Abdul Chobir

Tulis-menulis adalah tradisi umat Islam yang terus berkembang dari sejak masa generasi awal (salafus shalih). Aneka ragam karya tulis menjadi bagian dari khazanah umat Islam di berbagai negeri. Tradisi ini menjadi bagian dari tradisi pesantren di Indonesia sebagai benteng dan gerbang ilmiyyah Islam. Berbagai karya tulis dari yang klasik sampai modern menjadi kajian di pesantren.

Materi kurikulum di pesantren tidak sekadar mempelajari fikih, tauhid, dan tasawuf. Ilmu bahasa merupakan salah satu kajian utama para santri. Dari mulai sejarah bahasa, tata bahasa, filsafat bahasa, sampai sastra, bisa dikatakan materi yang wajib dikuasai para santri sebelum dapat dipandang sebagai ajengan.

Sistem kajian asli pesantren adalah sistem bedah kitab. Seorang ajengan akan membahas sebuah kitab dengan memperhatikan betul kebahasaan dan tingkat sastra kitab tersebut. Setiap kata akan dimaknakan. Mengapa kata itu dipergunakan? Mengapa kalimatnya seperti itu? Apa konsekuensi kata dan kalimat itu?

Selain kitab aslinya yang dinamakan matan, dikaji pula kitab syarh dan hasyiyyah. Syarh adalah penjelasan dari kitab matan yang ditulis seakan menjadi kesatuan kitab baru. Hasyiyyah adalah penjelasan terhadap matan dan atau syarah yang ditulis dengan format komentar terhadap hal-hal tertentu dari kitab syarh atau matan.

Santri mengenal kitab taqrib dalam fikih. Kitab ini dijelaskan menjadi kitab syarh berjudul fathul qarib. Fathul qarib dikenal memiliki banyak hasyiyyah, di antaranya Al-Bajuri.

Selain tradisi matan, syarah dan hasyiyyah, berkembang pula tradisi narasi dan syair. Banyak kitab matan yang berbentuk sya’ir, dibuatkan syarah-nya berbentuk narasi. Banyak pula kitab narasi yang dibuatkan kitab baru berbentuk syair. Al-Ajurumiyyah adalah matan narasi untuk kajian tata bahasa Arab yang menjadi kajian utama santri pemula. Lepas Al-Ajurumiyyah, santri mengenal kitab Imritihi. Imrithi adalah bentuk nazhm (Sunda = nadoman) atau syair dari Al-Ajurumiyyah.

Dalam fikih, santri mengenal pula syair dan matan tersebut. Safinah sebagai matan dalam ilmu fikih yang dikaji santri pemula di-syarah-i menjadi kitab Kasyifatus saja. Selain itu, di-nazhm-kan pula menjadi kitab Inaratud Duja.

Tradisi ini tidak sekadar menjadi kajian, namun berkembang pula menjadi karya-karya baru para ajengan dan santri-santri Indonesia. Bila kita menengok madrasah-madrasah diniah di perdesaan kita akan menjumpai murid madrasah diniah mendapatkan pelajaran berbentuk nadoman (syair) dalam bahasa daerahnya. Orang Sunda dengan nadom Sunda. Orang Jawa dengan nadom Jawa. Nadoman-nadoman tersebut adalah karya para ajengan dan santri Indonesia.

Nadoman dan karya tulis tersebut tidak lepas dari nilai-nilai sastrawi. Bisa kita temukan bagaimana ajengan itu membuat syair-syair yang murwakanti (bersajak). Bahkan dapat dicermati dalam berbagai momen tablig, ceramah, dan tausiah, tradisi murwakanti menjadi bagian dari model dan gaya penyampaian para ajengan.

Latar belakang
Karya para santri dan ajengan ini berkembang dari nilai-nilai spiritual. Rasa, rumasa, dan raksa adalah tiga hal utama yang dipergunakan. Simak bagaimana kisah masyhur tentang Syeh Ibnu Malik ketika menyusun kitab Nazhm Al-Fiyyah. Saat beliau sampai pada syair yang mengungkapkan kelebihan karyanya dari karya Syeh Ibnu Mu’thi, beliau terhenti dan kehilangan inspirasi. Inspirasi itu kembali setelah beliau bertemu dalam mimpi dengan Syeh Ibnu Mu’thi, kemudian beliau menuliskan syair yang menunjukkan bahwa walaupun yang beliau susun lebih baik, namun yang lebih berhak mendapatkan pujian adalah Syeh Ibnu Mu’thi karena posisinya sebagai pendahulu. Nilai kesombongan dan tawadhu yang menjadi inti dari kisah itu.

Nilai-nilai spiritual itu kadang kala menjadi sesuatu yang kontroversial ketika memasuki wilayah tashawwuf falsafi atau tashawwuf cinta. Ungkapan sastrawi romantisme cinta Tuhan, kadang membawa simbol-simbol yang secara lahiriah seakan bertentangan dengan akal dan iman.

Umat Islam terbagi menjadi dua kelompok besar dalam menyikapinya. Kelompok pertama memandang ungkapan-ungkapan kontroversial itu sebagai kesesatan. Para penulis dan penyairnya dikatakan telah sesat, bahkan sampai dikatakan murtad.

Kelompok kedua memandang ungkapan-ungkapan kontroversial itu wajar saja sebagai bagian dari sastra yang berasal dari rasa romantisme. Sebuah ungkapan sastra romantis tidak bisa dipahami secara redaksional leterlek. Ungkapan-ungkapan seperti itu perlu penelaahan mendalam terhadap makna-makna sebenarnya yang bersembunyi di balik kata-kata.

Metamorfosis karya
Karya santri dan ajengan berkembang dan mengalami pasang dan surut. Sebuah gaya penulisan yang berkembang dan tren di satu kurun berubah pada kurun yang lain. Tema yang menjadi tren berubah pula pada setiap kurun.

Pada masa lalu, nadoman adalah karya favorit santri dan ajengan. Nadoman berkembang luas dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Nadoman-nadoman menjadi bahan ajar di madrasah. Nadoman-nadoman menjadi pembuka pengajian. Nadoman-nadoman menjadi buah tutur dan lagu rakyat.

Seiring perjalanan waktu, nadoman surut dan digantikan puisi. Tren nadoman berganti dengan tren menulis puisi. Muncullah para penyair berlatar belakang pesantren.

Tren puisi berkembang disertai dengan penulisan lagu. Anak pesantren merambah dunia tarik suara. Anak pesantren membuat grup qasidah. Anak pesantren membuat grup nasyid. Bahkan, anak pesantren membuat grup band.

Tren puisi bergeser kepada tren menulis novel. Muncullah Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Trilogi Ma’rifat Cinta, dan lain sebagainya.

Tren ini sedang bergerak lagi menjadi tren penulisan skenario. Tren ini berawal dari kesadaran anak pesantren untuk berdakwah memanfaatkan dunia entertainment. Tren ini mulai menemukan energi maju dimulai dengan sinetron bernuansa religi setiap Ramadan. Momentum menuju tren dimulai dengan suksesnya film Ayat-ayat Cinta. Metamorfosis akan terus terjadi. Tren penulisan akan selalu berubah. Mungkin Nadoman suatu saat akan kembali menemukan kejayaannya.

Prinsip bagi dunia menulis pesantren sebenarnya bukanlah bentuknya. Prinsip penulisan di dunia pesantren adalah nilai-nilai spiritual yang melatarbelakanginya. Nilai-nilai spiritual itulah yang harus dijaga agar tetap menjadi dasar dan motivasi setiap karya. Upaya mengalihkan kepada nilai-nilai materialistik harus dicegah. Santri dan ajengan memang membutuhkan alat duniawi untuk hidupnya dengan wajar. Namun, alat duniawi jangan berubah menjadi nilai prinsip yang melatarbelakangi karya yang dilakukan.

Tetaplah dengan mahabbatullah (cinta Allah). Bertahanlah dari godaan hubbudunya (cinta dunia).***



Penulis: Ketua PW Rabithah Ma’ahidil Islam Jawa Barat.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Rabu 4 Februari 2009