Oleh: Andreas Harsono

18/12/08

Saya lagi mengikuti sebuah pertemuan kecil Faith in Media di Istanbul. Isinya, diskusi soal bagaimana wartawan harus meliput agama. Diskusi dilakukan dalam tiga bahasa: Inggris, Arab dan Prancis. Senang bisa bertemu wartawan dari Kairo, Jeddah, Ankara, Sana’a, Teheran, Beirut maupun New York, Washington DC, Detroit dan Atlanta. Ada empat isu yang dibahas: Covering Your Own Religion; Covering Religious Minorities in the Muslim World; Religion as a Beat dan Covering Religion: Where to Draw the Line.

Salah satu isu yang dibahas adalah ide harian Jyllands-Posten dari Copenhagen untuk menerbitkan kartun tentang Nabi Mohammad. Kami banyak bicara soal alasan editor kebudayaan Jyllands-Posten, Flemming Rose, untuk menerbitkan kartun-kartun tersebut. Reason Online menurunkan wawancara menarik dengan Rose soal bagaimana dia banyak belajar dari para pembangkang Uni Soviet. Rose membedakan antara Solzhenitsyn dan Sakharov. Ide soal Uni Soviet inilah yang mendorong Rose untuk bikin penugasan tersebut. Ini salah satu diskusi menarik.

Mustapha Ajbaili dari Islam Online dan Khaled Hamza dari Ikhwanweb bicara soal media mereka. Mereka menunjukkan situs web mereka dalam ruang seminar.

Islam Online banyak meliput soal lemparan sepatu kepada President George W. Bush. Ada banyak gurauan soal Muntadhar al-Zaidi, reporter TV Al-Baghdadia, yang melemparkan sepatunya kepada Presiden Bush di Baghdad kemarin. Bahkan Islam Online menyebut Muntadhar al-Zaidi sebagai “pahlawan nasional” Irak.

Hamza mengatakan Ikhwanweb diadakan dalam bahasa Inggris khusus untuk menerangkan kepada dunia Barat soal Ikhwanul Muslimin. Ia lebih merupakan pembahasan dalam khasanah intelektual ketimbang khotbah atau keimanan. Ikhwanweb juga memakai Facebook, You Tube, Flicker maupun Twitter. “Argumentasi bahwa Ikhwanul Muslim memakai demokrasi untuk menghancurkan demokrasi adalah tidak benar. Kami memakai teknologi dan demokrasi untuk memperkaya kebudayaan kita.” Hamza simpati sekali.

Acara ini diadakan oleh International Center for Journalists dan disponsori Carnegie Corporation. Banyak nama-nama besar hadir dalam acara ini. Saya kagum dengan seorang wartawati Saudi Arabia. Pikirannya sangat kritis. Rambutnya ikal berombak, indah. Saya terkaget-kaget mendengar argumentasinya. Dia bilang banyak perempuan Saudi melepas abaya mereka begitu masuk pesawat terbang. Dia merasa pemakaian abaya adalah pemaksaan di Saudi. Ada juga wartawati dari Teheran. Lebih pendiam. Namun tak kalah menarik.

Ari Goldman dari Columbia Graduate School of Journalism menyebut pertemuan ini “sophisticated” dan “more nuanced” dari bermacam seminar yang pernah dihadirinya. Goldman, seorang Yahudi, mengajar liputan soal agama di Columbia. Dia menulis tiga buku: The Search for God at Harvard; Being Jewish serta Living a Year of Kaddish.

Ada juga anak muda, Matthew Streib, yang punya pengalaman meliput agama-agama di Maroko, Mesir, Lebanon, Palestina dan Jordania. Dia juga seorang pecinta alam. Dia bersepeda 10,000 mil di Amerika Serikat dan menuliskannya dalam blognya American Pilgrimage.

Anthony Shadid, wartawan Washington Post, juga hadir disini. Shadid seorang warga Amerika kelahiran Oklahoma City, keturunan Lebanon. Dia menang Pulitzer Prize pada 2004 dengan liputannya soal Irak. Yayasan Pantau sering memakai liputan Shadid untuk bahan kursus menulis. Liputan soal Islam relatif lebih terbuka di negara macam Turki atau Amerika Serikat. Namun ia sangat tertutup di Saudi Arabia atau Yaman. Shadid memberikan komentar yang lebih kelabu di Lebanon. Shadid seorang moderator.

Dua moderator lainnya, Maria M. Ebrahimji, executive editorial producer dari CNN di Atlanta, serta Amberin Zaman, koresponden mingguan The Economist di Turki. Zaman juga kolumnis untuk harian Taraf di Istanbul. Taraf terkenal membenarkan terjadi genocide terhadap orang-orang Armenia saat Perang Dunia I oleh Kesultanan Ottoman.

Debra L. Mason menyediakan macam-macam pedoman soal liputan agama. Mason adalah direktur Center on Religion and the Professions di Missouri School of Journalism serta menyunting buku Religion Reporting: A Guide to Journalism’s Best Beat, A Religion Stylebook. Mason menekankan pentingnya menjaga jarak dengan agama yang diliput maupun agama yang dia anggap dia kenal.

Berkunjung ke Istanbul, tak lengkap tanpa melihat-lihat Hagia Sophia, gereja Romawi Ortodox, yang dibangun oleh Kaisar Justitian pada 532-537. Pada 1453, ketika kaum Turki Ottoman menaklukkan Byzantine, Sultan Memed II mengubah gereja ini jadi sebuah masjid. Pada 1935, ketika Republik Turki didirikan, masjid ini diputuskan jadi sebuah museum. Saya kira pertemuan Istanbul ini membuka mata saya soal menariknya liputan agama-agama. Saya juga dikenalkan dengan macam-macam referensi untuk melihat liputan agama-agama. (www.andreasharsono.blogspot.com)