Ketika Ramadhan datang, saya selalu diliputi rasa ”romantisme” yang begitu mendalam. Romantisme itu meliputi banyak hal, dari mulai perilaku atau sikap hingga suasana ”alam”. Misalnya, saya merasakan ”suhu udara” di masjid-masjid atau di langgar-langgar, dan bahkan di pasar-pasar, ”meningkat”. Atau saya dengan gembira berkumpul setelah shalat tarawih untuk tadarus. Atau saya ingat misalnya, saat Ramadhan tiba, sebulan penuh saya tidur di masjid. Saat tengah malam tiba, saya dan belasan teman berebut menabuh kentongan: membagikan waktu untuk warga. Dan tak lupa, ini yang agak aneh tapi nikmat sekaligus, Ramadhan atau bulan Puasa melahirkan makanan dan minuman khas. Romantisme Ramadhan semacam ini, saya kira telah menjadi ingatan kolektif bagi setiap Muslim di manapun berada. Saat ini, romantisme tersebut telah mengalami komodifikasi, dijual di pelbagai media massa. Ramadhan dalam ilustrasi seperti ini tampak seperti karnaval rutin, sebulan dalam setahun.

Dari segala suasana Ramadhan di manapun yang pernah saya alami, yang paling mengesankan dan meninggalkan atsar yang tak terlupakan bagi saya adalah suasana Ramadhan di pesantren. Di pesasntren, kebersamaan dan kesederhanaan, serta aktitivitas-aktifitas yang sarat makna, dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar slogan yang gegap-gempita. Di sana, ingatannya bukan saja pada sesuatu yang bersifat trivial seperti ilustrasi di atas. Ada apakah Ramadhan di pesantren?

Sewaktu saya mesantren di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (1996-2000) misalnya, saya merasakan suasana Ramadhan yang lebih ngeh ketimbang di tempat manapun. Lampu di tempat-tempat pengajian menyala sampai tengah malam. Begitu juga lampu yang ada di bilik-bilik pesantren, hampir tidak ada yang mati. Di siang hari, suasana kesibukan dan ghirah para santri lebih terasa lagi. Hal ini menandakan aktivitas pengajian atau kegiatan belajar mengajar meningkat tajam, baik pengajian umum yang diikuti belasan hingga ratusan santri ataupun tadarus Al-Quran atau muthola’ah kitab kuning yang bersifat individu. Kesan pertama saya menjalani Ramadhan di pondok sangat melelahkan, tapi sekaligus merasa produktifitas saya sebagai santri mengingkat secara signifikan.

Suasana lain yang lebih menyegarkan lagi adalah banyaknya santri dari luar kota masuk ke Krapyak. Mereka datang dari Jakarta, Cirebon, Tegal, Purworejo, Kebumen, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Semarang, Solo, Kediri, dan kota-kota lain di Jawa, bahkan dari Madura. Pertama kali saya menyangka kedatangan mereka untuk mendaftar dan kemudian menjadi santri dalam jangka waktu yang lama (menetap), tapi ternyata tidak. Mereka datang hanya untuk mengikuti pengajian selama Ramadhan. Lebih khusus, kebanyakan dari mereka mengikuti pengajian-pengajian di mana risalah-risalah almaghfurlah KH. Ali Maksum (Pengsuh Pondok Pesantren Krapyak setelah almaghfurlah KH. Munawir) dibaca.

Memang, tiap Ramadhan pesantren Krapyak mem-balah (membaca) karya-karya Mbah Ali –begitu KH Ali Maksum biasa dipanggil- hingga khatam. Saya masih ingat, ada tiga judul risalah Mbah Ali yang populer dan saya pernah mengikuti pengajiannya, yaitu Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah, Risalah Shiyam, dan Jawami’ul Kalim. Ngalap berkah Mbah Ali,” begitu jawaban yang selalu saya dengar ketika ditanya apa tujuan ngaji Ramadhan di Krapyak.

Suasana yang sama saya rasakan ketika saya mesantren di Nurul Ummah, Yogyakarta (2000-2005). Berbeda dengan di Krapyak yang khas dengan risalah-risalah Mbah Ali Maksum, di pesantren yang berlokasi di Kotagede ini menggelar karya agungnya Imam Al-Ghozali, Ihya Ulumuddin. Sewaktu saya di sana, kitab fiqh-sufistik ini langsung diampu almaghrulah KH. Asyhari Marzuki. Sama dengan di Krapyak, animo untuk mengikuti pengajian tidak hanya datang dari santri tetap, tapi juga santri luar yang datang dari berbagai daerah.

Di Cirebon Jawa Barat, tepatnya di Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun, saya mendengar di sana digelar kitab Kutubus Sittah (enam judul kitab hadits) secara ”estafet” saat Ramadhan datang. Saya katakan secara ”estafet” karena enam judul itu tidak dibaca semuanya dalam satu bulan, melainkan nyicil satu judul per Ramadhan. Misalkan, Ramadhan tahun ini dibaca Jami’ush Shahih Bukhori, Ramadhan tahun berikutnya Shahih Muslim, Ramadhan setelahnya Sunan Nasai, dan secara berturut turut, Sunan Trimidzi, Sunan Abu Daud, dan Sunan Ibnu Majjah. Jadi, Kutubus Sittah baru selesai dibaca setelah melewati enam kali Ramadhan. Dan menginjak tahun ketujuh, akan dimulai dari awal lagi, Jami’ush Shahih Bukhori, Shahih Muslim, dan begitu seterusnya. Kutubus Sittah di-balah oleh KH. Ibnu Ubaidillah.

Festival Kitab Kuning

hadza ituwi iki, iku kitabun kitab

hadza ituwi iki, iku kitabun kitab

Tiga tradisi pesantren saat Ramadhan yang saya kisahkah di atas hanyalah contoh kecil saja. Di pesantren lain (yang jumlahnya mencapai belasan ribu) di seluruh penjuru negeri ini juga berlangsung tradisi semacamnya, tentu dengan suguhan dan model yang beraneka ragam. Kalau boleh saya menamakan, Ramadhan di pesantren layaknya sebuah fesitival keagamaan dan kebudayaan sekaligus. Ya, Ramadhan adalah festival: Festival Kitab Kuning. Di pesantren-pesantren Jawa, tradisi Ramadhan dikenal dengan sebutan Pasaran. Mungkin karena situasinya seperti pasar, minus komersialisasi. Di pesantren saat Ramadhan terdapat lapak-lapak atau warung-warung, berupa halqoh-halqoh pengajian, yang menyajikan aneka jajanan atau barang-barang, berupa kitab-kitab kuning yang judulnya beraneka ragam.

Berbeda dengan festival kebanyakan yang terjadi di negeri ini yang tinggal rutinitas, rangkaian seremoni, tontonan/hiburan atau bahkan klangenan semata, dangkal, dan tidak lebih sebagai bagian dari ”pasar”. Ramadhan menjadi momen terjadinya persilangan budaya antarpesantren. Pesantren melepas para santrinya untuk pergi ke pesantren lain dan membebaskan santrinya memilih kajian kitab kuning yang dikehendakinya. Dan pada saat yang sama, pesantren membuka diri untuk didatangi santri dari pesantren lain. Menjadi jelaslah, Ramadhan di pesantren tidak sekedar mengisi waktu luang, melainkan untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Dan menjadi jelas pula bahwa Ramadhan di pesantren, bukan untuk menunggu bedug Maghrib, melainkan momentum untuk memenuhi salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar, yaitu berjumpa secara utuh dan sungguh-sungguh.

Festival Kitab Kuning menawarkan kedalaman makna pada kehidupan beragama dan berbudaya di masyarakat Muslim Indonesia, lebih-lebih pada saat derasnya serangan budaya global, lengkap dengan hedonisme, individualisme, konsumerisme, dan rivalisme, seperti sekarang ini. Tradisi Ramadhan di pesantren menjaga budaya yang mengedepankan substansi bukan seremoni, berbasis kebersamaan (berjamaah), bukan individualisme apalagi rivalitas, serta menggerakkan spiritualisme dan kesederhanaan yang produktif bagi kehidupan manusia, bukan hedonisme dan konsumerisme.

Akhirul kalam, selama menjalani sepuluh kali Ramadhan di pesantren, saya berkesimpulan bahwa aktivitas-aktivitas Ramadhan di pesantren, dari pagi, siang, sore, hingga malam hari betul-betul memiliki taste yang tak ada bandingnya. [ ] Sumber, Hamzah Sahal, http://pondokpesantren.net/