Kompas hari ini memuat berita tentang iklan Adyaksa Dault. Dia dilaporkan PP Pemuda Muhammadiyah karena iklannya dinilai menyalahgunakan fasilitas negara. Karena pelaporan tersebut, Adyaksa “menyatroni” Bawaslu dan membantah laporan PP Pemuda Muhammadiyah.

Salut buat PP Pemuda Muhammadiyah. Tapi tampaknya pelaporan itu tidak akan menuai hasil yang menggembiran. Setidaknya karena, pertama, Adyaksa sudah menunjukkan sikap ”koperatif”. Bawaslu belum memanggil, tapi dia sudah datang. Hebat kan? Politisi PKS memang selalu menampilkan ”eleganitas”. Alasan kedua, karena dia pandai ngeles, dan tampkanya memang UU No 10 tahun 2008 tentang Anggota DPR,DPD, DPRD termasuk UU karet: siapa yang bisa ngeles, dialah yang menang.

Seperti yang pernah kurasakan, PP Pemuda Muhammadiyah mungkin hanya akan mendapat kedongkolan saja. Sewaktu bulan puasa kemarin dan beberapa hari setelah puasa, saya sering melihat Adyaksa beriklan untuk “Rumah Zakat”. Saya dongkol karena sewaktu “berekting” di iklan tersebut, dia menggunakan atribut sebagai pejabat negara, menteri pemuda dan olahraga.

“SAYA PERCAYA RUMAH ZAKAT,” demikian pekik Adyaksa dengan memakai pakai formal: jas, dasi, lengkap dengan PIN kenegaraannya, sambil mangangkat dan mengepalkan telapak tangan kanannya.

Dari ekting tersebut, tentu di era kerja-kerja politik yang mengandalkan storycal politic, bukan historycal politic, Adyaksa akan mendapatkan keuntungan besar, yaitu memperbanyak wajahnya dilihat siapapun. Lebih-lebih kalau dia juga menerima upah dari sang penyuruh, Rumah Zakat.

Tapi, Sungguh, iklan Adyaksa di Rumah Zakat itu tidak rasional. Sungguh tidak rasional! Bagaimana mungkin dia mempromosilan lembaga yang tidak jelas milik siapa (maksudku swasta), sedangkan lembaga miliknya sendiri (maksudku milik negara, Baznas [Badan Amil Zakat Nasional]) dibiarkan memiliki citra buruk.

Adyaksa, Anda dibayar rakyat untuk ngurus negara! Tapi kenapa Anda mengurus milik swasta?????????????????

Saya tahu jabatan Anda tidak berkaitan dengan Baznas. Tapi…… ah, udahlah. dongkol saya!

Saya juga pernah melihat iklan advetorial kementrian yang Anda pimpin di sebuah media cetak. Kalau tak salah ingat, di situ Anda melaporkan ada pertukaran pelajar/pemuda. Bikin boros aja! program Anda yang geto-geto itu tidak istimewa sama sekali! tidak layak diiklankan dengan uang rakyat! Saya, yang membayar pajak, tidak ikhlas tahu!

Kesanku, Anda pejabat yang “mupeng”, alias muka pengen! Mupeng berkuasa!!! Dan tentu narsis!!!

Selain Adyaksa, saya melihat, mentri yang suka beriklan adalah menteri kedokteran, Siti Fadhilah Supari, mentri yang gelar profesornya dicopot kembali gara-gara ketahuan plagiat.

Ini sekedar contoh pejabat kita yang tingkah polahnya na’udzubillah!!!