FRANK S Caprio percaya bahwa humor perlu, bahkan penting, untuk hidup. Saking pentingnya humor di mata Caprio, penulis buku How to Enjoy Yourself itu menyamakannya dengan kebutuhan oksigen bagi paru-paru manusia. Kalaulah tidak sepenting itu, paling tidak humor bisa berfungsi menangkal frustrasi yang dapat menggangu kesehatan.

Jika demikian halnya, alangkah “mulia” peran humor dalam kehidupan. Dalam kehidupan bernegara pun humor kadang-kadang ikut hadir dan diperhitungkan, meski – tentu saja – bukan untuk ambil bagian dalam keputusan-keputusan politik. Dan humor berkembang lewat berbagai penyajian dan dengan materi yang beragam.

Di tengah masyarakat yang tertekan, humor pun berfungsi menjadi katup pelepas. Lalu muncul humor-humor politik yang segar, tak jarang sarat muatan kritik. Pada tingkat ini, boleh jadi benar seperti disinyalir peserta diskusi humor di Taman Ismail Marzuki (TIM) dua setengah tahun lalu, bahwa humor bagi rakyat (Indonesia) telah menjadi kompensasi dari kejenuhan saat melakukan perlawanan terhadap struktur yang mengekang. Dalam situasi seperti ini, humor yang bermuatan kritik atau kritik yang disajikan dengan gaya humor, bisa menjadi sarana “efektif” untuk menyampaikan gagasan.

***

KUMPULAN tulisan almarhum Mahbub Djunaidi lewat kolom Asal Usul di Harian Kompas yang diluncurkan Selasa (9/1) malam, juga banyak mengandung unsur humor. Ketika ia menyampaikan kritik pun, unsur humor kerap muncul dalam tulisan-tulisannya. Kritik yang disajikan Mahbub khas Mahbub, tidak dibuatnya sebagai sarana untuk menghantam. Soetjipto Wirosardjono yang tampil bersama Ridwan Saidi pada sesi diskusi berpendapat, kritik Mahbub lebih terasa sebagai apa yang ia istilahkan sebagai ‘guyonan yang mengena’ alias guyon parikeno.

Bung Mahbub, demikian Soetjipto Wirosardjono, mampu menyiasati penyampaian kritiknya dengan wisdom kepasrahan orang yang ridho. Berbeda dengan jurnalistik stel kenceng yang mengungkapkan kritiknya dengan gaya menghentak, atau berbasa-basi menghiba-hiba, Bung Mahbub mengajak pembacanya untuk bisa menertawakan diri sendiri. Kritik Mahbub juga berbeda dengan kritik yang sengaja dibuat sebagai sarana untuk menghantam, “Yang hingga kini masih dipakai oleh wartawan-wartawan senior,” ujar Soetjipto seraya menyebut nama wartawan atau kolumnis dimaksud.

Masalahnya, apakah “kesadaran” masyarakat kita sudah sampai pada tingkat mampu menertawakan diri sendiri? Ini tentu merupakan satu persoalan tersendiri. Jika ternyata “selera” humor masyarakat kita baru sampai pada tahap lawakan, maka ajakan untuk menertawakan diri sendiri lewat humor-kritik akan sulit tercapai.

Lebih-lebih bila pendapat Ridwan Saidi bisa digeneralisasi, bahwa pada dasarnya orang Indonesia tidak suka dikritik, situasinya akan menjadi lebih sulit. Bila itu menyangkut pemimpin alias penguasa, maka kondisi ini menjadi berbanding terbalik dengan gambaran ideal yang diharapkan dari mereka. Bukankah seperti kata Soetjipto Wirosardjono, salah satu ketahanan politik seorang pemimpin (konon) berbanding lurus dengan kualitas rasa humornya.

“(Se)-makin matang seorang pemimpin, (se)-makin kaya khasanah lelucon-leluconnya. (Juga) semakin santai mereka menanggapi kritik. Ingat tokoh-tokoh seperti Churchill, Kruschev, Frans Seda, Rudini, Gus Dur, Sabam Sirait, lalu juga Bung Mahbub sendiri. Rupa-rupanya latar belakang budaya memiliki peran penting dalam bangunan daya tahan seseorang terhadap kritik.”

***

BERHADAPAN dengan situasi yang beragam semacam ini orang lalu mencari cara penyajian yang paling pas untuk menyajikan kritik. Tak terkecuali pers. Orang lalu teringat tulisan-tulisan Mahbub yang sarat muatan nilai, pesan dan kepedulian sosial, tetapi sekaligus penuh kritik.

Baik Soetjipto Wirosardjono maupun Ridwan Saidi – juga sejumlah undangan yang hadir dalam peluncuran buku Mahbub Asal Usul, menandai 100 hari wafatnya tokoh pers dan tokoh politik itu – memuji jurus dan siasat almarhum menyajikan kritik. “Mahbub mengkritik, tetapi tidak mempermalukan. Mahbub menyerang, tetapi tidak menelanjangi. Mahbub menyodok, tetapi tidak menohok,” kata Ridwan Saidi.

Ringkasnya, lanjut tokoh politik yang berkibar kembali setelah mengumumkan pembentukan “Masyumi Baru”, Mahbub mampu menyajikan kritik dengan tertib dan dengan kata-kata yang pantas. “Pengalamannya yang panjang dalam dunia tulis-menulis telah mengantarkan Mahbub pada “format” kolumnis seperti yang kita kenal,” simpulnya. Di mata Soetjipto, gaya tulisan Mahbub yang serba ringan, menyenangkan dan menghibur merupakan jawaban terhadap apa yang ia sebut kancah pahit getirnya kehidupan pers di Indonesia.

Andai semua kita sudah sampai pada tingkatan bisa menertawakan diri sendiri – sebagaimana ajakan Mahbub Djunaidi -, barangkali pers tak terlalu sulit menyajikan fakta yang tak “direstui” untuk dimuat. Lewat humor orang lalu bisa membaca berita di balik berita, atau bahkan siaran yang (sebetulnya) tak disiarkan. Tetapi, seperti kata Emanuel Subangun, hal-hal semacam ini membutuhkan humor yang cerdas dan bukan sekadar humor plesetan. (ken) Kopmas Kamis, 11 Januari 1996