Jumat Mabruk..

Apa kabarmu hari ini? Apa kabar semuanya?

Sepuluh tahun negeri ini berjalan dengan konflik. Bukan konflik positif yang mengarah kemaslahatan bersama. Juga bukan konflik sebagai pertanda dinamika hidup bersama dan berdampingan dengan “yang luar” dan “yang lain”. Konflik yang sedang berlangsung saat ini menumpahkan darah, memubadzirkan harta benda, membuang waktu, pikiran dan tenaga. Peristiwa busuk ini mengiringi saya belajar di MA (SMA), saya lepas MA dan masuk perguruan tinggi, saya belajar di perguruan tinggi, hingga saya lulus dan bekerja. Saya sungguh jenuh dan jengah menyaksikannya.

Dalam tingkatan yang lebih kecil, komunitas, saya juga sudah lelah menyaksikan konflik, konflik internal, apalagi sedikit banyak saya terlibat di dalamnya. Sebetulnya, persoalan yang menghinggapi komunitas persoalannya sederhana saja, tapi seringkali madorotnya besar. Karena madorotnya yang sering tampak tidak bisa dianggap kecil, saya seringkali berpikir persoalannya serius, tidak sederhana. Sehingga, kalau ada kawan yang usul untuk lebih meningkatkan kumpul-kumpul, meningkatkan kebersamaan, dengan misalnya tahlilan atau marhabanan, cukup naif. Soalnya bukan romantisme seperti itu.

Konflik internal memang problem terbesar kita saat ini. Perpecahan terjadi di mana-mana karena konflik internal. Penyebabnya, menurutku 3 saja. (1) Politisasi, (2) ekonomisasi dan (3) egoisme (menyangkut soal eksistensi diri, keluarga, dan kelompok/ komunitas tertentu). Tiga hal ini disempurnakan dengan hilangnya daya “berkaca” untuk mengoreksi diri sendiri, untuk muhasabah, untuk menjalankan self correcting. Atau malah telah mengalami disfungsi? Semoga tidak. Benar kata pepatah, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, tapi semut hitam di sebrang pulau begitu nyata”.

Hilangnya daya muhasabah ini menyebabkan kita menjadi ekslusif, fanatik dan apriori sekaligus. Yang kusampaikan ini memang NORMATIF dan sangat KLASIK. Tapi ini betul-betul nyata telah hilang dari diri kita, atau setidaknya terkikis, padahal ini bekal yang fundamental untuk mencari “kebenaran”. Menurutku, penyebab hilangnya daya kritis untuk diri kita sendiri, tidak lain adalah karena “hubbud dunya” dan “hubur riyasah”. keduanya telah menjadikan kita gelap mata.

salam damai dari generasi kita

salam damai dari generasi kita

Marilah kita duduk bersama-sama lagi untuk “refreshing” ilmu kita yang didapat di bangku madrasah awaliyah belasan atau puluhan tahun yang lalu. Marilah kita legowo dengan kekurangan yang ada di diri kita. Marilah kita rendah hati dengan kelebihan orang lain, kelebihan yang ada di luar diri kita.

Ingat, kita adalah “selebritis”, tingkah polah kita disaksikan banyak orang. Demi berjalannya sistem sosial kita, demi berfungsinya solidaritas ekonomi kita, demi berlangsungnya fungsi pendidikan kita, demi normalnya sistem kebudayaan kita, demi kemaslahatan umat, dan demi kejayaan kita bersama, marilah kita duduk lagi, tidak usah membaca kitab Risalatul Mu’awanah, Irsyadul ‘Ibad, Nashoihul ‘Ibad, apalagi Ihya,cukup niat tulus tulus dan cita-cita bersama.

Di dunia yang serba benda dan modern ini, tulisan ini mungkin cukup abstrak dan kuno. Tapi kita musti mengingat lagi, bahwa ini hal yang mendasar yang banyak dilanggar.[]