Pagi ini saya mendapatkan pengalaman baru cara baca buku yang uuenak pool. Bagi teman-teman yang maniak baca mungkin pengalamanku ini sudah dilakukan lama. Sehingga tulisan ini biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, atau istilahnya para wartawan, tidak layak dimasukkan dalam kategori news. Tapi bagiku, orang yang hanya tergolong ala kadarnya saja dalam membaca, ini betul-betul momentum indah.

Begini, Sabtu pagi (7/6), setelah bangun tidur saya langsung baca buku yang ada di samping bantal. Saya belum ngapa-ngapain, belum beranjak dari tempat tidur, yang artinya belum kencing, belum cuci muka, belum gosok gigi, belum minum, pokoknya aktifitas yang lazim dilakukan setelah bangun tidur. Buku itu memang saya baca sebelum tidur. Di samping bantal ada 3 buku, Sakramen Politik, Tafsir Kebudayaan, dan biografi politnya Pak Idham Kholid. Saya memilih baca yang buku terakhir.

Sekali lagi, mungkin bagi Anda yang kutu buku, hal ini biasa aja. Tapi bagiku, emmm.. Ternyata, baca buku dalam keadaan ‘alami’ seperti itu nikmatnya bukan main. Tastenya terasa banget! Persis, sama nikmatnya baca buku tengah malam yang hujan deras, petir dan kilat menyambar-nyambar terlihat jelas dari jendela kaca, posisi tubuh terlentang di kasur empuk, dengan kepala disanggah tiga bantal yang juga empuk, dan dari ujung kaki hingga perut dibalut dengan selimut tebal dari bahan yang lembut dan halus, serta, jangan lupa, ada kopi yang bisa diraih dengan hanya menulurkan tangan, muka tak usah berpaling dari baris-baris kalimat.

Tapi memang, PW (posisi wuuenak) yang saya alami tadi pagi tak bisa bertahan lama. Setelah 20-an menit baca, saya kebelet kencing, kerongkongan dan bibir kering, dan tentu saja, saya baru sadar bau mulut sudah menyergap sejak saya bangun tadi.

Kalau Anda belum pernah mengalaminya, mungkin bisa dicoba. Hari-hari weekend mungkin adalah waktu yang tepat untuk melakukannya, hari-hari yang “tidak wajib” untuk sembahyang subuh, hari-hari yang tidak ditunggu oleh rutinitas harian.