar takbir. Tetapi itulah yang terjadi saat itu di Hotel Accacia Jakarta. Takbir yang seharusnya mendamaikan hati pendengarnya, kali itu berubah menjadi menegangkan dan menakutkan. Dalam sejarah Islam, takbir juga biasa dipekikkan di saat-saat perang untuk membakar semangat pasukan Islam melawan kedzaliman. Tetapi tentu saja Accacia saat itu bukanlah medan perang tempat pekikan takbir sebagai peletup ghirah perlawanan dan menakutkan.

Peristiwa itu terjadi ketika saya dan beberapa orang teman menghadiri seminar bertajuk Implementasi Nilai Syari’at Islam dalam Masyarakat dan Negara Menuju Indonesia yang Religius, Adil dan Sejahtera. Dalam seminar yang digelar Lajnah Pimpinan Wilayah MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) DKI Jakarta dan Lembaga Kajian Islam Al Manar dihadirkan pembicara pemimpin utama MMI Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj (Kang Said). Ketiganya adalah tokoh Islam yang sangat disegani di Indonesia. Sebagai moderator Hamzah Sahal seorang intelektual muda Islam alumnus Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Mengingat mayoritas hadirin dan pembicara atau barangkali semuanya Muslim. Tentu saja tidak sedikitpun perlu dikhawatirkan akan ada kekuatan lain yang membahayakan atau anti Islam. Pertanyaan saya lalu, untuk siapa takbir menakutkan itu diteriakkan. Tentu saja hadirin berharap banyak dapat menimba ilmu pengetahuan dari para nara sumber dan bisa berdiskusi. Tetapi suasananya ternyata jauh dari ilmiah bahkan menegangkan.

Sangat disayangkan kedalaman ilmu konsep Islam dan Kekuasaan seorang Ustdaz Abu Bakar Ba’asyir, gagasan negara Islam Ismail Yusanto dan Kang Said dengan konsep dakwah damainya harus direduksi oleh kesan yang menegangkan. Di zaman Khalifah Umar bin khatob atau Ali bin Abu Thalib, atau saat Perang Badar dan Uhud yang dalam suasana hidup mati, maka wajar jika pekik takbir dikumandangkan untuk memberikan semangat jihad para tentara muslim dan rasa takut bagi kelompok musuh. Tetapi di Hotel Accacia, di negeri yang sudah puluhan tahun merdeka, dan dengan penduduk mayoritas Islam terlebih dalam sebuah forum diskusi ilmiah ke-Islam-an bukankah takbir mendamaikan yang seharusnya diperdengarkan.

Tetapi itulah yang terjadi saat itu. Jika melihat semangat takbir dan mengandaikan dengan Perang Badar atau Uhud, maka tersirat bahwa sang pemekik takbir sedang merasa dirinya terancam oleh kelompok tertentu yang tidak suka kehadirannya. Atau saat itu dalam suasana perang, atau pemekik takbir merasa ada musuh dalam ruangan seminar tersebut yang harus ditakut-takuti. Pekik takbir itu tentu saja menimbulkan beragam tanggapan. Bagi istri saya mungkin hanya rasa takut. Tetapi bagi mereka yang tidak terlalu konsen pada perkembangan wacana keislaman tentu saja akan kesan yang lebih dari itu. Setidaknya ada dua kesan yang mungkin timbul. Pertama, mereka akan berkesimpulan saat ini Islam dalam kondisi yang terancam. Atau yang kedua, Islam telah menyiapkan sebuah perang besar.

Dua pandangan terakhir itu semakin dikuatkan oleh kasus pencekalan intelektual Islam asal Mesir Prof. Nasr Hamid Abu Zayd. Menteri Agama Republik Indonesia melalui Direktur Pendidikan Tinggi Islam Prof. Abdurrahman Mas’ud PhD memperingatkan Abu Zayd untuk membatalkan presentasinya di Malang Jawa Timur, seperti yang disampaikan Abu Zayd dalam konferensi persnya di kantor the WAHID Institute, Senin (26/10). Permintaan pembatalan itu karena tekanan kelompok Islam tertentu yang menganggap pemikiran Abu Zayd akan membahayakan Muslim di Indonesia. Dalam sebuah wawancara dengan wartawan di Jember, Jawa timur, Maftuh Basuni mengaku tidak pernah mencekal Abu Zayd. Menurut Maftuh, ia hanya merasa eman-eman (sayang) kalau kedatangan Abu Zayd sampai didemo atau lainnya, seperti ditulis situs resmi PBNU. Tetapi bagaimanapun juga peringatan menteri agama itu sebuah kekhawatiran yang berlebihan, seorang Muslim takut kepada Muslim yang lain.

Sejatinya kelompok yang merasa khawatir dengan pemikiran Abu Zaid atau kelompok yang gemar meneriakkan takbir dengan nada menakutkan tidaklah banyak apalagi sampai merepresentasikan Muslim Indonesia. Lalu mengapa peristiwa-peristiwa yang mengubah wajah Islam Indonesia itu terjadi? Dalam pengamatan saya setidaknya ada tiga hal yang menjadi penyebab utama. Pertama adalah perlakuan pemerintah yang sangat memanjakan Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI adalah sebuah organisasi masyarakat yang posisinya tidak lebih dari ormas-ormas lain seperti NU, Muhammadiyah atau Persis. Bahkan MUI tidak memliki pengikut yang jalas seperti NU, Muhammadiyah, Persis, MMI atau HTI. Frase Majelis Ulama Indonesia seharusnya tidak diartikan secara harfiah sehingga melahirkan anggapan bahwa MUI adalah representasi ulama di Indonesia. MUI boleh saja memberikan fatwa tetapi tentu saja tidak harus menjadi rujukan dan tidak berlaku mengikat bagi umat Islam di Indonesia. Pemerintah seharusnya menanggapi fatwa MUI seperti pemerintah menanggapi hasil bahtsul masa’il di kalangan NU atau sidang tarjih Muhammadiyah atau rekomendasi hukum yang diberikan oleh ormas Islam lain. Fatwa yang dikeluarkan MUI seharusnya tidak diperlakukan seperti fatwa-fatwa ulama pada masa kekhalifahan Islam. Karena tidak hanya karena sistem negara kita yang demokratis tetapi karena anggota MUI sangat jauh dari memenuhi syarat-syarat sebagai mufti (pemberi fatwa). Yang terjadi saat ini pemerintah talah memperlakukan MUI sebagai kelompok yang sangat dimanjakan dan diposisikan jauh di atas kapasitas MUI. Bahkan Presiden Indonesia Susilo Bambang Youdoyono seakan menganggap MUI sebagai satu-satunya rujukan yang merepresentasikan Muslim Indonesia. Seakan-akan segala tindakan, ucapan atau bahkan diamnya MUI sebagai dalil yang identik dengan sunnah.

Kedua. Perilaku cuek ormas Islam terhadap MUI. MUI seringkali dianggap representasi dari Umat Islam di Indonesia karena beberapa ormas besar Islam Indonesia memasang perwakilannya untuk menjadi anggota MUI. Adanya perwakilan ormas Islam di tubuh MUI telah memberikan amunisi signifikan bagi MUI. Dengan adanya perwakilan tersebut, MUI bisa dengan mudah melakukan klaim sebagai representasi Muslim Indonesia. Padahal, dalam kenyataannya, tidak selamanya tindakan MUI adalah representasi pandangan ormas yang memasang perwakilannya di MUI. Salah satu contoh nyata adalah persolan pencekalan Nasr Hamid Abu Zayd. Departemen Agama memberikan peringatan kepada Abu Zayd untuk membatalkan presentasinya di Malang Jawa Timur karena tekanan dari kelompok Islam tertentu yang salah satunya adalah MUI daerah Riau. Tidak lama setelah itu Din Syamsuddin, Ketua Muhammadiyah, dan Masdar Farid Mas’udi, Syuriah NU, memberikan pernyataan penyesalan atas kasus tersebut, seperti dilansir The Jakarta Post, 29 November 2007. Dalam kasus ini jelas bahwa MUI tidak membawa aspirasi NU atau Muhammadiyah. Untuk itu sudah saatnya ormas-ormas Islam yang tidak sepakat dengan MUI mencabut mandatnya dan merekomendasikan kepada perwakilannya untuk keluar dari MUI. Membiarkan perwakilannya tetap duduk di MUI sama halnya membiarkan para pengikut dalam kebimbangan.

Ketiga, lemahnya penegakan hukum bagi pelaku kekerasan berbasis agama. Harus jujur diakui saat ini tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama terlalu sering terjadi di Indonesia. Mereka yang dianggap sebagai kelompok aliran sesat sering kali mendapat perlakuan kekerasan. Saya tidak hendak berkomentar tentang aliran yang dianggap sesat. Tetapi setidaknya pemerintah harus berlaku tegas terhadap setiap tindakan yang melanggar hukum. Jika mereka yang dinilai menganut aliran tertentu dan dianggap meresahkan ditindak secara hukum, maka para pelaku kekerasan yang melakukan perusakan serta teror mental atau fisik juga ditindak secara hukum. Kekerasan atas nama apapun merupakan sebuah perilaku kriminal yang harus diselesaikan secara hukum. Lemahnya penegakan hukum bagi para pelaku kekerasan berbasis agama akan memicu tindakan kekerasan berkepanjangan. Tanpa tindakan hukum yang tegas sama halnya pemerintah telah membiarkan perilaku kekerasan terjadi atau bahkan bisa dianggap melegalkannya.

Islam memang damai dan selalu membawa kedamaian. Tidak satu pun muslim yang boleh meragukan hal ini. Tetapi jika wajah muslim yang tampak di permukaan selalu wajah menakutkan maka bukan tidak mungkin citra Islam akan berubah. Karena prinsip penampilan luar adalah wujud dari realitas yang di dalam masih berlaku. Tampilan Muslim Indonesia akan memberikan gambaran keberadaan Islam Indonesia. Semoga kita menjadi muslim yang damai dan bisa mendamaikan yang lain. (Sumber: Imam Malik,indonesianmuslim.com)