22 October 2008

Pukul 12.15, Rabu (22/10) telepon berdering. Mas Jannes, Wakabiro Jabar menyampaikan penugasan dari Jakarta soal kelangkaan air minum dalam kemasan, khususnya dalam kemasan galon. Intinya, saya ditugaskan untuk memantau aktivitas di pabrik air minum dalam kemasan yang ada di Sukabumi.

Yang langsung terbayang di pikiran saya adalah muka-muka galak pak satpam di pabrik-pabrik air minum dalam kemasan. Tiga bulan lalu, saya pernah mencoba masuk dalam rangka mencari penyeimbang berita mengenai kekeringan yang disebabkan oleh aktivitas penyedotan air tanah untuk keperluan diproduksi menjadi air minum dalam kemasan itu.

Tak ada penyeimbang data yang bisa saya peroleh karena bapak-bapak satpam yang mukanya galak itu udah keburu mengusir saya keluar pabrik. Namun, justru muka-muka merekalah yang membuat saya semangat mengerjakan penugasan seperti yang disampaikan Mas Jannes, ha ha.

Dalam hati saya berkata, “Apa bapak satpam itu lagi yang kebetulan jaga ya,” Motor thunder yang sudah batuk-batuk karena belum diservis, saya pacu ke arah Gunung Salak di Cicurug/Cidahu, tempat pabrik-pabrik itu berada. Ternyata dugaan saya keliru, pak satpam di pabrik Aqua yang sedang berjaga ramah (setidaknya jika dibandingkan dengan pak satpam yang dulu).

Dengan sopan, pak satpam menanyakan keperluan saya. Setelah saya jelaskan, pak satpam kemudian menelepon seseorang, atasannya. Ketika pak satpam menelepon, ada seorang staf pengolahan air yang mengajak ngobrol. Obrolan dengan staf pengolahan yang menceritakan kondisi pabrik saya catat dalam ingatan karena saya yakin pak satpam itu akan menyampaikan kabar buruk pada saya.

Betul sekali, di tengah obrolan dengan staf pengolahan air, pak satpam datang dan menyatakan kalau manajemen pabrik tidak melayani wawancara dengan wartawan untuk keperluan apapun. Saya diminta menemui humas perusahaan di Pulogadung. Sudah saya duga, pak satpam karena dulu temanmu juga bilang begitu.

Begitu keluar pabrik, obrolan dengan staf pengolahan air yang masih nyantol di ingatan langsung saya catat di notes. Untung, ada sumber kedua yang bisa memberi gambaran soal kelangkaan galon di Jakarta.

Mencermati langkanya air minum dalam kemasan khususnya galon di Jakarta dan sekitarnya (Sukabumi juga agak sulit walaupun tidak langka), saya lalu menyadari bahwa kita ternyata sudah sangat tergantung pada air minum dalam kemasan. Di kantor-kantor, hampir semuanya menggunakan air mineral dalam kemasan galon. Rasanya mungkin lucu-karena sudah membudayanya penggunaan air mineral dalam kemasan galon-kalau di kantor, baik instansi pemerintah maupun perusahaan-perusahaan swasta, OBnya masih memasak air untuk keperluan para pegawainya.

Di lain sisi, kita juga harus tetap kritis terhadap eksploitasi sumber daya air untuk produksi air minum dalam kemasan seperti yang kita konsumsi sehari-hari. Konservasi hutan di Gunung Salak sedang dilakukan, tetapi selesainya entah kapan. Jika pengambilan terus dilakukan, potensi 34 juta meter kubik air tanah dalam di Cekungan Sukabumi barangkali akan tinggal cerita dalam beberapa tahun ke depan.

Data yang saya peroleh dari Balai Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Pertambangan dan Energi Wilayah Pelayanan I Cianjur menunjukkan, perusahaan-perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) itu mengambil air tanah dalam sebanyak 449.141 meter kubik per bulan atau 5,389 juta meter kubik per tahun.

Kendati demikian, nilai kompensasi pajaknya amat kecil. Pada Juni lalu, 17 perusahaan AMDK yang mengeluarkan sedikitnya 200 merek air minum dalam kemasan itu membayar pajak penggunaan air ke kas daerah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 1,503 miliar. Pembayaran pajak berfluktuasi sesuai pengambilan air tanah, tetapi angka pembayaran pada bulan Juni bisa dianggap sebagai rata-rata.

Pasalnya, pengambilan air pada musim kemarau meningkat sesuai permintaan pasar, tetapi pada musim hujan akan turun. Dengan angka rata-rata itu, pajak yang dibayarkan oleh 17 perusahaan AMDK selama setahun ke kas daerah Jawa Barat hanya Rp 18,039 miliar per tahun.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Ya monggo mau berbuat apa……… Yang jelas, kelangkaan air minum dalam kemasan galon selama beberapa pekan ini adalah peringatan bahwa sumber daya air dari Sukabumi yang sudah belasan tahun disedot, terus menipis persediaannya. (Oleh AgustinusHandoko:http://agustinushandoko.kompasiana.com/)