Tepat pukul 5 subuh aku bangun. Bangun bukan karena kesadaranku harus Subuhan. Tapi karena di telepon Front Office (FO) hotel Agas di Solo. Sebelum tidur, aku memang pesan kepada FO untuk dibangunkan agar tidak kebablasan tidur. Aku tidak ingin ketinggalan pesawat yang ketiga kalinya.

Aku langsung ke kamar mandi, mengambil air wudhu, lalu Subuhan. TV kuhidupkan. Dan sambil tiduran aku juga membuka email.

Email yang teratas adalah email Marzuki Wahid (Cirebon). Email bersubjekRe: Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” itu begini bunyinya:


Allahul baqy wahdah… Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’un… Ghafarallahu dzunubahu wa rahimahu wa ja’alal jannata matswahu. Satu lagi, panji Islam telah diturunkan Allah SWT. Beginilah cara Allah memperingatkan umat agar senantiasa sadar kaderisasi dan regenerasi. Kia Muhit adalah panji Islam yang berkibar-kibar di dalam sanubari masyarakat bawah, bukan panji yang diderek setiap hari senin atau hari besar nasional di depan kantor pemerintahan dan gedung mewah oleh pasukan paskibra, juga bukan diderek oleh orang-orang munafik dan penuh dengan pamrih, ntah pamrih kehormatan, rupiah, kekuasaan, atau jabatan-jabatan di organisasi masyarakat.

Kita semua kehilangan.. … Mari kita rancang, bangun, dan lakukan proses kaderisasi yang terencana, rapih, sejati, dan sungguh-sungguh untuk menjadi penyanggah dan tunas dari sesepuh kita yang mukhlishin itu.

Salam,

Marzuki Wahid

Email di atas ada di milis “Santri Cerbon”. Setelah membacanya, aku langsung menutup email. Dan memejamkan mata sambil berkirim fatihah kepada Kiai Muchit. Lalu kepalaku sibuk memutar memori.

“Ya Allah, azamku untuk sowan dan mendengarkan dunia pesantren dan NU, tidak kesampaian. Ia tidak sabar bertemu dengan Yang Maha Pencipta. Muncul kenanganku foto bersamanya di PBNU Januari 2008, setelah acara dialog antargenerasi dalam rangka harlah NU ke-83. Muncul Kiai Nyentrik Membela Pemerintah, tulisan Gus Dur tentang Kiai Muchit. Dan mendadak tersenyum ketika terkenang membaca humor tentang Kiai Muchit yang ketinggalan kereta, yang ditulis Akhmad Fikri AF.”

Lahul fatihah….

Sambil menungu Ufi yang sedang berkemas-kemas untuk chek out, aku meneruskan kabar meninggalnya Kiai Muchit ke sembilan nama. Aku gak perlu banyak-banyak sms, aku pikir berita lelayu ini sudah menyebar ke pelosok “negeri NU”, karena kiai Muchit adalah “sejarah NU”.

“Tengah malam tadi, Kiai Muchit Muzadi Jember telah kembali kpd yg Hak,” begitu SMS yang aku kirim ke Muiz (Cirebon), Kang Hudi (Cirebon), Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya), Ahmad Tohari (Banyumas), Yahya Ma’shum (Bekasi), Qotrun Nada (Jakarta), Imam Malik (jakarta), Andreas Harsono (Jakarta), Alek Komang (Jakarta), Sofi (Grobogan).

Yahya Ma’shum langsung merespon, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Smg amal2nya ditrima+diampuni atas kesalahannya. Siapa yg ta’zia wakil dr PP Lakpesdam?

“Belum tau, Pak. Aku msh di Solo. Ini br siap2 ke bandara,” jawabku.

Setelah Pak Yahya, tak ada lagi SMS yang masuk. HP kumatikan karena mau take off.

“Inalillahi wa inna ilaihi rajiun,” begitu SMS Kang Acep Zamzam Noor, tak lama setelah aku tiba di Cengkareng.

Sewaktu di toliet bandara, Pak Wazir (Malang) meneleponku,

“Di mana kamu?”

“Aku baru sampai di Cengkareng, Pak.”

“Dari mana atau mau ke mana?”

“Mau pulang. Dari Solo.”

“Zah, dari mana kamu dapat info Mbah Muchit meninggal?”

“Dari milist Santri Cerbon, Pak.”

“Wah, bohong itu. Gimana kamu menyiarkan berita yang belum dicek. Mbah Muchit sekarang dalam perjalanan dari Jember ke Malang.”

Waduh! Brabe ini! Aku betul-betul bingun. Aku langsung meralat SMS tadi ke orang yang menerima berita itu.

Guru2, sodar2, tmn2 yg trhormat semua.td subuh sy milist santri cerbon isinya almukarom kiai muchit meninggal dunia. Tnp kroscek,aku menyebarkan kbr itu ke 9 nama. Aku ditlpn pak wazir dr malang,”dr mana kamu dpt brt itu?” Astagfirullah, mgkn sy salah bc atau sy msh tidur ktk bc. Maaf.Ampun Kiai Muchit.Ampun penerima kbr. =hamzah al-jahily=

Aku menyusulkan SMS yang lain:

“Stlh aku bc lg emailnya.ternyata yg meninggal mmg Kiai Muhit, tp bkn Kiai Muchit Jember,melainkan Kiai Muhit Ciwaringin,Cirebon… Kiai Muchit Jember yg umurnya hampir 90 th, sdg silaturahim ke anak cucunya di Malang..”

Kang Acep membalas, “Wah aku dah sebar ke rekan2 Nu di 3 provinsi. Aku malas meralatnya. Gimana nih? Hahahaha…..”

“G usah diralat. Dibikin puisi yg kocak saja..hehehe..” jawabku.

“Hahahaha, untg blm smpt mengucap innalillah,” SMS Qotrun Nada.

Pak Wazir juga respon, “hehehe… Cinta yo cinta tp jangan mbabi. Merem tanda ngantuk…”

Novelis senior memaklumi dan juga berdoa, “Ya,semoga jadi doa yang makbul bagi kedua kyai Mukhit. Amin. AT.”

“Ya, itu tnd sangat care kpd kyai. Smg jd pertanda kyai panjang umur,” kata Yahya Ma’shum

Pak Wazir kembali SMS. Kali ini dia meneruskan SMS Kiai Muchit:

“Alhmdllh.sy sdg dlm prjlnn Jbr-Mlng. Insya Allah bsk trs Tu bn. Doakn panjang umr bnyk amal.”

Sesampai dikantor aku langsung telepon Kiai Muchit dan meminta samudra ampunan.

“Mboten nopo-nopo,” jawab Kiai Muchit dengan pelan.[]