Guruku sewaktu SMP, guru kesenian yang nyentrik. Dan saking nyentriknya, kadang tampak kasar. Suatu siang, ia pernah memberi kabar tentang perbedaan manusia dan anjing kepada kami, 35 siswa-siswi kelas 2.

“Anak-anakku,” kata guruku di sela-sela pelajaran meniup harmonika, “Tahukah kalian apa salah satu perbedaan kita (manusia) dengan anjing?”


Temanku yang gendut, yang duduk di belakang menjawab dengan lantang:

“Kita makan daging. Sedangkan anjing makan tulang.”

“Dua kaki manusia yang di atas namanya tangan. Sedangkan dua kaki anjing yang atas (depan) namanya tetap kaki,” jawab temanku perempuan yang pandai mengarang.

“Hayo, siapa lagi yang bisa? Coba Hamzah…”

Aku tidak bisa menjawab. Tapi aku berhasil nyeplos:

“Saya ndak berteman sama anjing, Pak. Tahuku kucing.”

Tanpa dikomando seisi kelas mbengok,”hohohoho…….!!!” Aku mengiringi cemooh merekea dengan tawa malu.

Guru kesenian itu menenangkan kami dengan satu tiupan dan sedotan panjang harmonika. Tak lama kemudia ia ikut memberi jawaban:

“Jika berkumpul, manusia berbicara dengan sopan, sesekali bertengkar, tapi ujungnya ada menghasilkan dan bermanfaat. Sementara anjing, bila berkumpul, selalu menggonggong, bertengkar, dan tidak menghasilkan apa-apa.”