Kelahiran Nahdlatul Ulama salah satunya merupakan respon terhadap invasi akidah Wahabisme yang berupaya menggusur tradisi. Komite Hijaz yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah untuk bertemu dengan raja Ibn Sa’ud, penguasa Mekah dan Madinah, adalah sebagai bentuk perlawanan ideologis terhadap Gerakan Wahabiyah.

Demikian disampaikan Alai Nadjib dalam Dialog Ramadlan dan Buka Bersama yang mengusung tema NU dan Realitas Keberagaman Islam di Ciputat (12/9/08).

“Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar dunia juga tak luput dari pertarungan ideologis. Dan kehadiran NU juga tidak luput dari pertarungan itu,” tegas Alai, Wakil Ketua PP Lakpesdam NU ini.

Hal senada juga disampaikan Rumadi. Menurut Redaktur Afkar dan Ketua Yayasan Nusantara Damai ini, pertarungan itu terjadi karena perbedaan paradigma berpikir yang dikembangkan gerakan wahabi yang diimpor ke tanah air. “Problem khilafiyah yang bersumber dari perbedaan metode berpikir itu kemudian menjadi landasan mendesaknya terbentuknya NU sebagai organisasi sosial keagamaan,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Rumadi yang juga dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta ini mengatakan bahwa dalam setiap upaya kreatif yang dilakukan, NU sangat memperhatikan dan menghargai apa-apa yang hidup dalam masyarakat. Berbeda dengan Wahabi yang antipati dengan tradisi lokal yang dinilai membuahkan benih bidah, takhayyul dan khurafat. Karena itu, tambah Rumadi, NU selalu menjaga keseimbangan antara pengembangan Islam dan pelestarian apa yang hidup dalam masyarakat.

Dialog yang diakhiri dengan buka bersama ini terselenggara atas kerjasama antara Departemen Penelitian dan Pengembangan Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia Komisariat Fakultas Syari’ah dan Hukum Cabang Ciputat dan PP. Lakpesdam NU. Dialog ini dihadiri kurang lebih 60 orang, yang mewakili sejumlah kelompok studi se-Ciputat dan perwakilan organisasi kemahasiswaan di Ciputat.[ab, http://www.lakpesdam.or.id]