PELATIHAN jurnalistik kedua, sekitar tahun 1998-1999, aku ikuti lagi ketika kelas dua. Pelatihan yang kedua ini masih banyak yang kuingat. Materi yang diberikan pada pelatihan ini sama persis dengan pelatihan sewaktu aku kelas satu. Tapi, aku sama sekali tidak merasa mengulang, apalagi bosan. Aku menikmatinya. Dan cukup mengasyikkan, karena kami melakukan simulasi menerbitkan tulisan dalam bentuk majalah dinding. Yang mengesankan dan menyenangkan adalah, kelompok mading kami menjadi kelompok terbaik. Tiga tulisan yang menjadi tulisan terbaik dalam kelompok kami adalah sebuah resensi buku berkepala “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam Lintasan Sejarah” karya KH. Said Aqil Sirodj. Peresensinya adalah seorang santri MAK kelas dua asal Cirebon: Hamzah.

Diresensi inilah, kali pertama aku menulis adigium Al-muhafadzotu ‘alal qodimis sholih, wal akhdzu bil jadidil aslah. Yang setahun kemudian, pada kesempatan diskusi di asrama KSC (Keluarga santri Cirebon), pengetahuanku tentang adigium ini diobrak-abrik sama M. Jadul Maula.


“Karea kaidah ini, ruang pikir dan gerak kita jadi sempit. Bagaimana tidak, para sesupuh kita sudah mendefinisikan mana yang baik, mana yang unggul, dan lain-lain. Misalkan, ketika kita melihat Imam an-Nawawi berbeda pendapat dengan Imam ar-Rofi’i, kita sudah diarahkan untuk $memilih an-Nawawi Kurang. Sebetulnya kaidah ini akan menjadi berkualitas jika diikuti dengan kebebasan kita memilih dan mendefinisikan mana yang baik dan yang tidak, menurut kita, dan menurut konteks di lapangan,” begitu kurang lebih M. Jadul Maula berpendapat.

Yang lebih asyik lagi adalah, para pelatih kami waktu itu sangat guyub dan penuh kelakar. Aku masih banyak mengingat nama-nama mereka yang didatangkan dari LPM IAIN Sukijo: Arena.

Ada Ikhwan. Dia sangat berkesan di mata kami. Beberapa hari setelah pelatiahan, kami masih membicarakannya. Dia berpenampilan khas, bersorjan lengkap dengan blangkonnya. Kami memanggil Ikhwan dengan “ Mas Samas”, nama salah satu pantai di Bantul. Kenapa demikian?

Karena dia bercerita kepada kami secara vulgar tentang pengalamannya meliput para PSK yang mangkal di pantai Samas. Yang khas lagi dari dia adalah tidak bisa melafadkan huruf “R” dengan fasih.

“Aku belajal menulis di Alena sudah hampil dua peliode. Setelah dua tahun jadi lepoltel, sekalang aku jadi ledaktul,” begitu Ikhawan memperkenalkan diri kepada kami. Dan aku sangat ingat, ketika kantor Arena diserang pemuda-pemuda berseragam Arab, Ikhwan adalah salah seorang yang dikejar-kejar. Peristiwa itu terjadi hari Jumat, persis ketika khotbah Jumat sedang berlangsung di masjid IAIN, saat aku menjalani Ospek, tahun 2000.

Kru Arena lainnya ada Ismah KAZE (sekarang jadi sesepuh di Mate Pena, LKiS Pelangi Aksara), Ismahfudi, Sunu BP, Gareng, dan Faqih. Yang lain aku lupa.

Pelatihan kedua ini menginspirasiku untuk terus latihan menulis. Dan aku mulai berani mengirimkan tulisan ke An-Nasyath, nama mading sekolah kami. Buku Quraisy Shibah (yang Wawasan Al-Qur’an atau Membumikan Al-Qur’an ya? Aku lupa), Emha Ainun Najib (Anggukan Ritmis Sang Kiai), esai-esai Ahmad yang Tohari bercerita orang kampung atau amatan-amatan Alwi Shahab tentang Betawi di Republika selalu menjadi bahan bacaan, rujukan, kutipan, dan jiplakan aku menulis. Sebagian besar rulisan-tulisanku ada di buku pelajaran, hanya beberapa saja yang dimuat di mading.

Tulisanku di mading yang masih segar dalam kepala adalah tulisan berjudul “Hukum Halal Bi Halal”. Tulisan ini menghamparkan kontroversi tradisi halal bi halal di Indonesia. Ada yang bilang mubah, sunnah, dan bid’ah, semuanya aku kutip. Suaraku dalam tulisan itu mengikuti pendapat Quraisy Shihab. Ia bukan hanya membolehkan tradisi halal bi halal, tapi jug menganjurkannya karena di dalam tradisi tersebut banyak sekali manfaatnya. Halal bi halal termasuk Sunnah Hasanah.

Selain menulis, sejak itulah, aku menjadi redaktur fiksi di majalah Khoum, setelah Khoum dikomandoi Azizan Ftirana. Sejak itu pula, aku rajin memcaba cerpen dan puisi yang diterbitkan di koran, entah itu Kompas, Bernas, Jawa Pos, KR, dan Republika. Jika ada tulisan yang kukagumi, aku pasti mengklipingnya.

Sukoharjo, 3-3-09

Khoum zaman Azizan, ketika itu ketua OSIS-nya dipegang Firdaus, tidak berhasil diterbitkan. Bukan tak ada naskah. Tapi karena krisis moneter menerpa Indonesia. Aku tahu betapa Azizan sangat gelisah. “Masa Khoum yang hanya terbit sekali setahun tidak bisa dia terbitkan?” begitu Azizan bilang kepadaku.

Segala lobby dan pendekatan kepada pihak sekolah, yang mengeluarkan ongkos terbit, gagal. Aku ingat, setelah mentok ke sana ke mari, Azizan melobi Pak Hamam Hadi, menantu KH. Ali Makshum . Aku diajak azizan untuk sowan ke dia. Usaha ini pun gagal.

“Kamu tidak usah bersedih hati dan merasa gagal menjadi pimpinan majalah. Yang bangkrut saat krisis ini bukan hanya Khoum. Ratusan perusahaan besar di Asia tenggara ini juga gulung tikar. Mudah-mudahan tahun depan krisis bisa diatasi atau paling tidak kita siap menghadapinya. Dan Khoum akan terbit kembali,” begitu nasihat Pak Hamam kepada kami.

Tebet, 5-3-09

BERSAMBUNG