Akhir Nopember kemarin, Sdr. Ulil Abshor-Abdalla menulis artikel berkepala “Tentang Fatwa-fatwa yang Bikin Heboh”. Diposting di web pribadinya, di facebook, dan milist-milist. Artikel tersebut berisi, antara lain, pendapatnya tentang akal: akal sehat, akal otonom, masuk akal. Singkatnya, akal adalah segala-galanya.

Saya kutip tiga paragraf dari pernyataan ulil. Dia menulis dalam konteks fatwa-fatwa MUI:

Tidak semua orang kompeten untuk mengeluarkan sebuah fatwa. Tetapi setiap orang berhak menilai apakah sebuah fatwa masuk akal atau tidak, apalagi jika fatwa itu menyangkut kehidupan masyarakat banyak. Keadaanya tidak beda dengan produk hukum sekuler biasa: anda tak perlu menjadi sarjana hukum untuk menilai apakah suatu produk hukum tertentu masuk akal atau tidak. Begitu juga, anda tak perlu menjadi seorang ahli hukum Islam untuk menilai apakah sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh ulama atau lembaga ulama tertentu masuk akal atau tidak.


Dengan kata lain, cara terbaik yang dapat membantu orang-orang awam di bidang hukum Islam untuk menilai sebuah fatwa adalah akal sehat. Itulah modal mental paling berharga yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Dengan akal sehat, anda bisa menilai sendiri apakah fatwa tentang haramnya mengucapkan selamat natal atau yoga masuk akal atau tidak. Sudah tentu, dengan akal sehat, orang bisa sampai pada pendapat yang berbeda-beda. Itu hal yang lumrah saja. Perbedaan adalah hal yang biasa dan tentu alamiah. Tinggal bagaimana kita mengelola perbedaan itu secara sehat.

Ini paragraf Sdr. Ulil yang lebih teran lagi:

“Jangan terkecoh dengan sebuah fatwa yang mengandung catatan kaki panjang yang memuat puluhan ayat atau hadis. Contoh yang sangat bagus adalah pendapat Ibn Taymiyah yang sudah saya tulis dalam “note” terdahulu. Berdasarkan sebuah hadis tertentu yang sangat sahih, Ibn Taymiyah mengatakan bahwa dalam Islam bangsa Arab mempunyai bangsa yang lebih unggul ketimbang bangsa lain. Bagi Ibn Taymiyah, itulah doktrin Sunni. Pendapat Ibn Taymiyah itu, walaupun disokong oleh ratusan hadis sekalipun, jelas tak masuk akal, dan “counter intuitive“.”

***

Saya setuju pendapat Sdr. Ulil tentang fatwa-fatwa MUI. Saya sangat setuju bahwa akal harus harus ada pada garis paling depan untuk berpendapat, bersikap, dan bertindak. Tapi saya sangat tidak setuju jika akal berdiri di garis depan sendirian dengan bebas. Kebijakan scolari untuk menempatkan Anelka menjadi striker tunggal adalah tepat. Jika Drogba disandingkan dengan Anelka, hasilnya kekisruhan…. Hehehe.. nyambung gak seh?

Tetapi, beragama dan bermasyarakat bukan seperti bermain bola, Bung. Kalau sendirian, akal akan jumawa, takabur. Bila dibiarkan melenggang sendirian, lama-lama dia akan menafikan kebenaran yang lain, yang masih bertebaran di muka bumi ini. Jangan biarkan akal jadi fasis, Bung. Akal itu cuma satu sisi saja dari jutaan sisi nikmat Tuhan yang diberikan kepada kita. Sisi lain yang tidak kalah nikmatnya adalah sisi “kepatuhan” kepada perintah Tuhan, ta’abbudy. Tolong ini jangan dilupakan. Kecuali memang Anda sudah tidak bisa merasakan nikmat ini.

Saya ingin memberi contoh. Berdasarkan akal sehat, kita bisa berhubungan seks dengan siapa saja. Entah itu dengan ibu sendiri, bekas istri ayah kita, PSK, istri orang, janda yang sedang idah, pacar, siapa saja, tanpa kekecualian. Perinsipnya, kedua belah pihak ridho, jalan. Tapi, bila kita menggunakan kenikmatan “ketundukan” kita kepada Tuhan, maka kita dengan bahagia tidak melakukan itu semua.

Contoh lain. Saya setuju-setuju saja, misalnya, zakar fitrah, diganti dengan uang, lauk pauk, atau dengan benda yang lebih produktif. Tapi, hemat saya, janganlah kita menganggap selesai pekerjaan kita sebagai hamba. Buah positif dari ibadah bukanlah inti ibadah. Buah positif hanyalah hikmah.

Contoh satu lagi. Saya paling tidak setuju dengan orang yang memerintahkan sembahyang dengan memberi bebungah kesehatan tubuh. Sembahyang digathuk-gathukkan dengan pinggang, dengan bahu, dengan peredaran darah, dengan kesehatan kepala, dan lain-lain. Mungkin benar bila gerakan kita dalam sembahyang akan ikut membantu peredaran darah kita. Tapi, Tuhan memerintahkan hambanya untuk sembahyang bukan untuk kesehatan.

Sudahlah tidak perlu jauh-jauh dengan Tuhan. Dengan kreasi kita yang lain saja, akal tidak musti klop, bahkan tak jarang beroposisi. Buktinya, etika dan estetika saja tidak selalu akur dengan akal sehat, atau bahkan punya cara kerja sendiri-sendiri. Ini alasan pertama.

Alasan kedua adalah, akal itu terbatas. Bukan terbatas seperti yang sering disampaikan para fundamentalis teks itu. Konteks keterbatasanya bukan pada jangkauan akal itu sendiri. Tapi bahwa semua orang tidak memiliki kesanggupan menggunakannya. Sebabnya, bisa karena akal tersebut tidak banyak isinya (karena tidak mampu bersekolah atau tidak mampu mengakses informasi, buku, dan segala macamnya), atau karena lemot atau donk-donk.

Kalau keadaannya begini, lalu bagimana? Masa orang lemot tidak boleh menggunakankan kitab suci atau fatwa sebagai standar kebenaran? Masa kita akan marah kepada orang yang hanya mampu taqlid? Masa orang yang tidak mengerti dan tidak mungkin mengerti (karena sibuk cari makan misalnya) divonis tidak rasional? Rasionalnya kan kita mesti arif menghadapi pelbagai kondisi akal seseorang yang berbeda-beda. Jangan disamakan kondisi semua akal, karena realitanya berbeda, Bung!

Bagi saya, perlakukan Anda (Ulil Abshor Abdallah) terhadap akal sangat fundamentalis! Dan karenanya, Anda itu elitis. Akal dan logika Anda tidak pro poor. Tidak pro kepada anaknya tukang mie ayam yang tidak bisa sekolah! tidak memihak kepada orang yang lemot, dan ratusan juta muslim indonesia yang miskin.

Saya kira, dalam situasi itulah Nahdlatul Ulama beraswaja: bertawasuth. Dalam konteks ini, menyandingkan akal dan wahyu bekerja bersama adalah pilihan yang tepat, mengawinkan teks suci dengan hasil ijtihad manusia adalah keputusan yang maha gemilang. Kiai, tukang becak, petani bisa jamiyahan adalah keselarasan yang tidak semua dimiliki oleh banyak kelompok di negeri ini.

Dan dalam konteks inilah pula rasa Islam di Jawa boleh berbeda dengan rasa Islam di Aceh, hasil bahtsul masail PCNU tetap sah meskipun berbeda dengan PBNU. Jika di lapangan realitasnya berbeda, tolong jangan protes saya. Kalau diajak rapat, saya mau.

Bagaimana dengan pendapat Anda?