Di zaman yang makin modern ini, persoalan dakwah kembali ke mendapat perhatian serius di kalangan ulama. Dalam agama Islam, dakwah memang menjadi perhatian utama. Bila tidak tepat dalam berdakwah, Islam adalah taruhannya.

Demikian disampaikan oleh KH. Abdul Manan, Wakil Ketua Tanfidziah PC NU Jakarta Timur, narasumber dalam acara diskusi bertajuk ’Aswaja di Zaman Modern’ dalam acara Penguatan Kader Muslimat di Cipayung, Jakarta Timur (24/1). ”Dakwah yang paling tepat adalah metode dakwah yang sudah dijalankan oleh para sunan atau para wali dulu,” kata alumni PP Kempek Ciwaringin Cirebon itu.


Kian Manan, demikian KH Abdul Manan biasa dipanggil, menjelaskan lebih lanjut bahwa kesuksesan dakwah para sunan atau wali yang ada di Indonesia karena mereka sangat memahami situasi sosiologis-antropologis, serta kebutuhan masyarakat. ”Sunan Gunung Jati misalnya, beliau tidak langsung menyodorkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Yang dilakukan beliau pertama kali adalah membangun ekonomi orang Cirebon dan sekitarnya. Misalnya Sunan Gunung Jati mengajari orang Cirebon dengan membuat batik, gerabah, rebon, dan lain-lain,” jelas Kiai Manan memberikan contoh.

”Itulah namanya kearifan lokal. Itulah yang betul-betul memanfaatkan para wali kita. Dan inilah yang diusahakan secara istiqomah oleh para ulama atau kiai NU” tegas Kiai Manan.

Sementara itu, fasilitator dari PP Lakpesdam NU, Hamzah Sahal, mengungkapkan bahwa yang dilaksanakan oleh para sunan sebetulnya tidak lepas dari metode dakwah yang tersurat dalam Al-Qur’an, yaitu metoder tadarruj, bertahap.

”Kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnai ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ’anil mungkar wa tu`minuna billah. Ayat ini menjelaskan bahwa mengajak beriman kepada Allah itu terakhir. Yang dilakukan pertama kali adalah perintah mengerjakan kebaikan (ma’ruf), lalu menjauhi yang mungkar (mungkat),” jelas Hamzah.

Hamzah menjelaskan bahwa yang dimaksud ma’ruf itu yang penguatan ekonomi, akhlak mulia, berbuat adil, dan lain-lain. Sementar mungkar itu ya berjudi, bermusuhan, merampok, dan lain-lain. [hamz, http://www.lakpesdam.or.id]