Dalam kereta malam, di tengah perjalanan Jakarta-Jogjakarta, muncul sebuah nama: Jumrah. Tubuhnya goib, 8 tahun yang lalu. Tapi aku merasa ia meliputi sekujur tubuhku yang menggigil dan terhimpit. Sketsa wajahnya muncul di muka.

Sebagai perempuan, ia tampak tidak cantik. Tapi antara kening, mata, alis, hidung, bibir, gigi, dagu, dan tulang gerahamnya membentuk keselarasan. Kulitnya berwarna wajar, seperti jamaknya orang Indonesia. Demikian juga berat dan tinggi badannya.

Aku menjumpainya saat aku murohiq. Sementara tenaga, kulit, rambut, suara, tatapan, dan semua yang melekat kepada perempuan itu menunjukkan dirinya sudah berada di waktu Ashar. Ketika aqil-baligh datang, aku justru pergi meninggalkannya. Tapi saat inilah, aku menyaksikan ia seperti berdiri persis di kala matahari berada di atas ubun-ubun. Dengan gagah, ia menasakh larangan suaminya: Sahal Irsyad.

“Nak, kamu boleh pergi ke Jogja. Kebaikan niat dan perilaku akan melindungimu.”

Kalimat itu meluncur saat itu aku sedang mempersiapkan diri, dengan meringkuk di pojok kamar, untuk ngangsu kaweruh ke jogja atau membatalkannya, dan meneruskan sejarah pendidikanku di kediri. Saat itulah hatiku teguh.

“Bersiaplah. Hari ahad Kang Iz akan menghantarkanmu ke Jogja,” lanjutnya tanpa beban. Hatiku teguh-bulat.

Bagiku, kalimat itu semisal wahyu. Hingga sekarang, kalimat itu serasa mengikat kepalaku. Dan bukan tidak mungkin, karena itulah, aku merasa dan boleh dibilang lancar, baik saat 10 tahun hadir di “Kota Terlarang” ataupun saat aku meninggalkannya 2 tahun yang lalu.

Tapi jujur, aku bertanya, “Kenapa nasakh itu keluar setelah 40 hari kepergian suaminya?”

Tak mempedulikan tubuhku yang hampir roboh, kerata malam terus menerobos gelap.