Nadlatul Ulama adalah satu-satunya Ormas atau kelompok Islam yang mengakomodir keragaman ajaran. Perbedaan atau khilafiyah sudah menjadi tradisi dalam dalam tubuh NU. Sehingga tidak berlebihan jika NU disebut sebagai miniatur keragaman di dalam Islam.

Demikian dikatakan staf Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam NU) NU, Hamzah Sahal dalam acara saresehan dan buka bersama bertajuk “Menghayati Perbedaan” di Aula Institut Pertanian Bogor (12/9).

Selain Hamzah Sahal, acara yang digelar PB Korpri ini juga menghadirkan Muhammad Rodli Kaelani (Ketua Umum PB PMII), Agus Purnomo (mantan aktifis PMII UGM dan anggota DPR dari PKS), Mohammad Banapon (mahasiswa S2 IPB), Djoko Edhi Abdurrahman (aktifis PPP), dan Eem Marzuhiz (Ketua Kopri PB PMII).

“NU adalah tempat peleburan tradisi-tradisi atau ajaran-ajaran yang di negeri asalnya berkonflik secara tajam. Contohnya tradisi Sunni dan Si’ah. Memang NU memegang tradisi Sunni secara kukuh, tapi NU tidak mengolok-olok Syiah secara berlebihan. NU menentang Wahabi di negeri ini karena mereka gampang sekali mengkafirkan golongan lain dan juga karena mereka berambisi memberangus tradisi lokal Nusantara,” ujar Hamzah menjelaskan.

Alumni Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta juga menyampaikan bahwa beberapa praktik ritual di Syi’ah, seperti memuji ahlul bait, NU juga melakukannya dengan sungguh-sungguh dan sudah menjadi tradisi. “Kita sebagai jamaah NU wajib menjaga tradisi ‘Islam Akomodatif’ yang telah diwariskan oleh para wali,” imbuhnya.

Lebih lanjut Hamzah mengatakan bahwa tradisi akomodatif di NU melahirkan intelektual (ulama) di bidang keislaman yang tak ada tandingnya di negeri ini. “Tapi sikap akomodatif bukan tanpa kelemahan, karena sikap ini bisa menimbulkan ketidakpuasan, dan akhirnya bisa jalan sendiri-sendiri. Contohnya yang paling riil adalah sikap politik warga NU. NU tidak pernah padu dalam berpolitik,” kata Hamzah mengingatkan.

Hamzah berpendapat, “Kelemahan ini bisa diminimalisir, salah satunya dengan melakukan kaderisasi yang terencana, matang, dan solid.” [L. http://www.lakpesdam.or.id]