Salam

Kang Maman, apa kabar? Apa kabar keluarga? Apa kabar juga kota Majalengka? Meskipun terlambat, saya ingin mengucapkan selamat Lebaran. Semoga Lebaran yang telah lewat itu masih bisa menginspirasi hari ini dan hari esok. Ucapan ini juga saya tujukan ke kawan-kawan lain aktifis milist santri cirebon. Semoga kawan-kawan dalam keadaan baik dan bahagia. Amin.

Berkaitan dengan himbauan Kang Maman jangan ada permusuhan (milis Santri Cerbon, 16 Oktober 2008) saya ingin menyampaikan sesuatu mendasar, yaitu tentang dawuh dari Sahabat Ali yang Sampean sampaikan. Untuk semangat yang menyelip dari pernyataan yang katanya dari Sahabat Ali tersebut, saya 100% setuju. Tapi memang saya menangkap kejanggalan dari pernyataan tersebut. Kejanggalan itulah yang ingin kusampaikan.

Kang Maman (KH. Maman Imanul Hak), saya belum pernah menemukan perkataan Sayidina Ali seperti yang Sampean sampaikan. Musuh Kita ada Tiga: 1. Musuh Kita, 2. Musuh Kawan Kita, 3. Kawan Musuh Kita”.

Sampaean menemukan dawuh tersebut di mana, Kang? Sejauh bacaan saya tentang Sahabat Ali, saya belum pernah menemukannya. Tentang relasi “politik”, saya hanya menemukan kategori “teman”. Seingatku, atsar Sayidina Ali memasukkan orang sebagai teman lewat tiga jalur: (1) seorang menjadi teman karena dia memang teman, (2) teman saya tadi punya teman. Sedangkan jalur yang ketiga adalah temannya teman saya punya teman. Jadi ada tiga rantai. Kurang lebih seperti itu, saya lupa matannya. Maklum, sudah lewat 10 tahun.

Saya menemukan tiga jalur pertemanan itu di Jawamiul Kalim, risalah kecil berisi kumpulan-kumpulan hadits dan atsar. Penghimpunnya Mbah Ali Makshum Krapyak.

Saya menduga, Kang Maman mungkin mau bermain-main dengan mafhum mukholafah. Tapi saya pikir, bukan tempatnya. Salah tempat, Kang! Karena dampaknya luar biasa madorot. Permainannya Sampean sama saja dengan meng-MLM-kan permusuhan. Na’udzubillah min dzalik!

Alasan dugaan saya cukup jelas, yaitu karena saya belum menemukan dawuh Sahabat Ali tersebut. Bahkan saya tidak percaya sahabat ali mengkategorikan musuh tersebut. Karena, semangatnya kontra produktif dengan kategori “teman” tadi. Kalaupun  nanti saya menemukan matannya, saya berani mengatakan pernyataan Sahabat Ali itu pernyataan yang paling bodoh dari Sahabat Ali. ini pernyataan anomali!!!

Kang Maman, saya teruskan saya ya.. Ndak masalah kan terlalu panjang? Siapa tahu bermanfaat, minimal untuk diriku, ya paling tidak saya up load di blog. Mau dianggap ceramah juga ndak masalah kok. Mumpung sedang senggang.

ushi nii nafsi waiyyakum…heheh… ceramah betul nich. Ya maafkan….

Pernyataan tentang permusuhan yang paling saya suka adalah pernyataan yang sering dikutip guru kita, Gus Dur, “Bagiku, 1 musuh sudah terlampau banyak.”

Menurut saya, pernyataan ini adalah mantra yang dahsyat. Tidak kalah dengan doa “sapu jagat”. Kalaupun faktanya Gus Dur banyak musuhnya, itu soal lain. Undlur maa qala, wa la tandlur man qala…. Hehehe… Jadi ceramah betul. Ndak apa-apa ya? Ndak usah tersinggung. Ya sekali-kali di-ceramahin… heheh…

Berkaitan dengan mafhum mukholafah yang “dimainkan” kang maman, saya berharap ini sungguh-sungguh seloroh saja. Meskipun memang materinya terlalu serius untuk bermain-main, sehingga tak akan menghasilkan kesegaran isi kepala.

Meskipun demikian, saya percaya Sampean dan kita semua tak akan meng-MLM-kan permusuhan. Dan bahkan, mudah-mudahan, tidak ada permusuhan secuil pun. Tapi kayaknya terlalu mengada-ada kalau kita tidak punya lawan. Saya pikir kita punya musuh masing-masing, atau paling tidak mau sungguh-sungguh berteman. Kita bukan malaikat kan? Saya yakin di hati kita ada permusuhan, minimal sebiji dzarroh.

Tapi saya mohon, jangan disebarkan ke istri kita, ke anak kita, ke adik kita, ke keponakan kita, ke teman kita, ke pacar kita. Ingat kata guru kita, 1 musuh sudah terlalu banyak. kecuali kita merasa bahagia dan merasa kekuatannya bertambah dengan meng-MLM-kan permusuhan.

Ingat Kang Maman dan kawan-kawan semuanya, tulisan ini berbau ceramah,  sehingga wajar kalau ada fiil amar atau la nahi….hehehe….. Tapi jangan khawatir, saya menulis surat ini dengan senyum-senyum kok, tidak dengan menunjuk-nunjuk.

Sehubungan dengan GP Anshor Kab. Cirebon yang sekarang ini dibesut oleh Kang Zaman, saya sangat berharap banom kepemudaan (yang berjenis laki-laki ini, tapi saya juga tidak sedang membatasi gerak perempuan) ini memiliki jiwa dan memiliki kerja-kerja yang rekonsiliatif. ini urgen, Kang Zaman.

Sekarang, rekonsiliasi -di internal NU- adalah agenda besar yang mustinya terus digulirkan dengan tulus dan tanpa putus asa. NU hari ini hampir bangrut. Sebab, di NU ada indikasi meng-MLM-kan permusuhan. Saya melihat belum ada yang peduli.

Saya juga tak melihat rekonsiliasi “menjadi sifat” pada gerakan-gerakan yang ada di anak muda NU, termasuk pertemuan yang dilakukan di Mlangi Jogjakarta menjelang Romadon kemarin, dan akan dilanjutkan di Jepara akhir bulan ini. Semoga program rekonsiliasi NU bisa lahir di Jepara.

Wah, kayaknya kepanjangan nich. Wajah-wajah para guru dan senior juga mulai hadir, cukup mengganggu konsentrasiku. Saya ndak PD. Ada Kang Husen, ada Kang Sahiron, ada Kang Zuki, ada Kang Faqih, Kang Zaman, Kang Waryono, Kang Maman. Kayaknya kalau diteruskan, semakin banyak yang hadir di depan saya. Saya dibuat grogi. Saya cukupkan di sini saja. Terlalu “panjang” juga ndak sehat untuk mata dan untuk anggota badan yang lainnya… Hehehe…


Mohon maaf dan terima kasih…


Wassalam,

Hamzah Sahal