Minggu siang, pukul 13.22, pertengahan Desember 2008, saya mengirimkan SMS ke seorang teman. Ini bunyi SMS itu, “Knp sy jarang menemui cerpen yg menampilkan kostum badut, bkelakar  ato guyon2 segar dan cerdas,tp tetap tajam dlm memotret realitas hdp? Pengalamnku mbaca cerpen, sbagian besar berbaju hitam dan berkaca mata riben. Persis kostum layat.


Teman saya tadi masih menjadi santri di pesantren di Jogjakarta. Siti namanya. Ia sedang belajar menulis fiksi di ruang bebas. Sebuah novel sudah bisa diterbitkan di sebuah penerbit Jogjakarta. Saya menunggu responnya. Tiga menit, lima menit, tujuh menit, belum juga ada balasan. Saya tidak sabar menunggu. Saya tidak berpikir apakah dia sedang mengendarai sepeda motor, sedang di kamar mandi, atau sedang tidur. Saya kirim SMS lagi, isinya bukan pertanyaan kenapa belum dibalas, melainkan terusan dari SMS tadi, “Ato sprt seragam sebagian petugas keamanan, safari hitam dan kaca mata hitam yg bentuknya dmirip-miripkan dg mata burung elang.



Saya menunggu lagi. Sepuluh menit sudah berlalu. Tak kunjung ada respon. Saya tidak sabar. Saya tidak SMS dia lagi. Hari itu saya memang sedang santai, lebih tepatnya sedang iseng. Dua SMS tadi kukirim ke teman yang lain lagi: Hairus Salim. Kepadanya saya optimis sms akan dibalas, karena dia salah satu teman saya yang serius membaca dan merespon karya-karya fiksi dalam tulisan ataupun obrolan. Saya juga membaca beberapa cerpennya yang dimuat di media “lokal”.


Tapi, seperti kepada Siti, kepada Hairus Salim juga saya berkesimpulan sedang malas membalas SMS iseng. Saya agak jengkel. Tapi saya belum putus asa. Hatiku bergumam, ”Ini hari yang tepat untuk terus mengisengi teman-teman. Tapi jangan sekarang, nanti setelah makan siang saja saya lanjutkan.”


Setelah selesai makan, saya langsung cari posisi wuenak. Saya duduk di kursi, di depanku ada TV, tapi kubiarkan mati. HP sudah kugenggam. Sejurus kemudian, sent items sudah tampil. Krusor sudah di kolom To. Klik add, muncul nama pertama huruf “A”, Aan Jogja. Saya abaikan, tidak tepat SMS ini saya kirim ke dia. Saya menyisir, mencari nama yang tepat untuk iseng ngobrol persoalan “besar” dengan benda “kecil”. Di huruf “A” yang kesembilan muncul Acep Zamzam N.


“Ini dia, penyair dan pelukis ini pasti bisa diisengi. Dia kan hobinya iseng,” gumamku. Klik Select, lalu Send. Loading sebentar. SMS lanjutannya yang dikirim kedua orang sebelumnya juga saya susulkan. Alhamudilillah langsung terkirim semua. Puas saya.


Dan benar, tiga menit kemudian dia membalas. Tapi saya agak kecewa, balasannya singkat dan kesannya  seloroh. Dia cuma SMS begini, “Krn maqomnya cerpenis beda dgn penyair hehehe.. ” Saya langsung mersponnya, “Wah, jawabannya kok ky jawaban mursyid thoriqoh?” Acep menyaut, “Ya mmg, cerpenis itu msh syariat, penyair itu dekat pd makrifat. Ya pst beda…hehe..” Saya sangka dia sedang meledek. Karena itu saya timpali dengan ledekan pula, “Jawaban yg ini kaya dosen ilmu tasawuf wkt sy kuliah semester pertama di IAIN dulu…hehe…


Eh, tampaknya dia serius. Dengan singkat dan tanpa “hehehe…” dia membalas, “Iya, emang begitu.” Saya putuskan untuk menutup “persoalan cerpen” ini dengan mengirim, “Trm ksh,Kang.” Tapi saya sempat termenung-menung dengan lontaran Kang Acep, begitu saya memanggilnya. Jika pernyataan dia serius, saya menilai ini sikap jumawa seorang penyair. Kalau dia hanya seloroh, tanpa menggap enteng seloroh, wong cuma seloroh. Jangan dipikir lebih jauh. Kapan-kapan dibalas dengan seloroh juga.


Sebetulnya saya masih ingin kirim SMS serupa kepada Agus Noor dan Danarto, tapi saya tidak kenal dan belum punya nomor keduanya. Perasaan saya punya nomor Puthut EA, tapi setelah saya cari tidak ada.


Di saat saya sudah melupakan SMS-SMS di atas, SMS Hairus Salim datang. Dia bilang, “Betul, Hal. Cerpen dan novel terlalu seragam.” Tapi saya tidak membalasnya. Pikirku, buat apa diskusi lama-lama dengan orang yang punya pandangan sama, apalagi via SMS. Memang bikin kenyang, tapi tidak gayeng. Lagian dia tidak menjelaskan atau melontarkan persoalan.

***


Tulisan pendek ini ingin melontarkan beberapa persoalan berkaitan dengan penampilan cerpen kita. Tiap minggu, saya agak rutin membaca cerpen di koran-koran. Rutinitas ini kiri-kira sudah berjalan lima belas tahun. Tentu saya tidak membaca semua koran. Paling rutin, saya membaca cerpen di Kompas Minggu. Sebetulnya, koran versi online atau halaman-halaman elektronik yang mengompilasi terbitan-terbitan sastra (di) koran menungkinkan. Tapi justru karena bobot kemungkinannya yang berlebihan itulah, jadi tidak mungkin. Bagi seseorang yang maqomnya hanya pada level pembaca seperti saya, membaca satu cerpen tiap minggu secara istiqoman sudah cukup. Berbeda dengan sastrawan, guru, dosen, atau kritikus bahasa dan sastra, yang punya kepentingan lebih, musti membaca lebih banyak, dan bahkan wajib mengoleksi karya-karya sastra.


Kenapa kebanyakan cerpen berpenampilan serius? Kenapa membaca opini sosial politik-budaya-agama almarhum Mahbub Djunaidi lebih ringan ketimbang membaca karya sastra seperti cerpen? Membaca esai Mahbub tetap bisa santai dan bahkan bisa tertawa terbahak-bahak. Dengan kontennya yang serius, mestinya Mahbub berhak untuk berpenampilan formal dan bahkan galak? Begitu juga beberapa artikel Abdurahman Wahid, M. Sobary, Emha Ainun Najib, Sujiwo Tejo, Butet Kertadjasa, bahkan Sukardi Rinakit, tampak lebih nyastra dibandingkan dengan orang-orang yang memang populer sebagai “spesialis” menulis sastra, seperti Ratna Indaswari Ibrahim, Martin Alaida, Agus Noor, Puthut EA, Djenar Maesa Ayu, dan sederet cerpenis beken lainnya.


Pengalaman saya membaca cerpen-cerpen sama seperti pengalaman membaca catatan pinggir Gunawan Mohamad. Indah memang, tapi rasanya melelahkan. Untung saja Caping GM diedarkan hari senin. Bayangkan bila Caping juga beredar minggu seperti cerpen di koran-koran itu, minggu menjadi “hari berpikir”. Pertanyaan penagasnya adalah, bagaimana membuat cerpen yang “kompatibel” dengan suasana hari minggu, tapi tetap tak mengurangi makna terdalam dari karya sastra?


Kaca mata awam saya menyangka, dalam membuat karyanya, para cerpenis kita terlalu disiplin dengan teori-teori penulisan fiksi. Mereka hanya disibukkan dengan menggali metafora-metafora, berjibaku menemukan diksi yang nyastra, serta berlomba-lomba merangkainya seindah dan seajaib mungkin. Hasilnya, membaca sebuah cerpen, seperti menyaksikan penampilan “sepleton tentara baris”.


Di tengah situasi seperti itu, saya merindukan almarhum AA Navis. Dengan cerpennya yang berkepala Robohnya Surau Kami misalnya, ia bisa menunjukkan dengan baik bahwa kekocakan dan kekonyolan tidak identik dengan ketidakseriusan. Membaca Robohnya Surau Kami belajar “inti beragama” misalnya, tapi bisa sembari senyum-senyum geli dan bahkan terbak-bahak. Ini sekedar contoh saja.

Bagi saya, sastra wajib menampilkan “ketidakdisiplinan” seperti yang ditunjukkan AA Navis dalam Robohnya Surau Kami. Bukan justru sangat disiplin denganhal-hal teknik. Bagi saya lagi, keindahan metapor –salah satu unsur penting dalam sastra- menjadi “garing” bila ditampilkan di tengah-tengah model penulisan yang disiplin dengan teknik kepenulisan.


Metapora di tengah-tengah kedisiplinan yang ketat itu bukan menjadi bunga-bunga aneka rupa nan indah dan penuh makna, melainkan bak tentara berseragam perang yang dilapisi dedaunan dan mukanya dicoreng-coreng. Bukan indah, tapi malah seram.[]