Saya tergelitik membaca artikel Saudara Saidiman berjudul Tasydid di rubrik Bahasa Tempo, edisi 8-14 September 2008. Dalam membaca tulisan Arab, tanda baca tasydid memang dibaca dengan tekanan tertentu, karena memang tasydid secara bahasa berarti keras atau berat. Misalkan gabungan tiga huruf: hamzah, lam-alif: illa, yang menghasilkan makna “kecuali”. Lam pada tiga huruf tersebut di-tasydid. Hamzah yang dibaca kasroh, bertemu dengan lam tasydid yang dibaca fathah, serta alif yang mati, bila dibaca secara utuh menghasilkan bunyi double “L” (lam): illa. Double “L” tersebut dibaca dengan cara menjejakkan lidah pada bagian langit-langit mulut, dan berhenti sejenak. Lam ber-tasydid dalam Ilmu Tawjid disebut idhgham bi la ghunna. Contoh, wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin, kami tidak mengutusmu kecuali untuk sekalian alam.

Bandingkan dengan membaca gabungan dari hamzah, lam dan ya bengkok: ila, yang dalam bahasa Indonesia menghasilkan arti “ke”. Lam di sini dilafadkan biasa saja, lidahnya memenang menyentuh langit-langit mulut, tapi hanya lewat (tanpa berhenti) dan tidak dijejakkan. Contoh, ana adzhabu ila al-madrasah, saya sedang/akan pergi ke sekolah.

Dalam contoh di atas, saya mendukung apa yang terucap (ma qala) Saudara Saidiman. “L” (lam) pada kata yang berarti “kecuali” dalam transkipsi bahasa Indonesia musti menyandingkan dua “L”. Sementara “L” (lam) pada kata yang berarti “ke” cukup satu saja. Dengan demikian kita bisa membedakan makna keduanya. Saya tidak bisa membayangkan betapa susahnya membedakan kedua kata yang memang berlainan fungsi dan makna. Orang yang paham bahasa Arab mungkin bisa membedakan keduanya dengan melihat kontek kalimatnya, siyaqul kalam-nya.

Sedikit pelajaran. Illa dan ila dalam bahasa Arab disebut huruf. Orang Arab menyebut “kata” dengan kalimah. Mereka membagi kalimah menjadi dua, isim (kata benda) dan fi’il (kata kerja). Orang yang belum belajar bahasa Arab mungkin akan sedikit bingung. Orang Arab (yang bukan Arab disebut ‘ajam) pasti akan terbengong-bengong mendengar perubahan makna yang radikal ini.

Lebih dari itu, orang Indonesia sudah mentolerir kesalahan besar akibat dari memperingan (takhfif) transkip dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Ambil contoh, pada frase akhlakul karimah. Frase ini sudah populer dalam percakapan kita sehari-hari, dan para ahli bahasa sudah mensahkan menjadi bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab, “akhlak yang baik” wajib ditulis dengan sejenis (muwafaqah): ma’rifah dengan ma’rifah (isim tertentu), nakirah dengan nakirah (isim yang masih umum), muanats dengan muanats (perempuan) dan mudzakar dengan mudzakar (laki-laki). Jadi, tulisan akhalakul karimah yang benar adalah al-akhlak al-karimah, atau bisa dibaca al-akhlakul karimah. Kalimat seperti ini dalam bahasa Arab disebut susunan shifat maushuf, “sifat” dan “yang disifati”.

Sementara itu, akhlakul karimah dalam bahasa arab dinamakan susunan idhofah, mirip dengan kata majemuk. Maknanya juga lain. akhlakul karimah berarti “akhlak yang dimilik Mba/Ibu Karimah”. Contoh dalam bahasa Indonesiarumah sakit”, tempat menginapnya orang-orang sakit. Kita menggunakan bahasa yang oleh orang Arab diharamkan. Tapi kita merasa tak berdosa kan? Atau dosa merasa dosa, tapi yakin dimaafkan (ma’fu). Radikal bukan?

Namun, bila saya terus-terusan sependat dengan Saudara Saidiman bahwa tasydid harus ditranskip secara konsisten dalam huruf latin, saya bisa menjadi fundamentalis bahasa. Fundamentalis bahasa? Apa akibatnya?

Ya betul, fundamentalis bahasa. Akibatnya bahasa Indonesia tidak bisa menjadi diri sendiri, tidak kreatif, tanpa proses Indonesianisasi. Lain masalahnya bila kita pasrah bongkoan kepada orang Arab, alias dijajah secara bahasa. Menurut saya, tidak perlu dipersoalkan bila tasydid dalam bahasa Indonesia hanya dibaca sekedarnya saja, sepanjang tidak mengubah makna. Ambil contoh kata “ummat”, dalam ejaan Indonesia cukup dibaca sekedarnya saja, “umat”, satu “M” sudah cukup. Selain menghemat, juga sudah menjadi bahasa Indonesia.

mari ngaji lagi

mari ngaji lagi

Saudara Saidiman, kalau “konsisten” menggunakan tasydid Saudara juga akan direpotkan betul. Pasalnya, Anda harus menuliskan nama Saudara dengan dua kata, tentu saja kalau dugaan saya benar bahwa nama Saudara merupakan racikan dari bahasa Arab dan bahasa Jawa. Jadi, tidak cukup “Saidiman”, tapi “Sayyidun” (bahasa Arab), yang berarti “tuan” dan “Man”, (bahasaJawa): “Sayyidun Man”. Keterangan dari susunan (i’rab) “Sayyidun Man” akan tambah panjang bila “Man”-nya berasal dari bahasa Arab. Bukankah ini pemborosan? Ingat Saudara, pemborosan (israf) dibenci Tuhan.

Pembetulan

Yang saya tulis di atas merupakan pendapat belaka. Boleh diikuti dan mubah ditentang. Selagi ahli bahasa belum mengetuk palu, tidak ada yang benar atau salah. Tapi dalam bagian akhir dari artikel Saudara Saidiman tersebut, ada kekeliruan yang fatal, yaitu pada asal kata “makalah”. Menurutnya, “makalah” berasal dari ma qala, gabungan dari ma (sesuatu) dan qala (terucap).

Benar bahwa ma qala berarti “sesuatu yang terucap”, tapi sangkaan Saudara salah bila “makalah” itu asalnya ma qala. “Makalah” dalam bahasa Arab ditulis dengan (al-)maqalah, gabungan dari mim yang di-fathah, qaf yang di-fathah, lam yang juga di-fathah, dan diakhiri dengan ta tamarbutoh. Al-maqalah itu isim, bukan gabungan dari huruf dan fiil, seperti yang Saudara katakan.

Dalam bahasa Arab, al-maqalah merupakan derivasi dari qaul, perkataan. Dalam ilmu sharaf al-maqalah disebut masdar mim. Memang, al-maqalah itu berarti perkataan, bukan tulisan. Tapi buat apa kita menggugat istilah “makalah” untuk paper, toh kita sudah mafhum, toh “makalah” juga berisi perkataan, toh sudah sah menjadi bahasa Indonesia? Meskipun demikian adanya, sah-sah saja bila Saudara Sayyidun Man, eh, Saidiman, menggugatnya, dan mengganti dengan kitabah (bukan ma kataba) atau risalah, karena mungkin ingin menjadi fundamentalis bahasa.[]