Jumat, 13 Februari 2009 05:02

Jakarta, NU Online
Kontroversi film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) merupakan peringatan para sineas di Tanah Air agar berhati-hati jika film yang dibuat berkaitan dengan masalah antropologi atau sosiologi. Jika tidak, maka yang terjadi justru tidak sesuai dengan kenyataan.

Demikian dikatakan Hamzah Sahal, Asisten Manajer Kajian Agama dan Kebudayaan pada Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) dalam perbincangan dengan NU Online di Jakarta, Kamis (12/2).

”Saya berpesan kepada para filmmaker supaya hati-hati, terutama jika pengin menyentuh masalah-masalah serius tentang antropologi, sosiologi dan lain-lain. Harus jeli betul. Dalam PBS, menulis Arab: ’Al-Huda’ saja, Hanung masih salah, kok. Gimana mau bercerita Islam dan pesantren?” ujar Hamzah.

Hal demikian, menurut Hamzah, tidak dilakukan sang Sutradara, Hanung Bramantyo. Sebab, Hanung tidak berhati-hati saat mengadopsi novel berjudul serupa ke dalam film PBS. Akibatnya, film garapannya dianggap tidak sesuai kenyataan.

”Terlepas dari setuju atau tidak, Hanung berhak bilang bahwa fakta pesantren memang demikian. Tapi, boleh kan jika orang bertanya, dari mana data itu? Apa tujuannya, mengungkapkan data? Kritik membangunkah?” gugatnya.

Namun demikian, ia mengaku tidak setuju jika film tersebut ditarik dari peredaran. ”Tak setuju saya bila film itu ditarik. Biar sejarah yang membuktikan mutu film itu,” pungkasnya. (rif)