di sebuah bulan yang dijejali hujan

tergesa-gesa, aku menempuh kota asing

tapi penduduk kota menyambutku dengan riang gembira

ucapan, nasehat, keragu-raguan, harapan, lagu dan doa,

berdesak-desakan menjejali telingaku yang sudah sesak dengan

batu lembut merah kecoklatan

aku sendiri heran, terbata-bata, masyghul, penuh tanya

; apa yang akan kukerjakan sebagai manusia yang

penuh harapan dan kemalasan, cinta dan nafsu,

kesantrian dan kemanusian, akal sehat dan emosi?

sungguh aku masih menunggu…