Semestinya saya tidur lebih cepat dalam perjalanan Kudus-Jakarta, Senin malam (27/10). Tapi ternyata tidak. Rasa kantuk dan lelah karena aktivitas siang hari tidak bisa membuat saya tidur cepat. Kursi yang nyaman dan pendingin udara yang segar juga tak dapat merayu saya untuk tetap tenang. Pasalnya bukan ada bayi yang menangis kencang atau ada transaksi tawar-menawar antara penumpang dan awak bis yang alot, atau kegaduhan lainnya yang lazim ada di kendaraan umum. Lalu kenapa?

Penyebabnya adalah adegan beberapa detik iklan sebuah partai politik di TV swasta. Iklan tersebut menampilkan seorang muda berkopyah sambil mengungkapkan sesuatu, saya tidak mendengar apa yang diungkapkan. Poster besar KH Hasyim Asy’ari dimunculkan sebagai latarnya. Belakangan saya melihat partai X tersebut juga menampilkan tokoh nasional lainnya, Soekarno dan KH. Ahmad Dahlan.

Menyaksikan iklan tersebut, isi kepala saya berkecamuk, antara yang subyektif dengan yang obyektif hadir bersamaan. Di satu sisi, saya gusar melihat iklan itu karena KH. Hasyim Asy’ari adalah tokoh ideologis dan historis saya sebagai orang NU. Saya dan semua literatur melihat bahwa partai X sama sekali tidak memiliki hubungan ideologi dan histori dengan KH. Hasyim Asy’ary (dan Nahdlatul Ulama). Cara pandang, sikap beragama dan bernegara antara pendiri NU dengan partai X bertolak belakang. Kiai Hasyim mampu mendialogkan Islam dengan semua unsur dari pernik-pernik Nusantara dan tidak mengedepankan simbol-simbool formal. Sedangkan partai X, unsur Arabnya lebih dominan dan bangga dengan simbol-simbol formal. Di lain sisi, saya bangga karena tokoh ideologi dan histori saya juga diidolakan orang dan kelompok lain yang bersebrangan.

Di satu sisi lagi, pikiran saya tidak bisa tenang karena saya melihat KH. Hasyim Asy’ari dipakai orang atau kelompok lain untuk kepentingan partai politik yang belum jelas keberpihakannya kepada segenap warga negeri ini (hingga kini semua partai politik lebih kental dengan kepentingan promordialnya ketimbang kepentingan nasional). Di sisi lain lagi, saya juga hanya bisa mengernyutkan dahi, karena tokoh saya memang sudah menjadi milik publik. Ibarat jembatan, KH. Hasyim Asy’ari boleh dilewati siapa saja, tak peduli dengan latar belakang suku, etnis, budaya, agama, jenis kelamin, dan identitas lainnya. Undang-undangan No. 10/2008 tentang Pemilu Legislatif juga tidak bisa menghentikannya.

Lho? Tapi kan KH. Hasyim Asy’ari bukan jembatan meski keduanya sama-sama tidak hidup? Kiai Hasyim tidak bisa disamakan dengan jembatan. Kiai Hasyim memiliki sifat “antropologis” yang masih hidup dan berkembang hingga sekarang. Sedangkan jembatan sama seperti benda mati lainnya.

Sepanjang perjalanan dari Kudus, demak, hingga Semarang paradoks-paradoks di atas terus berkecamuk di kepala saya. Pun ketika bis berhenti sekitar 20 menit di daerah Kendal untuk istirahat, makan malam, dan shalat Magrib dan Isya yang digabung. Saya berharap bisa tidur setelah makan. Tapi, seperti roda bis yang meluncur kembali meninggalkan Kendal, Jawa Tengah, isi kepala saya pun berputar, masygul memikirkan iklan tadi. Saya betul-betul susah tidur.

Muncul satu bertanyaan, apakah perlu ada regulasi yang mengatur tata cara “berideologi”?

Ah, saya rasa tidak lucu dan mengada-ada. Rezim Orde Baru sudah cukup lama memantau ideologi warga negara. Cukup di zaman Soeharto saja intel masuk ke kamar-kamar kos untuk memastikan apakah ada poster yang berlawanan dengan isi kepala penguasa pada saat itu. Tidak. Negeri ini sudah kapok dengan otoritarianisme. 32 tahun sudah terlalu lama.

Tidak hanya susah tidur, kepala sudah mulai pusing setelah saya mengingat adegan iklan lain. Kali ini iklan badan amil zakat milik swatsa. Dalam salah satu adegannya, iklan tersebut menampilkan seorang pejabat publik, salah satu menteri kabinet SBY-JK. Dengan atribut lengkapnya sebagai sosok pejabat negara, sang menteri berkata dengan semangat bahwa dirinya percaya terhadap badan amil zakat tersebut. Kontan muncul kemusykilan yang berlipat-lipat. Bukankah pemerintah yang telah membayar dan memfalisitasinya juga memiliki badan amil zakat? Bukankah dia sebagai pejabat negara punya tugas dan kewajiban moral mempromosikan apa yang dimiliki pemerintah, meskipun tak ada kaitan tugasnya? Kenapa dia malah bersemangat mempromosikan yang bukan miliknya? Apakah sang menteri tidak sadar bahwa saat berpromosi menggunakan identitas publik (di baju safarinya menempel pin resmi negara) dan menyandang jabatan negara (saat beriklan, nama lengkap serta jabatannya muncul)?

Kenapa bisa terjadi paradoksal sedemikian rupa? Kenapa ketidaksopanan terus muncul di depan mata secara telanjang dan dilakukan oleh elit negeri? Kenapa orang terhormat dan berpendidikan tinggi sering gegabah melangkah?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan di atas, kecuali dengan jawaban yang cukup sederhana. Jawaban saya ini juga sangat “klasik” dan tidak cukup dijadikan solusi untuk memecahkan masalah negeri yang seakan-akan sudah buntu ini. Mohon maaf, Tuan-tuan, jangan dulu menuduh saya sedang menyebarkan pesimisme. Lalu apa jawabnya?

Di dalam bis yang remang-remang dan mengguncang-guncang tubuh para penumpangnya, saya teringat penyakit purba yang bisa menjangkiti siapa saja dan bisa mewabah dengan cepat. Penyakit itu bernama hubbuddunya (kerasukan dunia). Hubbuddunya, inilah penyakit yang telah menjalar ke sel-sel darah dan merusak sistem otak para elit negeri ini, dan telah menjalar ke para politisi, para birokrat, para intelektual, aktifis, dan ulama, para pedang, seniman, para penggemar sepak bola, dan lain-lain. termasuk di dalamnya cinta jabatan (hubbul jah). Hubbuddunya lebih berbahaya ketimbang hedonisme. Penyakit hubbuddunya bisa berwujud hubbuljah (kerasukan jabatan), hubbulmal (kerasukan harta benda), dan hubbulmar`ah awirrajul (kerasukan perempuan atau laki-laki), dan hubbunnafsi (narsis).

Bentuk-bentuk penyakit di atas membuat mata gelap, tensi muru’ah (harga diri) jadi lemah, dan membuat mabuk: acuh dengan etika dan norma, serta menjadikan yang haram sebagai candu. Tidak berlebihan jika ada mantra berbunyi “hubbuddunya ro`su kullil khathi`ah (kerasukan dunia adalah pangkal tiap kesalahan)”.

Jawaban ini tampak tidak mentereng, tidak ilmiah, tidak bisa diverifikasi, dan cukup abstrak. Bukan tidak mungkin, jawaban ini hanya direspon dengan senyuman sinikal. Mungkin, jawaban seperti ini tidak layak dianggap sebuah “diagnosa”. Saya memakluminya. Sebab, istilah hubbuddunya tidak ada dalam teori-teori kedokteran yang teruji dan canggih, dan tidak pernah terlontar oleh para pakar penyakit, dari zaman Ibnu Zina hingga kini. Dunia kedoteran akan menilai hubbuddunya bagian dari tahayul.

Resep hubbuddunya ro`su kullil khathi`ah sama sekali tak masuk akal. Saya saja merasa tidak perlu menyebarluaskannya. Orang-orang pasti tidak tertarik, apalagi bila saya menyampaikan bahwa resep ini didapat ketika mengaji di musola yang tak berpintu, duduk di atas tikar yang lusuh, dan disampaikan oleh seorang “dukun” yang wajahnya tidak ada “lucu-lucunya”.

Saya terus tertidur. Saya tidak tahu bis telah sampai Batang, Pekalongan, Pemalang, tegal, atau Brebes. Baru setelah bis berbelok 90 derajat saya terbangun. Bis sudah meluncur di Tol Kanci Cirebon. Sebelum keluar Tol, saya tidur lagi. Saya baru bangun lagi setelah bis berhenti karena macet di Pemanukan, Subang. Sesaat saja saya sadar. Masih macet atau tidak, saya tidak tahu. Saya baru terjaga lagi saat laju bis tersendat, persis di jalan depan sebuah sekolah SMP di Rawamangun, Jakarta Timur. Tak lama kemudian bis memasuki terminal Rawamangun. Saya segera turun dan meninggalkannya.

Meskipun telah tidur lama, saya tetap merasa kelelahan. Mungkin karena bis telah mengguncang-guncang badanku tak kurang dari sebelas jam. Mungkin juga karena isi kepala telah disenggol beberapa detik iklan politik. Saya tidak tahu.[]