11th Dec, 2008 | Oleh: Deni Andriana | Rubrik: Berita

Karawang (KarIn) – Tari jaipong yang disebut-sebut sebagai pangkal dari munculnya istilah goyang Karawang, ternyata perkembangannya di Karawang sendiri kini sangat memprihatiankan, ditengah desakan kesenian modern yang dari hari ke hari lebih diminati khususnya oleh para remaja. Hal ini, bisa dilihat dari semakin minimnya acara atau pagelaran jaipongan terutama dalam acara-acara hajatan yang kalah pamor dibandingkan organ tunggal, dangdut dan kesenian modern lainnya.

Berangkat dari keprihatinan terhadap semakin pudarnya kesenian yang ada di Kararawang, khususnya jaipongan ini, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lodaya bekerjasama dengan Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik Dept. Dalam Negeri, pada rabu (10/12) kemarin menggelar sebuah hajatan di GSG (Gor) Panathayudha, bertajuk Lomba Tari Jaipongan Kabupaten Karawang.

Diikuti sekitar 40 peserta yang berusia rata-rata berusia 14 tahun (remaja), acara ini menjadi sebuah ajang pembuktian,  bahwa jaipongan belum punah di Karawang, karena masih ada penggemarnya, dan yang terpenting lagi adalah masih ada pihak yang peduli untuk melestarikannya. Setidaknya, keikutsertaan 40 orang remaja putri yang berasal dari Karawang dan juga beberapa diantaranya juga berasal dari daerah lain, seperti Purwakarta, Bogor, Jakarta dan sekitarnya ini menjadi sebuah bukti.

“Kalau kita tidak benahi, tidak dipelihara dan tidak dilestarikan, mungkin suatu saat jaipongan hanya menjadi catatan sejarah saja. Karena, memang selama ini pelaku-pelaku seni di daerah ini kurang mendapat tempat, peminatnya jarang. Selain itu, masyarakat pun lebih menyukai kesenian modern dibanding kesenian daerah,”  ujar Nace Permana, Ketua LSM Lodaya sekaligus ketua pelaksana acara, menjelaskan maksud diadakannya pagelaran ini.

Nace berharap, lomba jaipongan ini dapat ikut membantu dalam mengembalikan kecintaan masyarakat terhadap seni budaya yang ada di daerahnya, khususnya jaipongan. Dengan harapan itulah, kemudian Ia dan panitia acara ini menggelar perlombaan ini di lokasi terbuka di Halaman GOR panathayuda, dari pagi hingga malam hari.

“Kami sengaja tidak mengadakan di dalam gedung, supaya kesannya tidak eksklusif, sehingga masyarakat dapat menonton dengan bebas,” terang Nace yang juga mengatakan bahwa para peserta lomba ini tidak dipungut biaya.

Selain merupakan reaksi postif terhadap semakin pudarnya kesenian jaipongan, acara ini juga dimaksudkan untuk memperingati hari sumpah pemuda dan HUT Karawang ke 375, yang walaupun sudah lewat namun semangatnya tentunya akan terus ada, dan terbukti diterjemahkan dari ditentukannnya bahwa peserta lomba adalah yang berusia maksimal 25 tahun, yang dimaksudkan juga sebagai ajang regenerasi dari para seniman yang sudah senior.

Menanggapi adanya konotasi negatif yang melekat pada tari jaipong dan goyang Karawang, Nace mengakui bahwa hal itu memang benar adanya, namun setidaknya Ia dan rekan-rekannya di LSM dan juga Dewan Kesenian Karawang, berharap bahwa lambat laun anggapan itu akan pudar, dan dengan adanya langkah nyata dalam melestarikannya akan mengembalikan citra goyang Karawang dalam arti yang positif.

“Kami disini ingin membuktikan bahwa goyang Karawang bukan hanya dengan geolnya saja, bukan dengan giteknya saja, tapi ada sebuah unsur seni yang sangat luar biasa. Dan mungkin kalau konotasi itu kita rubah, goyang karawang ini adalah goyangnya para pejuang di Karawang sehingga bisa menggoyang Indonesia, itulah inti sebenarnya goyang Karawang,” harap Nace.

Gairah Peserta

Para peserta lomba, tampil secara bergiliran, masing-masing menunjukan kebolehannya dalam tari jaipong dalam satu lagu atau kawih yang dinyanyikan dan diringi para seniman Karawang diatas panggung, dihadapan para juri yang juga seniman dan budayawan Karawang. Adapun yang dinilai dalam lomba ini diantaranya adalah pada unsur wiraga (gerakan), wirasa (penghayatan), wirahma (kesesuaian) dan harmoni.

Menurut keterangan panitia, rata-rata para peserta adalah mereka yang mengikuti sanggar kesenian di daerahnya masih-masing. Namun, selain itu banyak juga beberapa diantaranya yang otodidak dan hanya bermodalkan keaktifannya pada kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya masing-masing.

Salah satu peserta yang tidak berasal dari sanggar adalah Bella Dawanti (13). Bella, yang sekolah  di SMP 1 Cikampek, menuturkan bahwa Ia sangat berantusias terhadap lomba ini. Gadis manis yang didampingi ibunya ini, merasa bangga karena dapat ikut andil dalam melestarikan kesenian yang sudah mengakar di Karawang ini. Walaupun bukan berasal dari keluarga seniman dan tidak mengikuti sanggar secara khusus, cewek yang pernah menjadi juara 2 dalam lomba jaipongan tingkat SMP di Karawang ini, juga sering mengikuti lomba-lomba serupa bahkan sejak kelas 6 SD.

Berbeda dengan Bella, peserta lainnya seperti tiga orang peserta dari Purwakata, Herlin Septiani (12), Anissa Zikri (13) dan Linda Sukmawati (12), mengungkapkan bahwa mereka bertiga adalah tergabung dalam sanggar seni di Purwakarta. Ketiga gadis belia yang masih duduk dibangku SMP ini juga sangat berantusias untuk ikut melestarikan kesenian jaipongan.

“Kan jarang anak-anak seumuran saya, nari tarian kayak gini, kebanyakan kan modern, jadi bagus buat ngamumule budaya Sunda,” ujar Herlin dengan senyumnya yang manis.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa remaja seumur Bella, Herlin dan para peserta lainnya, saat ini lebih tertarik kepada kesenian modern. Faktor lingkungan, keluarga, gengsi karena tidak mau disebut ketinggalan jaman dan alasan lainnya menjadi penyebab semakin sedikitnya peminat tari Jaipong, baik yang serius maupun untuk sekedar menyalurkan hobi.

Yeyet, warga Karawang yang mendampingi dua orang putrinya, Dea (20) dan Ayunda (12) yang mengikuti lomba ini, menuturkan bahwa dengan adanya lomba tari jaipongan ini, akan memberikan dampak positif khususnya dalam membangunkan warga Karawang yang sudah banyak melupakan kesenian khas daerahnya sendiri.

“Saya lihat di Karawang ini, jarang anak-anak yang mau jaipongan atau seni Sunda. Kebanyakan kan misalnya dance, band. Walaupun itu disesuaikan dengan kita, tapi itu kan tetap produk luar. Tapi kalau jaipongan itu kan asli dari Karawang juga (sunda). Tapi kalau orang Karawangnya sendiri tidak mau memajukan ya itu jadi masalahnya,” ujar Ibu tiga anak ini.

Walaupun bukan dari turunan keluarga seniman, Yeyet sendiri sudah mencoba mengenalkan jaipongan kepada kedua putrinya itu sejak kecil, dan juga memasukan keduanya untuk berlatih disalah satu sanggar tari yang ada di Karawang.

Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau bukan orang Karawangnya sendiri, lalu siapa yang harus diandalkan untuk melestarikan kesenian tradisional ini. Seperti itulah mungkin yang ingin diungkapkan panitia, peserta dan para orang tua peserta acara lomba jaipongan ini.

Secara keseluruhan acara ini berlangsung secara meriah, baik dari sisi kemasan acara maupun penonton yang hadir, walaupun cuaca mendung menyelimuti Karawang dihari tersebut.

Lomba ini berakhir pada malam harinya, dengan menempatkan Dewi Suryani (Bogor) sebagai juara I, Citra Nuraeni (Karawang) Juara I  dan Herlin Septiani (Purwakarta) sebagai juara III. Masing-masing, mereka mendapatkan piala dan uang pembinaan sebesar 2,5 juta, 2 juta dan 1,5 juta rupiah. Disamping itu, dipilih juga tiga orang juara harapan, yang diraih oleh Mutia Haslinda (Harapan I), Nia Kurnia (Harapan II) dan Deti Kurnia (Harapan III), yang masing-masing mendapatkan uang pembinaan sebesar 500 ribu rupiah.

Selain lomba, dalam acara ini juga diberikan penghargaan dan plakat kepada sekitar 12 orang seniman Karawang yang sudah dianggap sebagai maestro, yang dianggao berjasa dalam mengembangkan dan mengangkat seni budaya Karawang, tiga diantaranya dalah Dalang Cecep Supriadi, Nini Ijem dan Suanda. Ketiganya adalah seniman yang sudah melanglang buana bukan hanya di dalam negeri, bahkan juga ke manca negara.

Tentunya, melalui ajang seperti ini, diharapkan lahirnya seniman dan seniwati Karawang selanjutnya sebagai penerus eranya Dalang Cecep dkk. Munculnya generasi yang tidak hanya pintar dan mahir berjaipong, tapi juga seperti diungkapkan Nace sebelumnya, bisa menggoyang Karawang dan juga Indonesia dengan hal-hal yang positif, lewat prestasi tentunya. (Deni Andriana)