“Situasi sosial politik yang berlangsung selama sepuluh tahun terakhir ini berimbas sangat besar kepada pergerakan organisasi NU. Salah satu yang sangat terasa adalah kurang perhatian NU terhadap isu jam’iyyah, lebih khusus lagi isu pengkaderan di internal NU.”
Demikian dikatakan Ketua PP Lakpesdam NU, Nasihin Hasan, dalam acara Pembukaan Pendidikan dan Pengkaderan NU, yang diselenggarakan PP Lakpesdam NU, Ahad (8/11/08) di Jakarta. Dalam kesempatan itu, Nasihin Hasan mengingatkan pentingnya kaderisasi yang terencana, terukur, dan berkelanjutan.


“10 tahun ini NU tidak intens pada isu pengkaderan. Hal ini menyebabkan kader NU teserak di mana-mana. Sebetulnya keberadaan NU yang di mana-mana baik-baik saja. Yang jadi masalah adalah keberpihakannya kurang jelas,” terang Nasihin.

Ia menjelaskan bahwa pernyataan ini tentu sangat umum. Pasti ada pengecualian-pengecualian. “Saya tidak sedang menegasikan kerja-kerja kaderisasi yang sudah dilakukan dengan susah payah oleh elemen lain di lingkungan NU, dalam hal ini pesantren. Tapi benar adanya isu kaderisasi belum menjadi arus besar dalam gerakan NU,” ujar tokoh kunci dalam pelbagai peristiwa penting di NU sejak muktamar di Situbondo, 1984.

Di depan 34 peserta pengkaderan, Ketua PP Lakpesdam NU periode 2004-2009 ini mengigatkan pentingnya internalisasi nilai-nilai. “Korupsi yang merebak di semua lini, ketidakjujuran menjadi penyakit semua kalangan, dan melemahnya keperpihakan kepada rakyat kecil, adalah indikator tidak terjadinya internalisasi nilai-nilai. Profesor, doktor, kiai, itu penting, tapi kita tidak butuh kalau perilakunya tidak jelas,” ujarnya dalam nada tinggi.

Pendidikan dan Pengkaderan NU yang berlangsung selama dua hari (8-9/11) ini diikuti oleh tiga puluh empat mahasiswa. Mereka adalah mahasiswa UIN Sahid dan STAINU. Hadir pula beberapa Pengurus PP Lakpesdam NU, yaitu Yahya Ma’shum, Mukhlisin, dan Eko AP.[hamz]