Dalam sebuah pengantar acara “Pendidikan ke-NU-an”, Yahya Ma’shum –salah satu Wakil ketua PP Lakpesdam NU- membedakan istilah “Sebagai NU” dan “Menjadi NU”. “Sebagai NU”, kata Yahya, adalah warga NU yang tidak menyadari ke-Nahdliyah-annya. Dia hanya menjalani qunut, debaan, tahlilan, mitung dinaan, matang puluha, tirakatan, istigosahan, niat shalat pakai usholi, rokaat tarawehnya dua puluh, mengakui kiaian atau bahkan kewalian, dan lain-lain. Baginya tetek bengek ritual atau budaya Aswaja ala Indonesia adalah given. Dia akan menjalankan ajaran-ajaran tersebut dengan patuh meskipun tidak tahu dalil dan argunemtasinya. Inilah yang sering dinilai ketaklidan.

Satu lagi kekhasan dari warga NU yang makomnya hanya “Sebagai NU”, yaitu tak tahu hal ihwal Jam’iyah NU.

Sementara itu, “Menjadi NU” adalah proses mengidentivikasi dirinya dengan segala macam yang melekat dengan NU, baik tradisinya ataupun jam’iyahnya. Warga NU pada posisi “Menjadi NU” adalah warga yang terlibat aktif. Ia aktif mencari argumentasi kenapa ada tahlilan misalnya. Dan ia paham kenapa musti berpartisipasi menjadi aktifis IPNU atau IPPNU, GP Anshor atau Fatayat, atau LDNU, Lakpesdam, Pagar Nusa, dan seterusnya. semuanya dijalani dan dialami dengan sadar.

Terus terang, saya belum pernah mendengar ada istilah “Sebagai NU” dan “Menjadi NU”. Mungkin karena saya aktifis baru di NU, belum banyak wira-wiri dan rewuh-rewuh di NU. Saya baru dua tahunan aktif di PP Lakpesdam NU. Untung saja, pada waktu itu saya menjadi panitia Pendidikan Ke-NU-an yang dilaksanakan PP Lakpesdam NU pada bulan Nopember 2008. Bersama Ufi Ulfiah, A. Fawaid Sadzili, Lilis Nurul Husna, Khamami Zada, , MS. Wa’i , Miftahhudin Bisri, saya aktif dalam rapat-rapat, mencari peserta, bikin surat-surat, menghubungi narasumber, pesan makan, cari tempat, menyiapkan plano dan spidol, dll.

Pada waktu itu, Pendidikan Ke-NU-an yang diikuti oleh 32 mahasiswa-mahasiwi dari UIN Ciputat dan satu orang dari STAINU bertempat di kantor Forum Indonesia Satu (FIS), di jalan jeruk nomor 4, Menteng, Jakarta Pusat. Dengan fasilitator masyhur dan tua, Helmy Ali. Nasihin Hasan –Ketua PP Lakpesdam NU- datang untuk membuka dan mengisi sambutan.

Aktifis PP Lakpesdam lainnya yang datang adalah Mukhlisin dan Eko AP. Ada juga Imam Malik, anak  muda NU yang giat di Sampoerna Foundation. KH. Said Aqil Sirodj, Dr. Arif Mudatsir Mandan, sera Ahmad Baso, datang sebagai narasumber.