Tulisan ini didedikasikan untuk:

+SMN Losari I +MA Ali Mashum  +Mading

+Majalah Khourul Ummah +Pondok Pesantren Krapyak +Buletin KSC  +Pondok Pesantren Nurul Ummah

+Zainal Arifin Thoha (almarhum)     +LKiS

+Buletin Jumat Al-Ikhtilaf   +Jurnal Asy-Syir’ah +Pustaka Pesantren +PP Lakpesdam NU

+Jurnal Tashwirul Afkar   +Eka Tjipta Foundation

+Dll.

Siang hari tadi, Sabtu 28 Februari 2009, adalah pertemuan kedua untuk kursus jurnalistik narasi. Saya datang ke lokasi tepat pukul 9.15, empat puluh lima menit sebelum kelas dimulai.

Saya sengaja datang lebih awal, menghindari hujan yang tampaknya akan turun lagi. Ketika berangkat pun sebenarnya sudah gerimis lagi. Titik-titik air menempel di kaca helm. Berkali-kali sapu tangan yang baru dicuci terpaksa kupakai untuk mengelapnya. Untunglah, aku sudah sampai sebelum hujan datang. Sejak semalam Jakarta memang diguyur hujan. Dan kayaknya, baru reda subuh tadi. Saat aku keluar untuk beli intel (indomie telor) di warung Burjo sebelah pukul 6.30, jalan masih basah.

Sesampai di lobby Wisma BII –tempat kursus dilaksanakan, aku tidak langsung meluncur ke ruang kursus di lantai 39. Aku berdiri di depan pagar lobby yang melingkar. Aku melihat orang lalu-lalang, melirik para satpam yang sigap memeriksa tas-tas pengunjung gedung, menatap ke bawah, ke lingkaran kolan yang kering.


Oh, di lobby, aku juga menyaksikan para teknisi yang sedang memasang tiga lampu dekorasi yang sangat besar. Mereka tampak seperti sedang bermain sirkus. Dua berdiri di atas tangga baja berbentuk kotak yang tingginya tak kurang dari tiga belas meter. Tak lama kemudian, tangga ditarik enam orang yang ada di bawah. Arah mereka mengikuti teriakan seorang yang mengenakan batik lengan panjang, yang berdiri agak jauh dari tangga. Pergeseran tangga tersebut mengeluarkan kernyitan yang linu di telinga.

***

Aku meluncur ke lantai 39, lantai pemungkas Wisma BII yang berarsitek modern.

Weeh! Kok ruangannya digembok? Ruangan di depannya yang lebih besar terbuka. Tapi aku tak menjumpai siapa-siapa, kecuali beberapa orang berseragam cokelat-cokelat.

Kagak tau, Mas,” jawab laki-laki jangkung menjawab pertanyaanku, sambil memutar-mutar mesin di lantai karpet.

Aku baru inget, tempat kursus dipindah. Tapi ada di mana? Uh, sialan! lali tenan Aku!

Aku turun di ke lantai 33, menuju kantor Eka Tjipta Foundation (ETF), yayasan yang menyelenggarakan kursus ini. Siapa tahu di sana ada panitia. Lebih sial! “Di sana gelap, Bro.

Lalu aku SMS Bung Wai, teman PP Lakpesdam NU yang menjadi salah satu peserta resmi kursus ini. Dialah yang menyarankan aku mengikuti kursus ini, meskipun aku tidak mendaftar. Aku antusias menjalankan sarannya. Karena di samping tiap Sabtu aku lebih banyak “melamun”, aku juga sangat berminat dengan bidang ini. Aku punya sejarah di dunia jurnalistik.

image00721

Izinkan aku menceritakannya.

Sewaktu aku duduk di bangku SMP (1992-1995), bersama 7 siwa dan 2 siswi aku mengelola Mading. Ketika itu, aku hanya terlibat dalam sekali terbitan saja. Di media pertama itu, aku menulis satu artikel saja. Itu pun rasanya berat banget. Waktu itu aku meresensi buku almarhum Umar Kayam. Mangan Ora Mangan Kumpul, begitu judul bukunya. Buku ini tebal, tapi aku menyukainya karena buku ini berisi esai-esai pendek. Mudah dipahami, bisa dibaca dari mana saja, dan kocak. Tapi, kalau saja kumpulan tulisan Gus Dur yang berisi catatan-catan pendek tentang kiai-kiai itu sudah terbit, lalu sampai di perpustakaan sekolah, pasti aku akan memilih buku itu untuk diresensi. Sayang, buku itu baru terbit tahun 1999 (?) dengan kepala Kiai Nyentrik membela Pemerintah. Selian itu, pengalamanku menulis di SMP hanya ketika mengerjakan pelajaran Bahasa Indonesia, dan ketika ujian pelajaran tersebut. Tidak lebih.

Tebet, 28 feb 09

Tahun 1996 aku berangkat mondok ke Krapyak Jogjakarta. Di sinilah aku mengenal dunia jurnalistik secara formal, lewat pelatihan jurnalistik dasar sewaktu kelas 1. Di pelatihan itulah aku kenal rumus 5W+1H, di sanalah aku dikenalkan apa tugas pemimpin umum dan pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, di sanalah aku dikenalkan bagaimana menentukan sebuah tema dalam majalah, di sanalah aku mengenal karya fiksi dan karya nonfiksi, di sanalah dikenalkan karakter-karakter koran, dan seterusnya, dan seterusnya.

Yang menggelar pelatihan majalah milik OSIS Madrasah Aliyah Ali Makshum, Khoirul Ummah namanya. Kami menyebutnya dengan singkatan Khoum. Aku tak tahu masih eksiskah ia. Pelatihan ini diselenggarakan dalam rangka kaderisasi majalah yang terbit secara berkala: kolo-kolo terbit, kolo-kolo ora.

Aku lupa-lupa ingat siapa saja teman pelatihanku waktu itu. Yang kuingat dengan jelas adalah Mustajab dan Evi Atikoh. Keduanya teman sejurusan, sama-sama MAK. Dua puluhan peserta lainnya hilang semua dari ingatanku. Maklum, sudah 12 tahun yang lampau.

Oh sekarang, aku ingat panitianya. Ismail dan Hanifah. Ya, keduanya masih aku ingat. Ismali adalah anak IPA yang rajin berjamaah dan tahajud. Dia santri asal Jakarta. Aku inget karena pernah sekamar dengannya. Setelah lulus, aku tidak pernah berjumpa lagi.

Aku inget lagi, periode ini ketua OSIS-nya Faisol Adib. Kami memanggilnya Icong. Sekarang dia melanjutkan kuliah di negara yang punya sejarah panjang mencampuri negara orang, bahkan perang: Amerika Serikat.

Icong itu santri Krapyak yang paling sering pulang. Sehari dia bisa pulang tiga kali. Tapi, jarang sekali dia bawa jajanan untuk teman-temannya. Bukan apa-apa, karena rumahnya di belakang Kiai Atabik yang jaraknya tak ada sa`plintengan. Dan karena makanan di rumahnya jadi jualan, sehingga kalau dibawa ke pondok, bisa bangkrut. “Begitu kan, Cong?”

Hanifah anak kelas tiga IPA juga. Selepas lulus, aku masih sering menjumpainya. Kebetulan kami sama-sama melanjutkan di IAIN Sukijo. Kadang kami ketemu di lorong-lorang kampus, perpus, kopma, dan lain-lain. Pernah juga kami ketemu di LIP (lembaga Indonesia Prancis), kami sama-sama nonton teater. Dia sekarang aktif di LKiS Yogyakarta, tempat aku dulu bermain, bermain, berteman, belajar, dan akhirnya menjadi tempat aku bekerja lebih dari tiga tahun.

Weeeh, ingat Ipeh, begitu Hanifah dipanggil, aku jadi ingat punya kakak kelas bernama Iyas. Aku tak tahu nama lengkapnya siapa. Tapi aku masih ingat, dia adalah aktor Teater Kopyah –nama teater kami di MA- yang ciamik di panggung. Aku juga jadi inget Steven, aktifis teater Kopyah yang sering jadi sutradara. Santri bernama Steven? Aku juga tak yakin itu nama aslinya.

Kenapa aku inget teater kopyah? Karena sebelum aku ikut ekskul –istilah ini dulu tak dikenal. Kami dulu menyebut kegiatan di luar pelajaran dengan lengkap: ekstra kokulikuler. Tidak disingkat seperti sekarang-, aku terlebih dahulu ikut teater. Tapi seorang guru menyarankan aku untuk keluar. Awalnya karena guru tadi memergoki aku latihan akting dengan berteriak-teriak di depan kantor dan baca puisi.

Koe ndak perlu melu teater. Ndak ilang muru’ahmu!”

Begitu kata guruku. Dan aku akhirnya keluar dari Teater Kopyah dengan tidak pernah berangkat latihan lagi.

Tebet, 2-3 maret 09

BERSAMBUNG