Keberadaan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang mengumpulkan ulama dan cendekiawan muslim dari seluruh dunia oleh PBNU tidak berarti sama dengan Islam transnasional yang kini marak di Indonesia.

“Meskipun mereka berkumpul menjadi satu, tetapi mereka tetap menghargai lokalitas budaya masing-masing yang sesuai dengan ajaran Islam,” Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi saat berdialog dengan rombongan PCI NU yang mengikuti acara ICIS, Kamis malam (31/7).

Hadir pada acara tersebut perwakilan dari PCI NU Mesir, Malaysia, Australia, Libya, Inggris, Jepang, Syiria, Lebanon, Sudan, Pakistan, Amerika, dan Saudi Arabia.

Dijelaskan oleh Hasyim yang juga Sekjen ICIS bahwa keberadaan organisasi ini akan dikembangkan per kawasan agar lebih mampu menghadapi permasalahan di tingkat tersebut. Karena itu, ia berharap agar PCI NU di setiap kawasan mampu menjadi tulang punggung aktifitas ICIS. “Ini penting agar ICIS tidak lepas dari NU,” terangnya.

Saat ini yang tengah dilakukannya adalah penataan struktur, personel dan peningkatan kualitas. “Perlu adanya kesamaan pandangan dan persepsi umat Islam pada konflik,” ujarnya. Seperti pada masalah Islamophobia, Hasyim menjelaskan ini perlu ditelaah, sebabnya dikarenakan kurangnya pemahaman terhadap

Islam yang menyebabkan mereka takut atau kebencian. Kepada para pengurus PCI, Presiden World Conference on Religious for Peace ini meminta agar PCI NU tidak melakukan tindakan Kriminal mempermasalahkan sistem kenegaraan tempat mereka bermukim.

“Kita harus sadar bahwa kita hidup di negara lain, jangan sampai membuat problem dengan negara, keamanan dan arus politik disana,” terangnya.

Ia memberi contoh orang Turki yang bisa hidup di setiap tempat dan bekerja tanpa mempermasalahkan sama sekali keberadaan dan sistem negara tersebut. (mkf/nuo)