Sabtu siang (8/6) saya terkaget-kaget mendengar pernyataan seorang pemimpin perguruan tinggi Islam beken di Jakarta. Tidak usah saya sembunyikan namanya, ia Prof. Dr. Komarudin Hidayat, perguruan tinggi beken itu bernama UIN, Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah.

Kurang lebih, ia melontarkan statemen begini, “Mereka hanya belajar Islam di mushala.” Kalimat ini dilontarkan untuk mengutuk mereka (FPI) yang pada tanggal 1 Juni melakukan kekerasan di Silang Monas, Jakarta. Disiarkan di SCTV pada acara “Sigi”.

Saya termasuk dari orang yang diserang FPI di Silang Monas. Tapi, saya tersinggung berat dengan pernyataan intelektual yang sehari-hari berdasi itu. Bagi saya, kualitas pernyataan Komeng –begitu mahasiswa UIN Jakarta memenggilnya- sama buruknya dengan kekerasan yang dilakukan FPI minggu siang di Monas. Bagi saya, dan saya kira bagi orang-orang yang sadar sejarah perkembangan Islam di Indonesia, ini kekerasan intelektual. Kenapa pasal?

Pasalnya, pernyataan Komeng itu tidak hanya over generalisir, tapi juga melupakan peran kebudayaan mushala di Nusantara ini. Saya paham, mungkin dia emosi dengan tingkah polah FPI selama ini. Tapi seemosi apapun di pada FPI (saya mungkin lebih emosi ketimbang Komeng, karena saya adalah korban fasisme FPI), tidak boleh kehilangan akal budi, apalagi seorang rektor.

Bagi saya, mushala adalah pusat gerakan kebudayaan Islam Indonesia hingga kini. Mushala adalah fondasi Islam Indonesia. Ribuan atau bahkan jutaan intelektual Indonesia digembleng pertama kali di mushala. Sebelum ada IAIN atau UIN, mushala sudah eksis selama berabad-abad.

Pengalaman pribadi saya, belajar di mushala lebih mengesankan, lebih indah, dan banyak hikmahnya ketimbang saya belajar di Fak. Syari’ah UIN Jogjakarta. Bukan saja di sana saya lebih lama dan lebih cair (dan menyatu dengan alam sekitar) ketimbang di lorong-lorong kampus kaku. Bukan saja di sana saya bisa membaca Al-Qur’an dengan tartil, belajar wudhu, sembahyang dan sederer pelajaran fiqh, mengerti tata bahasa Arab (saya khatam kitab Jurmiyah di dan hafal kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyah) latihan khithabah, dll. Tapi, di sana, di mushala, di surau, di tajug, di masjid, di sigit, saya dan jutaan muslim-muslimah Indonesia juga digembleng roso kemanungsan yang hakiki dan praktis (ilmu hal).

Di sana juga, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Wahid Hasyim, Kiai Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusomo, Kiai Wahid Hasyim, Kiai Fatah Yasin, Kiai Abbas Buntet, Kiai Satori Arjawinangun, Abdul Halim Leumunding, dan para kiai seangkatannya, meniupkan rasa cinta kepada negara, rasa hina menjadi inlender dan menggerakkan “kami” (kaum santri) menjadi “Kita” (Indonesia yang Bhineka). Kedaulatan, muru’ah, harga diri bangsa, dirancang dan digerakkan di mushala. Di atas tikar yang lusuh mereka mengubah solidaritas komunal menjadi solidaritas nasional.

Hingga hari ini, dengan segala kekurangan dan kelemahannya, mushala masih menjadi pusat kebudayaan dan peradaban Islam Indonesia. Mushala adalah citra rasa Islam Indonesia. Di tempat sederhana itu, kapitalisasi pendidikan di tentang, suara yang tidak terdengar dari pusat perguruan modern seperti IAIN/UIN dan lainnya. Tentu saja, pernyataan ini tidak sedang menutup mata bahwa sekarang terjadi disfungsi di banyak mushala, dan tidak sedang menutup mata pula bahwa perguruan modern seperti IAIN/UIN menjadi angin segar bagi mendidikan satu model baru di negeri ini.

Begitu Pak Rektor. Kenapa mushala yang dikutuk?