Anugerah Perkasa

SAYA BERKESEMPATAN menemui Bondan Winarno pada Sabtu pekan lalu. Peluang ini saya miliki bersama-sama dengan sekitar 20 orang peserta kelas ‘Menulis Naratif’ yang disponsori oleh Eka Ttjipta Foundation (ETF). Yayasan ini dimiliki keluarga Eka Tjipta Widjaja—pendiri kelompok bisnis Sinar Mas—dengan salah satu programnya di bidang pendidikan. Dia berdiri sejak 2006. Kelas menulis memang punya program khusus untuk menghadirkan pembicara tamu, dan Bondan adalah salah satunya.

“Saya hanya menyediakan kursi sekitar 20 orang,” ujar Bondan, sambil tertawa. “Saya tak tahu jika orangnya bertambah.”

Jumlahnya lumayan membludak. Kami mendatangi rumahnya yang terletak di kawasan Sentul City, Bogor, Jawa Barat. Awalnya, rombongan yang akan datang adalah 22 orang, namun membengkak menjadi 32. Ada tambahan sepuluh orang: delapan dari ETF dan dua dari kursus menulis angkatan pertama. Acara obrolan dimulai pada pukul 10.30 WIB, usai semuanya berkumpul di ruang depan rumah. Ada koleksi botol kecap di sana. Wine. Bar mini. Saya juga diminta mengatur jalannya diskusi. Temanya: bagaimana Bondan mengerjakan laporan investigatif soal penipuan tambang emas di Busang, Kalimantan Timur?

Tapi jangan salah, tak semua mengetahui laporan tersebut. Shanice Oen, Manajer Keuangan ETF, justru mengetahui Bondan karena membawakan program ‘Wisata Kuliner’ di televisi. Dia tak pernah tahu soal buku Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang ditulis Bondan. Dan, saya kira, Shanice tak sendiri.

image0143

Bondan kini memang lebih dikenal sebagai pembawa acara yang mencicipi satu makanan ke makanan lainnya. Berkeliling ke sejumlah tempat pula. Tapi jauh sebelum itu, tepatnya sekitar 11 tahun yang lalu, Bondan memulai liputan yang dinilai mempermalukan pemerintah Indonesia di mata internasional. Soal tambang emas yang belakangan hanyalah isapan jempol.

“Ini bermula dari skeptisme profesional ,” ujar Bondan memulai cerita. “Saya meragukan kematian Michael de Guzman.”

De Guzman adalah geolog asal Filipina. Dia dikabarkan mati bunuh diri karena terjun dari helikopter Alouette III dengan ketinggian 800 kaki di hutan Kalimantan Timur. Mayatnya ditemukan empat hari kemudian. Sebelum geger, Guzman membantu John Felderhof, geolog asal Belanda, meyakinkan seorang promotor saham asal Kanada bahwa mereka menemukan tambang emas berskala besar di Busang. Gayung itu disambut David Walsh, sang promotor. Di sinilah cerita berlanjut. Ada saham yang meroket secara spektakuler. Ada perebutan tambang melalui kekuasaan. Dan ada pula, kebodohan pemerintah Indonesia.

bersama-bondan

Bondan memakai metode deduksi dalam mengejar sumbernya di pelbagai tempat . Balikpapan. New York. Manila. Toronto. Calgary. Dari penjaga mayat di rumah sakit hingga mengamati bursa saham. Hasilnya, antara lain kematian de Guzman yang tak didukung bukti. Tak ada gigi palsu pada sang jenazah. “Ada kelemahannya,” ujarnya. “Deduksi harus dibuktikan. Ini juga bisa salah, jika mengambil dari informasi yang salah.”

Tentu, laporan Bondan tak demikian. Laporan itu justru menelanjangi betapa polosnya pemerintah Indonesia. Pemerintah, percaya bahwa ada tambang berukuran raksasa di Busang. Sigit Harjojudanto dan Siti Hardijanti Rukmana—keduanya, anak almarhum mantan Presiden Soeharto—juga terlibat dalam persiteruan siapa yang akan menguasai tambang emas itu.

bre-x

Saya kira, ini persis seperti apa yang dilakukan Walsh yang meyakinkan para investor agar menanam uangnya di saham Bre-X, perusahaan tambang asal Kanada dan figur penting dalam buku Bondan. Sahamnya meroket, karena investor percaya betapa besarnya potensi emas yang digali perusahaan tersebut. Mereka percaya Busang adalah sumber uang.

Padahal, kata Bondan, tak ada apa pun yang bernilai ekonomis di sana.

Saya mempersilakan forum untuk bertanya, dengan menginterupsi. Rupanya, peserta diskusi asyik mendengarkan lebih dulu dan mengangkat tangannya setelah Bondan menyudahi cerita. Ini bikin saya agak kerepotan. Menunjuk siapa yang bertanya dahulu dan belakangan. Pertanyaannya beragam. Mulai dari berapa lama mengerjakan laporan, biaya liputan, bagaimana menembus narasumber, materi penulisan, kesalahan terbesar yang dilakukan hingga soal yang lebih personal: bagaimanana dukungan keluarga. Bondan menjawabnya satu per satu.

Cerita soal Bre-X memang belum selesai. De Guzman diduga masih berkeliaran. Namun, Bondan menginginkan orang lain yang meneruskan sekuel itu. “Ada petunjuk dia di Brasil. Anda juga harus menemui istrinya Genie de Guzman,” katanya.

image0167

Dia mengaku sudah patah semangat. Laporan Bre-X setidaknya membuatnya kerepotan di pengadilan gara-gara tuduhan pencemaran nama baik Ida Bagus Sudjana, mantan menteri pertambangan dan energi periode 1993-1998. Bondan merasa sendirian. Tak ada dukungan organisasi media soal ini.

Tetapi, dia mengungkapkan tak pernah menyesali apa yang sudah dikerjakannya.

Saya mencatat kerendahhatiannya. Bondan bilang jangan pernah menyepelekan orang lain. Saya kira sikap ini tak hanya dilakukannya saat menembus narasumber, tapi saat menjamu pertanyaan-pertanyaan kami. Jam menunjukkan pukul 12.25 WIB, saatnya diskusi disudahi. Tepuk tangan pun bergemuruh. **Reporter harian Bisnis Indonesia, membantu pelatihan kelas ‘ Menulis Naratif’angkatan II untuk Eka Tjipta Foundation.

image0163